
"Luna? Apa yang dilakukannya di sini?" gumamnya.
Gibran mematikan mesin mobilnya. Ia Iantas turun dan menghampiri wanita tersebut.
"Gibran," ucapnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku ingin menemuimu."
"Apa kamu lupa ingatan? Hubungan kita putus setelah aku mendapati kamu selingkuh dengan sahabatku sendiri."
"Aku mengaku salah dan aku menyesal. Sekarang aku baru sadar Hans hanya mempermainkanku. Aku ingin memperbaiki hubungan kita," ungkap Luna.
"Maaf, aku harus pergi sekarang."
"Aku masih mencintaimu," ucap Luna.
"Sayangnya aku tidak. Kamu yang sudah membuat perasaan itu hilang.
"Apa sudah ada seseorang yang mengisi hatimu?"
"Memangnya apa urusanmu jika aku sudah memiliki kekasih atau pasangan?"
"Aku tidak bisa melupakanmu, Gibran."
"Menyingkir lah, aku sudah terlambat."
"Aku tidak akan kemanapun sebelum kamu mau menerimaku kembali," ucap Luna seraya merentangkan kedua tangannya tepat di hadapan mobil.
"Astaga. Apa kamu sudah tidak waras?"
"Kamu yang membuatku gila!"
"Pim! pim! pim! pim! pim!"
Gibran berulang kali membunyikan klakson mobilnya. Tujuannya tak lain adalah agar mantan kekasihnya itu segera menjauh dari mobilnya. Bukannya membuat Luna menjauh, suara klakson mobil itu justru memancing rasa penasaran seisi rumahnya. Ketiganya pun meninggalkan meja makan dan bergegas menuju halaman rumah.
"Astaghfirullahaldzim. Kenapa kamu main-main dengan klakson mobilmu?!" teriak Keenan.
__ADS_1
"Tunggu. Siapa perempuan yang berdiri di depan mobil Gibran?" ucap sang ibu.
Keenan pun lantas berjalan menghampiri mobil kakak kandungnya itu. Persis di depan mobil itu tampak seorang perempuan berambut sebahu berdiri sambil merentangkan tangannya.
"Maaf, Mbak menghalangi mobil kakak saya," ucapnya.
"Aku tidak akan kemanapun sebelum Gibran mau menerimaku kembali."
"Bukankah sudah kubilang, aku tidak memiliki perasaan lagi padamu. Cepat menyingkir dari mobilku!" seru Gibran
"Lebih baik aku mati saja kalau kamu tidak mau menerimaku lagi," ancam Luna.
"Benar-benar sakit jiwa!" umpat Gibran.
"Maaf, Mbak. Bukannya saya mau ikut campur, tapi Mbak jangan berbuat nekad. Lebih baik Mbak tinggalkan tempat ini sekarang sebelum apa yang Mbak lakukan menimbulkan kesalahpahaman bagi siapapun yang melihatnya," ucap Keenan.
"Kalau mau mati jangan di sini! Nanti kamu jadi hantu komplek!" seru Gibran.
"Dalam keadaan begini masih saja sempat bercanda," gumam Keenan.
"Aku hitung sampai tiga. Jika dalam hitungan ke tiga kamu tak juga pergi, aku akan lapor satpol PP untuk mengamankanmu!" ancam Gibran.
"Kenapa lapor nya bukan pada polisi?" protes sang ibu.
"Siapa yang kamu maksud pengemis?" Sang ayah menimpali.
"Tentu saja dia. Apa kalian tidak lihat dari tadi perempuan ini mengemis cinta padaku." Gibran terkekeh.
"Tolong kalian amankan perempuan itu. Aku harus segera ke toko. Kan tidak lucu barang pesanan tiba tapi toko belum buka."
Dengan dibantu sang ayah, Keenan membawa Luna menjauh dari mobil Gibran. Meski terpaksa, akhirnya ia memilih meninggalkan tempat tersebut.
"Perempuan itu pasti mantan kekasih Gibran," ucap Yudha.
"Kenapa? Kamu mau bilang dia cantik, menarik, seksi, begitu?" sungut Anita.
"Ya, begitu lah."
"Sudah tua masih saja mata keranjang!"
__ADS_1
"Dengar dulu, aku belum selesai bicara. Dia memang cantik, tapi tetap kalah cantik bila dibandingkan istriku ini," goda Yudha yang sontak membuat Anita tersipu.
"Jangan begitu, malu sama Keenan."
"Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum," ucap Keenan.
"Hati-hati."
Keenan pun lantas meninggalkan rumahnya.
*****
Di rumah Fabian.
"Bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Silvia, Nak?" tanya bu Kinanti pada Fabian.
"Aku sudah menjatuhkan talak padanya. Dia ketahuan selingkuh dengan Evan, asistennya sendiri.
"Bukanlah dulu Silvia tergila-gila padamu? Kenapa dia mudah sekali tergoda dengan laki-laki lain?"
"Entahlah. Oh ya, Bu. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Ini soal kematian Amira."
"Amira sudah tenang di surga. Kenapa kamu harus mengungkitnya lagi?"
"Justru itu. Aku ingin mencari keadilan baginya."
"Dulu adik perempuanmu itu meninggal setelah ditabrak mobil sedan berwarna hitam."
"Aku curiga kematian Amira ada hubungannya dengan tuan Anthony," ujar Fabian.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