
Aku sampai di rumah saat jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, bersamaan dengan jam Lyra pulang sekolah.
"Lyra Sayang, cepat ganti baju, lalu ikut ibu," ucapku.
"Kita mau ke mana, Bu?" tanyanya.
"Ibu mau mengajak Lyra dan nenek ke rumah paman Darren."
"Hole! Ke lumah Anisa!" soraknya.
Sementara Lyra dan ibu bersiap, aku ke ruang dapur menghias kue bolu.
Sekitar 20 menit kemudian kami pun siap berangkat ke rumah kakak laki-lakiku itu dengan membawa oleh-oleh satu box kue bolu berukuran besar buatan tanganku sendiri tentunya.
"Tadi aku bertemu Kak Maureen di supermarket, Bu," ucapku pada ibu saat di perjalanan.
"Apa dia berulah lagi?"
Aku membuang nafas.
"Kak Maureen belanja terlalu banyak sehingga kartu kreditnya mencapai limit, jadi aku yang membayar kekurangannya."
"Harusnya kamu biarkan saja kakakmu yang angkuh dan sok kaya itu," sungut ibu.
"Mana bisa begitu, Bu. Aku kasihan kalau Kak Maureen dipermalukan di tempat umum begitu."
"Kenapa kamu harus kasihan? Memangnya dia kasihan sama kamu?"
Aku mengulas senyum.
"Kalau aku membalas perlakuannya, berarti aku sama saja dengannya 'bukan?"
"Terserah kamu saja lah."
"Ehm … Bu. Aku berencana untuk membuka toko kue, bagaimana menurut Ibu?"
"Menurut ibu kue buatanmu memang lezat. Kalau kamu memang ingin membuka toko kue pasti ibu dukung. Ibu juga tidak keberatan jika ibu harus menjaga toko kue nya."
"Mana mungkin aku meminta ibu untuk menjaga toko kue. Aku pasti akan mencari karyawan baru untuk menjadi penjaga toko."
"Ya sudah terserah kamu saja."
Sekitar 20 menit kemudian kami tiba di rumah kak Darren.
Jangan ditanya lagi ekspresi kegembiraan puteri semata wayang Kak Darren dan Fatimah, Anisa saat bertemu dengan saudara sepupunya, Lyra.
"Lyla, Aku punya boneka baru ayo kita main di kamar. Kemarin ayahku juga membelikanku pensil walna baru. Nanti kita menggambal sama-sama," ucap gadis kecil berusia 3 tahun itu sembari menggandeng tangan Lyra lalu mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
"Aku lihat mobil kak Darren ada di halaman rumah, apa hari ini dia libur mengajar?" tanyaku sesaat setelah Fatimah mempersilahkan kami duduk di sofa ruang tamu.
"Hari ini Mas Darren tidak berangkat ke kampus karena sakit."
"Sakit? Sejak kapan?" tanyaku lagi.
"Pagi tadi bangun tidur badannya panas."
"Apa kamu sudah membawanya berobat?"
Fatimah menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah capek membujuknya, Ra. Dia selalu beralasan takut dengan jarum suntik."
"Apa? Kak Darren takut jarum suntik? Masa kalah sama Lyra. Lyra saja berani kok disuntik vaksin di sekolahnya kemarin." Aku terkekeh.
"Dari dulu kakakmu itu memang takut jarum suntik. Makanya kalau dia sakit hanya ibu kompres saja dengan air hangat," ucap ibu.
Kak Darren selalu mengatakan ibu tak pernah peduli padanya, tapi nyatanya saat dia sakit ibu masih mau merawatnya.
"Di mana Kak Darren sekarang? Apa aku boleh menjenguknya?" tanyaku.
"Dia berada di kamar, mari kuantar."
Fatimah melangkahkan kakinya menuju kamar utama, sementara aku dan ibu mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," sapaku saat aku memasuki kamarnya.
"Waalaikumsalam. Zura? Ibu? Kalian?"
Kak Darren terlihat kaget melihat kemunculan kami di kamarnya. Pun aku dapat melihat binar di sorot matanya.
"Kakak kenapa?" tanyaku.
"Entahlah, rasanya badanku panas dingin, kepalaku juga pusing sekali."
"Sudah tahu sakit, kenapa kamu menolak saat istrimu mengajakmu berobat?" cecar ibu.
"Aku takut jarum suntik, Bu."
"Kamu kan bisa minta sama dokternya untuk tidak disuntik."
"Lagipula sudah tua begini takut sama jarum suntik. Apa tidak malu sama Anisa dan Lyra?" ucap ibu lagi.
"Oh ya, aku hampir lupa. Aku membuat kue bolu untuk kalian. Sepertinya aku meninggalkannya di mobil."
Aku beranjak dari kamar Kak Darren lalu menuju mobilku yang terparkir di halaman rumah.
"Pak Amin masuk ke dalam saja, yuk," ucapku.
"Nggak usah Bu, saya menunggu di mobil saja."
"Tapi sepertinya kami lama loh, Pak. Daripada bosan, Pak Amin ikut saja masuk ke dalam rumah."
Pak Amin tampak berpikir sejenak sebelum dia memberi jawaban.
"Saya takut merepotkan Bu."
Aku mengulas senyum.
"Apanya yang merepotkan, Pak?
Rumah ini milik kak Darren, kakak kandung saya."
"Ya sudah kalau begitu saya ikut masuk."
