Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sesulit inikah?


__ADS_3

Aku cukup kaget saat memandang wajah pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini. Lyra terlihat nyaman dalam gendongannya. 


"Arya…? Bagaimana aku bisa berada di sini?" tanyaku.


Aku mencoba beranjak dari tempat tidurku, namun semua benda yang berada di sekitarku terasa berputar hingga aku kembali terjatuh di atas ranjang.


"Jangan banyak bergerak dulu," ucapnya.


"Arya? Bagaimana aku bisa berada di rumahmu?" tanyaku.


"Tadi kamu menelponku. Tapi, saat kujawab aku justru mendengar suara gaduh. Aku merasa sesuatu terjadi padamu. Aku melacak keberadaan ponselmu hingga akhirnya aku menangkap sinyal dari ponselmu di jalanan yang cukup sepi. Aku menemukanmu pingsan di pinggir jalan."


"Terima kasih, Rabb ku. Engkau menyelamatkanku dari pria bia*ab itu,' gumamku dalam hati.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa pingsan di pinggir jalan itu? Lalu di mana ponselmu?" tanya Arya yang pernah menjadi rekan kerjaku di tempat hiburan malam itu.


"Pengemudi taksi yang tadi kutumpangi ternyata berniat jahat padaku. Dia-dia berusaha bertindak tidak senonoh padaku. Aku berusaha menelpon siapapun yang bisa menolongku. Namun, pengemudi taksi itu merebut paksa ponselku dan melemparnya begitu saja. Mungkin ponselku tidak sengaja menelpon nomormu."


"Lantas, apa yang telah dilakukan pengemudi taksi itu padamu? Apa dia sudah berbuat macam-macam padamu?" tanya duda beranak dua itu.


"Alhamdulillah, setelah perlawanan yang cukup sengit, aku berhasil melepaskan diri dari pria bia*ab itu. Aku sempat berlari meninggalkan tempat itu namun sepertinya aku sudah kehabisan tenaga hingga aku tidak ingat apapun lagi setelahnya."


"Aku menemukanmu pingsan di pinggir jalan. Mungkin pengemudi taksi itu cepat-cepat pergi setelah melihat kedatanganku," ucap Arya.


"Alhamdulillah, Allah memberikan pertolongan di saat yang tepat. Kalau saja kamu tidak datang, entah bagaimana nasibku," ujarku.


"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja."


"Di mana Maurreen? Bukankah tadi dia habis berobat?" tanyaku.


"Maureen baru saja minum obat. Sekarang dia dan adiknya sedang tidur siang di kamar ditemani ibuku," jawab Arya.


"Maureen baik-baik saja 'bukan?"


"Alhamdulillah, hanya demam biasa. Semoga setelah minum obat dan tidur siang, panasnya turun."


"Alhamdulillah, Nak Zura sudah bangun," ucap seseorang yang baru saja memasuki ruangan ini. Dari perawakannya, beliau pasti ibu kandung Arya.


"Teh hangatnya diminum dulu, Nak," ucapnya sembari menyodorkan segelas teh hangat untukku.


"Maaf, Bu, merepotkan," ucapku.


"Nggak kok, Nak. Sebagai manusia kita harus saling membantu 'bukan?"


Aku tersenyum simpul menanggapi ucapan tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pamit dulu. Terima kasih atas kebaikan kalian. Semoga Allah membalasnya," ujarku sembari beranjak dari tempat tidur.


Tiba-tiba perempuan paruh baya itu mengamatil penampilanku. Hijabku yang robek, dan beberapa bagian pakaianku pun terkoyak. Pastilah membuat siapapun kurang nyaman memandangnya.


"Kamu ganti pakaian dan hijabmu dengan pakaian ibu ya, Nak," ucapnya.


"Ti-ti-tidak usah, Bu…ehm, …"


"Nama ibu Sakinah. Baju dan hijab kamu robek begitu. Nanti orang yang melihatmu akan berpikir macam-macam."


"T-t-tapi, …"


"Tunggu sebentar, ibu ambilkan bajunya."


Perempuan bernama Sakinah itu berlalu dari hadapanku. Tidak berselang lama beliau kembali dengan membawa sepotong gamis dan hijab berwarna senada.


"Kamu ganti baju dulu, Sepertinya baju ini pas untukmu."


"Lain kali hati-hati kalau naik taksi, Nak," ucap ibu Sakinah sesaat setelah aku menukar pakaianku dengan pakaian miliknya.


"Baik, Bu. Saya akan menjadikan peristiwa ini menjadi pengalaman yang berharga," ujarku.


"Nak Zura tinggal di mana?" tanya ibu Sakinah.


"Di tempat kost putri tidak jauh dari pabrik konveksi," jawabku.


"Ehm, di…di luar kota, Bu," jawabku.


Beliau pun mengangguk paham.


"Astaghfirullah!"


Aku tersentak kaget saat memandang jam dinding yang berada di dalam ruangan itu.


"Kenapa, Nak?"


"Maaf, Arya, Bu. Saya harus pulang sekarang. Ibu saya pasti sudah cemas menunggu saya," ucapku.


"Biar Arya yang antar," ucap bu Sakinah.


"Tidak usah, Bu. Saya naik taksi saja."


"Hati-hati," timpal Arya sembari memindahkan Lyra dari gendongannya lalu memberikannya padaku.


"Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


****


Setibanya di tempat kost.


Kulihat dua orang pelanggan baruku tengah mengobrol dengan ibu. Untung saja jahitan mereka sudah selesai pagi tadi sebelum aku pergi ke klinik.


"Assalamu'alaikum, Ibu-ibu," sapaku.


"Waalaikumsalam."


"Bagaimana baju saya, Mbak? Apa sudah selesai?" 


"Alhamdulillah, sudah, Bu."


"Cepat juga ya."


Aku pun lantas masuk ke dalam ruang tamu lalu mengambil jahitan keduanya.


"Silahkan kalau Ibu mau mencobanya. Jika ada yang kurang, bisa saya perbaiki."


"Tidak perlu, Mbak. Saya percaya jahitan Mbak Zura pasti bagus dan tidak mengecewakan."


"Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?"


"Aku-aku, …"


"Dan Pakaian siapa yang kamu pakai itu?"


"Ehm, tadi aku hampir mengalami musibah. Pengemudi taksi yang kutumpangi berniat jahat padaku. Dia ingin melecehkanku."


"Kamu nggak usah mengada-ada. Mana ada laki-laki yang tertarik dengan perempuan yang bajunya longgar begitu?"


"Aku tidak mengada-ada, Bu. Tadi aku nyaris mengalami pelecehan sek*ual."


"Jangan-jangan kamu punya pria idaman lain. Kamu mengaku hampir mengalami pelecehan sek*ual padahal kamu yang, …"


Kenapa ibu bicara begitu? Apa ibu tidak percaya lagi pada putri kandungnya sendiri?


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2