Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Meragukan


__ADS_3

"Kenapa Bapak kaget begitu. Bukan hal tabu lagi suami punya istri lebih dari satu. Apalagi pria tampan dan mapan seperti Bapak. Yang terpenting kebutuhan mereka dipenuhi. Saya tidak keberatan jika harus menjadi yang ke dua," ujar Nesya.


"Jangan dulu bicara ke arah sana. Yang penting kita jaga hubungan kita ini, jangan sampai tercium orang di luar sana," ucap Fabian.


"Bapak pernah dengar nggak, istilah serapat- rapat nya menyimpan bangkai akan tercium baunya? Cepat atau lambat orang pasti tahu tentang hubungan kita."


"Seperti yang sudah saya bilang tadi, kita harus pintar-pintar menjaga hubungan kita. Sudah, saya ke line dulu."


"Terima kasih ya, Pak," ucap Nesya.


Fabian menanggapinya dengan senyum tipis di bibir. Sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.


"Aku cari-cari rupanya Mas di sini."


Raut wajah Fabian berubah panik saat tiba-tiba Maureen tiba-tiba saja muncul di depan ruangan Nesya.


"K-k-kamu kesini kok nggak bilang-bilang."


"Loh, kenapa aku harus bilang-bilang. Aku 'kan istri pemiliknya. Aku bisa datang ke sini kapan saja."


"I-i-iya." Fabian merangkul pundak Maureen lalu mengajaknya berlalu dari tempat itu. Tentu saja perlakuan itu membuat Nesya memberengutkan wajahnya.


"Kamu nggak ke toko kue?" tanya Fabian.


"Aku sedang malas. Hari ini aku sedang ingin berduaan dengan Mas."


"Kenapa kamu aneh begini?"


"Aneh? Memangnya salah kalau aku ingin dekat-dekat dengan suami sendiri?"


"Bukan begitu. Hanya saja sikapmu lain dari biasanya."


"Memangnya Mas lupa hari ini hari apa?"


"Hari Rabu 'bukan?"


"Bukan itu maksudku."


"Lantas?"


"Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke delapan."


"Oh, begitu ya. Maaf, aku lupa."


"Ehm … Mas, bagaimana jika sesekali kita merayakan hari ulang tahun pernikahan kita. Tidak perlu berlebihan kok. Aku ingin kita bulan madu ke pulau Dewata. Siapa tahu setelah pulang dari sana aku bawa oleh-oleh di dalam perutku," ucap Maureen.


"Ehm … banyak yang harus kita persiapkan jika ingin liburan. Kamu 'kan tahu, aku sibuk di konveksi."


"Masalahnya hanya di tiket 'bukan? Tidak usah bingung. Aku hanya tinggal memesan melalui aplikasi. Kita tidak perlu keluar rumah."


"Ehm … kita tidak mungkin di sana hanya sehari. Bagaimana dengan konveksi ini? Siapa yang akan menghandle nya?"


"Pasrahkan saja pada kepala produksi. Paling lama kita hanya 5 hari di sana."


"Aku tidak bisa mempercayakan konveksi ini begitu saja pada orang lain."


Maureen mendengus kesal.

__ADS_1


"Bilang saja Mas tidak ingin merayakan hari ulang tahun pernikahan kita."


"Bukan begitu. Aku hanya, …"


"Lebih baik aku ke salon saja memanjakan diri," ucap Maureen seraya berlalu dari hadapan Fabian.


"Dasar keras kepala! Buat apa menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting begitu," gumam Fabian.


"Pak Fabian, ada tamu ingin bertemu Bapak," ucap security yang muncul dari arah depan.


"Baik."


Fabian pun lantas melangkahkan kakinya menuju ruang penerimaan tamu. Tampak seorang pria mengenakan setelan jas duduk di sofa.


"Selamat siang, Pak Fabian," sapanya seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Selamat siang. Maaf, Bapak siapa, dan ada perlu apa menemui saya?" tanya Fabian.


"Perkenalkan, nama saya Daniel. Saya adalah pengusaha yang bergerak di bidang ekspor-impor pakaian. Maksud kedatangan saya kemari untuk mengajak Bapak bekerja sama."


"Kerja sama?"


"Ya, saya ingin membantu Bapak agar produk-produk di konveksi ini bisa lebih dikenal luas bahkan sampai ke luar negeri. Harga satu potong produk di sini bisa menjadi sepuluh kali lipat di luar negeri. Tentu saja keuntungan yang akan Bapak dapatkan akan jauh lebih besar," papar pak Daniel.


