Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Inikah saatnya?


__ADS_3

"Luna! Cukup! Atau saya akan berteriak agar kamu dibawa pergi dari tempat ini!" ancam bu Anita. Namun rupanya Luna tidak mengindahkan ancaman itu. Aku justru merasa kedua tangannya semakin erat mencengkeram leherku.


Apa aku pasrah begitu saja? Jawabannya tidak. Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh Luna hingga membuatnya jatuh terjengkang di atas rerumputan.


"Pergi dari tempat ini jika kamu tidak ingin menjadi sasaran amukan warga!" ancamku.


"Tolong! Ada orang gila mengamuk!" teriak bu Anita.


Rupanya apa yang dilakukannya mampu membuat nyali Luna menciut. Ia lekas beranjak dari rerumputan kemudian meninggalkan area pemakaman.


"Sepertinya gadis itu benar-benar sudah tidak waras!" umpat bu Anita.


"Ya sudah, Bu. Yang penting dia sudah pergi," ucapku.


Setelah berdo'a dan menaburkan bunga dia atas pusara Gibran, kami pun meninggalkan tempat tersebut.


"Ibu mau langsung pulang?" tanyaku.


Bu Anita menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, Ibu hati-hati. Nanti kuenya akan saya antar langsung ke rumah Ibu," ucapku.


"Baiklah, sampai bertemu lagi nanti sore."

__ADS_1


Kami menaiki taksi dengan tujuan berbeda. Aku menuju toko kueku, sementara bu Anita menuju rumahnya.


Setibanya di toko aku langsung menuju dapur untuk membantu Ana menyiapkan kue pesanan bu Anita untuk acara arisan sore nanti.


"Bagaimana, Na? Perlu bantuan?" tanyaku.


"Tinggal satu loyang lagi, Bu."


"Ini yang saya suka darimu. Kerjamu cepat dan cekatan," pujiku yang sontak membuat gadis itu salah tingkah.


"Terima kasih, Bu."


Tapat pukul satu siang kue pesanan bu Anita siap. Awalnya aku berpikir untuk menghubungi pak Amin, namun akhirnya aku memutuskan untuk mengantar kue itu dengan taksi saja lantaran di jam itu biasanya waktu pak Amin menjemput Lyra di sekolahnya. Lagipula kue nya hanya berjumlah lima box saja. Aku bisa membawanya sendiri dengan menaiki taksi.


"Tidak apa, Pak."


Setelah mengisi bahan bakar, taksi yang kutumpangi pun meninggalkan SPBU tersebut. Namun, tiba-tiba saja taksi itu kembali menepi.


"Kenapa berhenti lagi, Pak?" tanyaku.


"Ehm … maaf, Bu. Perut saya tiba-tiba melilit. Saya harus ke toilet sekarang."


"Y sudah, saya tinggu di sini."

__ADS_1


Dengan sedikit terburu-buru pria berseragam perusahaan jasa taksi itu pun beranjak dari bangku kemudi dan bergegas menuju toilet SPBU yang baru beberapa saat lalu kami tinggalkan. Hanya selang beberapa saat setelah pengemudi taksi itu keluar, tiba-tiba saja indera penciumanku mencium bau benda terbakar dari dalam mobil. Aku semakin panik saat mendapati kepulan asap yang muncul dari bawah bangku kemudi.


Gegas kutarik handle pintu taksi. Yang ada di pikiranku saat ini adalah secepatnya keluar dari dalam taksi. Sialnya pintu begitu susah kubuka. Sementara asap yang memenuhi ruangan di dalam mobil mulai membuatku terbatuk.


"Tolong!" Aku berteriak sekencang mungkin sembari memukul kaca jendela mobil berharap siapapun datang untuk menolongku. Sayang, meskipun tempat itu terbilang ramai, semua orang hanya sibuk dengan urusannya masing-masing.


Ya Rabb … sesungguhnya jiwa dan hidup ini hanyalah milik Mu. Jika memang waktu itu sudah tiba, sungguh, hamba ikhlas.


Asap sudah benar-benar memenuhi ruangan di dalam mobil hingga aku mulai kesulitan bernafas.


"Allahuakbar. La Ilaha illalllah. Muhammadarrasulullah."


"Apa ada orang di dalam sana?" Suara seorang pria terdengar samar. Ingin rasanya berteriak jika aku berada di dalam sini, namun aku tak sanggup lagi menggerakkan lidahku.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya baruku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2