Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
(Masih) Berharap


__ADS_3

Rupanya kedua perempuan yang tadi mengobrol itu merasa jika sebuah mobil tengah mengikuti mereka. Salah satu dari mereka pun lantas memberanikan diri untuk menegur Fabian.


"Berhenti!" serunya sembari melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Fabian menepikan mobilnya.


"Ada apa, Bu? Kenapa Ibu tiba-tiba menghentikan mobil saya?" tanyanya.


"Bapak ini sengaja mengikuti kami 'kan?"


"Ti-ti-tidak, Bu. Kebetulan tempat tujuan saya ke arah sana."


"Memangnya Bapak mau kemana?" 


"Ehm, sebenarnya saya sedang mencari penjahit."


"Begitu ya. Maaf, kalau kami sudah berprasangka buruk pada Bapak. Kami pikir Bapak berniat jahat pada kami."


"Kebetulan kami juga berniat mendatangi rumah tukang jahit baru di sekitar sini. Saya dengar jahitannya rapi, dia juga tidak memasang tarif khusus bagi pelanggannya."


"Apa rumahnya masih jauh, Bu?" tanya Fabian.


"Kira-kira 500 meter lagi," jawab salah satu perempuan.


"Biar lebih cepat sampai, bagaimana kalau Ibu naik mobil saya saja?"


Kedua perempuan itu saling bersitatap.


"Tidak usah, Pak. Kita jalan kaki saja. Rumahnya sudah dekat kok."


"Benar, Pak. Bapak ikuti kami saja dari belakang."


Fabian pun akhirnya memilih mengikuti keduanya dengan mobil miliknya.


Tak sampai sepuluh menit kedua perempuan itu menghentikan langkahnya di depan sebuah tempat kost. Persis di dekat pintu gerbang terpasang spanduk bertuliskan "Azzura Taylor".


"Kita sudah sampai, Pak. Apa Bapak tidak mau turun?" ucap salah satu perempuan.


"Ehm, di sini rumah penjahitnya?"


"Benar, Pak. Lihat saja tuh ada spanduk nya "Azzura Taylor"


Fabian mengamati tempat kost itu tanpa beranjak dari kursi kemudi. Tentu saja dia ingin memastikan pemilik tempat usaha itu bukanlah Azzura yang ia kenal.


"Mari masuk, Pak," ucap salah satu perempuan.


"Ibu-ibu duluan saja. Saya masih harus menelpon seseorang." 


Fabian mengeluarkan ponselnya lalu berpura-pura menelpon seseorang.


Akhirnya keduanya pun masuk lebih dulu ke dalam tempat kost tersebut. Sementara Fabian masih belum beranjak dari bangku kemudinya itu pandangannya masih tak beralih dari kamar Azzura.


"Assalamu'alaikum, Bu," sapa salah satu perempuan.


"Waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Sabrina. Ia terlihat tengah menggendong cucu semata wayangnya, Lyra.

__ADS_1


"Mbak Zura di mana ya? Kami ingin menjahit baju."


"Maaf, Ibu-ibu. Kebetulan putri saya sedang ke toko. Ada perlengkapan menjahit yang harus dibeli," jelas Sabrina.


"Masih lama ya, Bu?" 


"Perginya belum lama, Bu. Baru sekitar lima belas menit yang lalu. Kalau Ibu-ibu ingin menjahit baju pada Azzura, sebaiknya kembali ke sini saja siang nanti."


"Tapi rumah kami jauh, Bu."


"Saya minta maaf, Bu. Saya tidak paham dengan urusan menjahit."


"Ya sudah, kami kembali kesini nanti siang saja."


"Baik, Bu." 


Tiba-tiba pandangan Sabrina tertuju pada pintu gerbang. Dari pintu besi itu dia bisa melihat keberadaan mobil berwarna hitam di luar sana. 


"Maaf, itu mobil siapa?" tanyanya.


"Kami tidak tahu, Bu. Pemilik mobil itu mengatakan jika dia sedang mencari penjahit. Itulah sebabnya kami mengajaknya ke tempat ini. Tapi dia menolak saat kami ajak masuk ke sini karena masih harus menelepon seseorang."


Entah mengapa kalimat yang terlontar dari mulut salah satu perempuan itu membuatnya penasaran sekaligus curiga.


"Kalau saya boleh tahu, bagaimana ciri-ciri pemilik mobil itu?" tanya Sabrina.


Kedua perempuan itu saling memandang sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Ehm, menurut saya wajahnya cukup tampan. Usianya mungkin tiga puluhan."


"Benar, Bu. Ada tahi lalat di dekat bibirnya."