"Pak Amin tunggu di sini dulu ya."
Aku beranjak dari ruang tamu lalu kembali ke dalam kamar Fatimah.
"Semoga setelah memakan kue bolu ini Kak Darren bisa cepat sembuh," ucapku seraya menyodorkan kotak berisi kue bolu itu pada Kak Darren.
"Aku berada di sini seperti orang yang sakit parah saja. Nduk, kamu potong kue ini lalu bawa ke ruang tamu," titahnya pada Fatimah.
"Memangnya Kakak kuat berdiri?"
"Aku kan hanya demam, bukan lumpuh," kelakarnya.
Aku pun memapah kakak laki-lakiku itu lalu membawanya menuju ruang tamu.
"Eh ada Pak Amin rupanya."
"Pak Darren sehat?" tanya Pak Amin.
"Alhamdulillah ini lagi kurang sehat."
"Di musim yang cuacanya tidak menentu begini Bapak harus bisa menjaga kesehatan. Bapak jangan menyepelekan makan dan jangan terlalu memforsir pekerjaan."
"Ucapan Pak Amin ini sudah seperti dokter spesialis saja," ucap kak Darren yang disambut gelak tawa dari semua yang berada di ruangan itu.
Tidak berselang lama Fatimah keluar dari arah dapur dengan membawa nampan berisikan 5 cangkir teh hangat serta kue bolu yang sudah dipotong-potong.
"Dari warnanya saja sudah menggoda selera," ucap kak Darren. Ya pun lantas mengambil sepotong kue bolu itu lalu menggigitnya.
"Kue buatanmu memang enak, Ra. Kenapa kamu tidak buka kue saja?"
"Kakak adalah orang kedua setelah bi Ami yang memberi saran untuk membuka kue."
"Oh ya, sepertinya ada ruko kosong di dekat kampus tempatku mengajar. Aku yakin jika kamu membuka toko kue di sana akan laku keras," ucap kak Darren.
__ADS_1
"Iya, Ra. Kue buatanmu ini memang enak pasti disukai banyak orang," puji Fatimah.
"Jika kamu berminat aku akan mencari info pemilik ruko itu, nanti kamu bisa menghubunginya langsung," ucap kak Darren. Aku mengangguk setuju.
"Silahkan diminum dulu teh nya," ucap Fatimah.
Kami bertiga pun lantas meraih cangkir masing-masing dan meneguknya.
"Sebenarnya maksud kedatangan kami kesini, selain untuk berkunjung kami juga ingin menyampaikan hal yang penting pada kalian," ucapku.
"Hal penting Apa, Ra?" tanya kak Darren penasaran.
"Adikmu ini baru dilamar," jawab ibu.
"Dilamar? Sungguh?" tanya sepasang suami istri itu setengah tak percaya.
"Benar, Kak … Fat. Beberapa hari yang lalu aku baru saja dilamar."
"Siapa yang melamarmu? Apa laki-laki bernama Gibran yang pernah kamu ceritakan itu?" tanya Fatimah.
Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban.
"Mana lihat cincinmu."
Tiba-tiba saja Fatimah meraih tangan kiriku lalu mengamati cincin berlian yang melingkar di jari manisku.
"Ckckckck … laki-laki ini pasti bukan laki-laki yang sembarangan. Aku tahu harga cincin ini seharga satu unit mobil baru," ucapnya.
"Yang terpenting bagiku bukan cincinnya, tapi keseriusannya untuk menikahiku," ujarku.
"Kalau dari ceritamu Gibran itu laki-laki yang baik dan perhatian. Dia juga mau menerima kamu apa adanya, juga Lyra. Insya Allah dia akan menjadi imam yang baik untukmu," ucap Fatimah.
"Aamiin."
Tidak berselang lama Lyra dan Anisa keluar dari kamar.
"Bu, Anisa bosan main di dalam kamal. Kami ingin main masak-masakan di telas rumah," ucap Anisa.
"Boleh, tapi ingat, hanya di teras saja, jangan kemana-mana," ucap Fatimah.
Gadis kecil berambut pendek itu mengangguk paham.
"Itu kue buatan Auntie Zula ya?" Tanya Anisa saat memandang kue bolu yang berada di atas meja.
"Iya, sayang itu kue buatan Auntie," jawabku.
Anisa pun lantas mengambil beberapa potong kue hingga tangan kecilnya kewalahan membawanya. Dengan tidak sabar dia lalu memasukkan sepotong kue dalam mulutnya.
"Ya Allah, Nak. Ambil satu atau dua potong saja, nanti kalau habis kamu boleh ambil lagi," ucap Fatimah.
"Nanti kuenya dihabiskan Ayah," ucapnya dengan mulut penuh dengan kue.
"Kuenya banyak kok Sayang, ayahmu tidak akan sanggup menghabiskannya,"ucapku.
"Ya sudah kami main di lual dulu ya."
Anisa dan Lyra pun beranjak dari ruang tamu lalu menuju teras rumah.
"Jadi kapan rencana pernikahan kamu dan Gibran, Ra?" tanya Fatimah.
"Insya Allah bulan depan."
"Apa kamu mau mengundang Maureen?" tanya Fatimah lagi.
Sungguh, aku bingung memberi jawaban atas pertanyaan itu. Apakah aku harus mengundangnya atau tidak di acara pernikahanku dengan Gibran nanti.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