
"Bercerai? Mudah sekali kamu mengucapkan kata yang dibenci Allah itu. Apa kamu lupa bagaimana kamu tergila-gila pada Mila hingga tak memperdulikan perasaanku?"
"Bukankah aku sudah bilang, aku menikahinya bukan karena cinta, tapi hanya karena wasiat dari almarhum suaminya yang meninggal dunia karena tidak sengaja tertabrak mobilku."
"Bukan karena cinta katamu? Kamu sendiri yang bilang jika kalian melakukan hubungan suami-istri sebelum menikah hingga membuatnya hamil 'bukan?"
"Waktu itu aku khilaf."
"Pikirkan sekali lagi rencanamu. Tidak baik meninggalkan pasangan di saat dia terpuruk," ujarku.
"Aku tidak tahan lagi dengan sikapnya. Dia begitu keras kepala dan sering mengambil keputusan tanpa persetujuan dariku."
"Kamu harus ingat, tidak ada satu pun manusia sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Allah."
Suasana hening sejenak.
"Oh ya. Aku tahu dari Mila kalau kamu menitipkan Rayyan pada seseorang yang tidak kamu kenal. Apa benar begitu?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Ya. Aku memang menitipkan Rayyan pada pengemudi taksi. Tapi, apa kamu tahu, aku melakukan hal ini karena kesalahanmu juga."
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku?"
"Kalau saja kamu ataupun bu Murni mau membantuku merawat Rayyan, aku tidak akan melakukan hal senekat ini."
"Sebaiknya kamu cari Rayyan. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," ucapku.
"Memangnya kamu mau membantuku merawat Rayyan?"
"Ya. Sekarang ada Fina di rumahku. Dia pasti bisa membantuku merawat Rayyan."
"Baiklah, kalau itu memang maumu. Aku akan secepatnya mencari Rayyan."
"Lantas, bagaimana dengan ibu? Di mana beliau sekarang?"
"Tidak ada pilihan selain menitipkannya ke panti jompo."
"Aku tidak habis pikir kenapa kamu mudah sekali menelantarkan keluargamu."
"Semua orang yang berada di posisi sepertiku, pasti akan melakukan hal yang sama," ujar Fabian.
"Itulah kamu. Seringkali mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Sama halnya nya saat dulu kamu menikahi Karmila secara diam-diam. Pada akhirnya kamu akan meninggalkannya."
"Aku tidak tahan lagi dengan sifatnya. Pembangkang, keras kepala, bahkan dia tega menukar- …" Fabian menggantung kalimatnya.
"Apa yang dia tukar?"
"Sudahlah, lupakan saja. Aku hanya tidak menyukai sifatnya yang tidak mau menurut apa kata suami."
"Kamu ingin berpisah dari Mila bukan karena ingin menikahi atasanmu yang bernama Silvia itu 'kan?"
"Tentu saja bukan."
Entah mengapa aku merasa Fabian menyembunyikan sesuatu dariku.
"Aku harap kamu pikirkan sekali lagi niatanmu itu. Jangan sampai kamu menyesal."
"Kita sudah hidup masing-masing. Tidak seharusnya kamu ikut campur masalah pribadiku."
"Aku tidak bermaksud ikut campur. Aku hanya mengingatkanmu saja."
"Sudahlah, aku enggan berdebat denganmu. Aku pulang sekarang. Jaga Lyra baik-baik."
"Tanpa kamu meminta pun, sudah pasti aku akan menjaganya dengan baik."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
Fabian baru saja beranjak dari teras, tak kuduga, tangis Lyra tiba-tiba pecah.
"A …yah. Lyla i-kut," ucapnya terbata.
"Kamu di sini saja sama ibu ya, Sayang. Ayah harus pergi bekerja," ucap Fabian.
"I-kut A-yah."
"Kapan-kapan ayah ke sini lagi."
Lyra menarik ujung pakaian Fabian seolah menahannya agar jangan pergi.
"Ayah pergi sekarang. Assalamu'alaikum."
Tangisan Lyra terdengar semakin nyaring saat Fabian beranjak dari teras. Namun, aku tidak mungkin membiarkannya pergi bersamanya. Akhirnya aku mengajak putri kecilku itu masuk ke dalam rumah.
"Maafkan ibu, Nak. Suatu saat nanti kamu akan mengerti," gumamku.
****
"Siapa laki-laki itu, Bu? Sepertinya dia baru saja menemui Ibu," tanya Fina saat ia kembali dari toko perlengkapan menjahit.
"Namanya Fabian. Dia adalah mantan suamiku, sekaligus ayahnya Lyra."