"Tidak salah lagi. Pria yang mereka maksud pasti Fabian," gumam Sabrina.


"Ya sudah, Bu. Kami permisi."


"Saya minta maaf ya, Bu."


"Tidak apa, Bu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Keduanya pun lantas meninggalkan tempat kost itu. Tapi tidak dengan Fabian. Mobilnya tak sedikit pun bergeser dari tempatnya.


"Sudah selesai menjahit bajunya, Bu?" tanya Fabian.


"Belum, Pak. Mbak Zura tidak ada di rumah. Dia sedang membeli perlengkapan menjahit. Kami harus kembali lagi nanti siang."


"Ya sudah, kami permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Fabian tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang memanggil namanya dengan suara lantang.

__ADS_1


"Fabian! Kamu mau apa ke sini! Apa belum cukup penderitaan yang kamu berikan untuk Azzura 'hah?"


"I-I-I-bu?"


"Jangan pernah lagi memanggilku ibu. Aku tidak sudi punya menantu sepertimu!" Sabrina meninggikan suaranya.


"Tapi, Bu, …"


"Sudah kubilang. Jangan pernah lagi memanggilku ibu! Hubungan kita sudah putus sejak Zura memutuskan berpisah denganmu!"


"Aku tidak pernah sekalipun menginginkan perpisahan ini, Bu. Aku masih begitu mencintai Azzurra."


"Omong kosong! Cinta macam apa yang tega menikah lagi tanpa izin dan sepengetahuan istri pertama?"


"Masalahnya tidak sesederhana yang Ibu pikir. Aku menikah lagi bukan karena nafsu semata. Akan tetapi, …"


"Perse*an dengan alasan yang kamu buat. Aku tidak percaya lagi dengan ucapan apapun yang keluar dari mulutmu! Cepat kamu tinggalkan tempat ini sebelum semua penghuni tempat kost ini tahu siapa kamu sebenarnya!"


"Ehm, sebenarnya aku tidak tahu jika Azzura tinggal di tempat kost ini. Aku hanya …"


"Oh, jadi kamu berniat memata-matai Zura? Kamu ingin memastikan hidup Zura sudah hancur. Begitu 'bukan?"


"Bukan begitu, Bu. Sebenarnya aku mencari Zura karena ada hal penting yang harus kusampaikan."


"Setelah apa yang kamu lakukan pada putriku, masih berani rupanya mencari keberadaannya. Apa kamu ingin mengajaknya rujuk kembali? Jika memang itu maumu, aku pastikan aku akan menjadi orang pertama yang menghalanginya."


"Bukan begitu, Bu. Tujuanku mencari keberadaan Zura adalah aku ingin menyampaikan sebuah kabar yang kurang baik."


"Sudahlah, tinggalkan tempat ini sekarang. Aku tidak mau mau membuang waktu untuk membahas hal yang tidak penting."


"Dengarkan aku dulu, Bu. Azzura harus tahu jika ibuku sedang sakit. Sepanjang malam beliau menangis sambil memanggil nama Zura dan Lyra. "Sepertinya ibu begitu merindukan mereka. 


"Lantas?"


"Aku berharap Zura datang sebentar saja untuk menemui ibu. Sepertinya hanya cara itu yang bisa membuat keadaan ibu sedikit lebih baik."


Sabrina tersenyum hambar.


"Tunggu. Bukannya kamu punya istri muda ya? Kenapa kamu masih saja berharap Zura merawat ibumu? Istri mudamu itulah yang seharusnya merawat ibu mertuanya. Bukannya kamu malah mencari-cari Azzura."


"Ibuku hanya mau bertemu Azzura, Bu. Aku tidak memintanya untuk merawat beliau," bantah Fabian.


"Tidak! Aku tidak akan mengizinkan putriku menginjakkan kaki di rumahmu lagi. Meskipun sekarang bukan lagi orang berada, putriku masih punya harga diri!"


"Aku mengerti, Bu. Aku mencari Zura semata-mata hanya untuk ibuku. Aku tidak tega mendengar beliau menangis sepanjang malam sambil memanggil nama Zura dan Lyra," ujar Fabian.


"Kamu mau memohon atau mengemis sekalipun, aku tidak akan mengizinkan putriku menemui ibumu!" seru Sabrina. 


"Aku akan menunggu Zura datang dan berbicara sendiri padanya. Aku yakin dia masih peduli pada ibuku."


"Kamu ini keras kepala sekali ya. Baiklah, jika kamu tidak bisa diusir dengan cara halus. Terpaksa aku harus menggunakan cara kasar. Pencuri! Tolong! Pencuri!" teriak Sabrina yang sontak membuat Fabian panik.


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2