Fabian terdiam sejenak, ia lantas berpikir


"Tawaran ini boleh juga. Aku pasti akan menjadi lebih kaya jika produk konveksi ku dikenal hingga ke luar negeri," gumamnya.


"Bagaimana, Pak Fabian, apa anda tertarik dengan tawaran saya?"


"Ya, saya tertarik, Pak. Apa yang harus saya lakukan?"


"Ehm … ya. Saya setuju. Hari ini juga kami akan memulai proses produksi."


"Ini uang tanda jadi kerjasama kita. Nanti setelah produk konveksi Bapak sampai di luar negeri, saya jamin uang yang akan Bapak terima akan berkali lipat jumlahnya." Pak Daniel mengambil sebuah amplop berwarna cokelat lalu meletakkannya di atas meja. Fabian pun lantas mengambil amplop tersebut kemudian mengintip isi di dalamnya.


"Terima kasih, Pak," ucap Fabian.


"Sama-sama. Bapak memberi kabar jika produksi sudah selesai," ucap pak Daniel.


"Baik, Pak."


"Saya permisi dulu, selamat siang."


"Selamat siang."


Fabian beranjak dari ruang penerimaan tamu lalu menuju ruang produksi.


"Benny!" panggilnya pada salah satu karyawan yang ditunjuk sebagai kepala produksi.


Laki-laki yang dipanggil Benny itu pun bergegas menghampiri Fabian.


"Ya, ada apa, Pak?" tanyanya.


"Kamu ke ruangan saya sekarang."


Fabian berjalan menuju ruangannya, sementara Benny mengekor.

__ADS_1


"Kita dapat orderan besar."


"Kalau boleh tahu orderan dari mana, Pak?" tanyanya lagi.


"Pak Daniel."


"Apa dia pemilik toko pakaian?"


"Bukan."


"Lantas?"


"Pak Daniel adalah pengusaha ekspor pakaian. Beliau menawarkan kerjasama dengan konveksi ini dengan meminta kita memproduksi pakaian sebanyak 2000 pcs."


"Astaga. Itu banyak sekali, Pak. Apa Bapak menerima tawaran kerjasama itu?"


"Kenapa tidak. Konveksi saya akan mendapatkan keuntungan yang besar jika saya menjalin bekerjasama dengannya. Apalagi dia sudah memberikan uang muka sebesar 10 juta untuk kita."


"Lalu, bagaimana dengan sisa pembayarannya?"


"Pak Daniel akan membayarkan sisanya setelah seluruh pakaian itu terjual dengan pembagian keuntungan 70%: 30."


"Uang yang sudah Bapak terima itu hanya beberapa persen saja dari jumlah keseluruhan 2000 potong pakaian yang diminta pak Daniel. Bagaimana jika pak Daniel hanya berniat menipu kita? Dia sengaja melempar umpan ikan kecil untuk mendapatkan ikan yang lebih besar."


"Brak!" Fabian menggebrak meja hingga membuat Benny berjingkat.


"Jangan sok pintar kamu! Tahu apa kamu tentang bisnis?! Lakukan saja apa perintahku!" sentak Fabian.


"Sa-sa-ya hanya mengingatkan saja, Pak. Bisnis ini terlalu besar resikonya. Lebih baik Bapak pikirkan kembali rencana kerjasama dengan pak Daniel ini," ujar Benny.


"Yang bos di sini itu siapa, saya atau


kamu?!"


"Ba-ba-Pak."


"Ya sudah, tugasmu hanya tinggal menurut perintah saya 'bukan? Bisnis ini sangat menguntungkan, kapan lagi kita akan mendapatkan tawaran ini? Bodoh sekali jika saya menolaknya."


"T-t-tapi, Tuan, …"


"Kamu masih ingin bekerja di sini?"


"Ma-ma-masih, Tuan."


"Ya sudah, sekarang juga mulai proses produksi."


Benny yang sebenarnya keberatan dengan rencana kerjasama itu akhirnya terpaksa menurut. Lagipula ia sadar posisinya di konveksi hanyalah sebagai karyawan biasa.


Apakah pak Daniel pengusaha yang jujur? Ataukah sebaliknya, rencana kerjasama itu hanyalah salah satu modus penipuan?


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2