"Ayahnya Lyra tampan juga."
"Kamu masih kecil, jangan mikir macam-macam."
"Nggak kok Bu, saya hanya bercanda. Tapi pak Fabian memang ganteng, masa saya harus bilang jelek." Gadis berhijab itu terkekeh.
"Nasi kuningnya sudah matang, Bu?" tanya Fina lagi.
"Memangnya pak Fabian ada perlu apa datang menemui Ibu?"
"Mengirim hadiah untuk Lyra," ucapku sembari memandang ke arah sepeda yang berada di depan teras.
"Walaupun sudah berpisah, pak Fabian masih ingat hari ulang tahun Lyra. Jangan-jangan dia datang kesini memang ingin menemui Ibu," godanya.
"Kamu jangan bicara yang aneh-aneh," gerutuku sebal.
"Ya sudah kalau Ibu mau memasak, sini biar Lyra main sama aku." Fina mengambil alih Lyra dari gendonganku lalu mengajaknya keluar menuju teras.
Sungguh, aku begitu beruntung dipertemukan dengan gadis sebaik Fina. Selain rajin dan penurut, dia juga begitu menyayangi Lyra layaknya adik sendiri.
*****
Sore menjelang petang.
"Ada tamu yang mencari Ibu," ucap Fina saat aku melipat baju di dalam kamarku.
"Siapa?"
"Laki-laki dan perempuan. Mungkin mereka mau meminta Ibu menjahit baju."
Aku beranjak dari kamar dan bergegas menuju pintu depan. Tampak di hadapanku seorang laki-laki mengenakan kemeja berdasi, sementara perempuan yang berdiri di sampingnya mengenakan baju gamis dan hijab syar'i sama sepertiku.
"Assalamu'alaikum," sapa mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam."
"Dengan Mbak Azzura, ya?" tanya si perempuan dengan santun.
__ADS_1
"Benar, Mbak."
"Alhamdulillah, bisa bertemu orangnya langsung."
"Maaf, Mbak dan Mas ini ada perlu apa ya?"
"Perkenalkan nama saya Asha, dan ini calon suami saya, mas Keenan."
Laki-laki yang usianya mungkin tidak terpaut jauh dariku itu mengangguk hormat padaku.
"Saya sering mendengar hasil jahitan Mbak Zura rapi dan selalu memuaskan pelanggan. Itulah sebabnya saya datang kemari untuk meminta Mbak Zura menjahit baju pengantin kami," ungkap perempuan bernama Asha itu.
"Apa Mbak Zura bisa menjahit baju kebaya dan jas untuk baju pengantin kami?" Keenan menimpali.
"Untuk bahan, Mbak Zura saja yang memilih. Saya percaya Mbak Zura tahu bahan mana yang bagus untuk baju pengantin," ucap Asha lagi.
"Hmmm … kalau saya boleh tahu kapan
hari pernikahan kalian?" tanyaku.
"Insyaallah tanggal 20 bulan ini."
"Masih dua Minggu lagi ya? Insyaallah bisa," ucapku.
"Alhamdulillah."
"Ini kami bayar uang mukanya dulu." Keenan mengambil sebuah amplop berwarna cokelat dari dalam saku celananya lalu menyodorkannya padaku.
"Bayar nanti saja jika baju pengantinnya sudah selesai dijahit," ucapku.
"Tidak apa, Mbak. Mbak bisa menggunakan uang ini untuk membeli bahan-bahannya dulu. Kekurangan pembayarannya nanti akan saya bayarkan saat saya mengambil baju pesanan kami."
"Baik, terima kasih."
"Ini kartu nama saya. Mbak bisa menghubungi saya jika baju pengantin kami sudah siap," ucap Keenan. Aku mengangguk paham.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamu'alaikum," ucap Asha.
"Waalaikumsalam."
Kedua calon pengantin itu pun lantas meninggalkan tempat kost ku.
"Alhamdulillah, ada pesanan lagi," ucap Fina sesaat setelah mereka berlalu.
"Iya, Alhamdulillah. Rezeki untuk kita bertiga," ujarku.
Aku pun membuka amplop berwarna cokelat itu. Masyaallah. Apa ini tidak salah?
"Kenapa, Bu?" tanya Fina saat mendapati raut wajahku yang kebingungan.
"Uang ini banyak sekali. Pasti laki-laki itu salah memberikan amplop," ucapku.
"Ya sudah, Ibu tanya lagi pada mereka mumpung mereka belum pergi," ucap Fina.
Aku bergegas keluar dari ruang tamu dan berjalan menuju teras.
"Mas Keenan! Mbak Asha! Tunggu!" teriakku.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…