Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kehilangan


__ADS_3

"Maaf, Bu. Bapak Prayoga baru saja menghembuskan nafas terakhirnya," jawab dokter dengan suara berat.


"Tidak! Dokter pasti bohong! Mas Yoga tidak mungkin meninggal!" seru Sabrina setengah berteriak.


"Ibu yang sabar, saya mengerti perasaanku Ibu," ujar dokter.


"Mas Yoga! Bangun! Buka matamu!" seru Sabrina sembari mengguncang tubuh yang telah tak bernyawa itu.


Tentu saja teriakan Sabrina yang begitu nyaring itu terdengar oleh Widya yang berada di luar ruangan.


"Ayah saya kenapa, Dokter?" tanyanya.


"Pak Prayoga baru saja menghembuskan nafas terakhirnya."


"Ayah!" Widya menghampiri sang ayah dan mendorong Sabrina hingga membuatnya nyaris terjatuh.


"Kenapa Ayah harus pergi secepat ini? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, hu hu hu."


"Kamu yang sabar, Nak. Aku juga begitu kehilangan ayahmu," ucap Sabrina.


"Pembunuh!" Widya membalikkan badannya, ia lantas menatap tajam mata Sabrina.


"Bukan aku yang membunuh ayahmu. Helena lah pelakunya."


"Ayah meninggal karena menyelamatkanmu. Kami harus bertanggung jawab! Nyawa harus dibayar nyawa!" Widya meletakkan kedua tangannya di leher Sabrina dan berusaha mencekiknya. Tentu saja dokter yang berada di ruangan itu tidak tinggal diam. Dia berusaha menengahi kedua perempuan yang tengah bersitegang itu.


"Apa pantas kalian bertengkar di hadapan jenazah ini?"


"Perempuan ini yang telah membuat ayah saya meninggal. Saya tidak akan membiarkannya hidup!" Widya yang tengah dikuasai amarah itu rupanya semakin nekat. Kedua tangannya semakin erat mencengkram leher Sabrina hingga membuatnya mulai kesulitan bernafas.


"Security. Tolong! Ada keributan di ruangan ini!" seru dokter itu melalui sambungan telepon.


Tidak berselang lama security pun menghampiri ruangan tersebut.


"Ada apa ini?"


"Pisahkan kedua perempuan ini!" 


"Jenazah itu adalah ayah saya. Kalaupun ada yang harus pergi itu dari ruangan ini, itu adalah dia!" seru Widya sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah Sabrina.


"Tidak! Aku tidak akan pergi meninggalkan Yoga."


"Pembunuh!" 


"Aku bukan pembunuh! Bukan aku! Bukan aku!"


"Agar tidak terjadi keributan lagi, sebaiknya Ibu tinggalkan ruangan ini," ucap security.


"Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh!" Sabrina mengucapkan kalimat itu berulang sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.


******


Hari beranjak malam. Aku harap-harap cemas lantaran ibu tak kunjung pulang. Ponselnya pun ditinggalkan begitu saja di rumah. Lyra yang jarang sekali rewel entah mengapa semenjak Maghrib tadi tak sedetik pun mau lepas dari gendonganku.


Adzan isya berkumandang bersamaan dengan suara seseorang mengetuk pintu depan rumahku. Aku harap itu ibu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Ibu sudah pu-... Rahma?"


Rupanya aku salah. Orang yang mengetuk pintu rumahku bukanlah ibu melainkan Rahma.


"Bu Sabrina, Mbak. Bu Sabrina," ucapnya.


"Ada apa dengan ibuku?" tanyaku.


"Aku baru saja mendapat pesan dari kawanku. Dia melihat Bu Sabrina naik di jembatan penyeberangan orang sambil berteriak histeris."


"Astaghfirullah!"


"Sebaiknya Mbak Zura cepat ke sana. Lyra biar di rumah saja sama aku," ucap Rahma. Dia lantas mengambil alih Lyra dari gendonganku.


"Aku titip Lyra," ucapku.


"Ya, Mbak. Hati-hati."


Aku meninggalkan tempat kostku dan bergegas menaiki taksi menuju jembatan penyeberangan orang yang tadi disebutkan Rahma. Benar saja, aku melihat ibu tengah berada di atas sana sambil berteriak histeris. Beberapa pengguna jalan yang simpati mencoba membujuk ibu agar turun dari ketinggian itu namun ibu menolaknya.


"Ibu, turun, Bu. Jangan membuatku takut," teriakku dari bawah jembatan.


"Aku bukan pembunuh! Bukan aku yang membunuh Yoga!" teriaknya.


Apa maksud ucapan ibu? Apakah pak Prayoga sudah meninggal?


"Ibu, kita pulang ya, Bu. Jangan membuat orang-orang di sini ketakutan."


"Aku bukan pembunuh! Helena yang sudah membunuh Yoga!" 


"Awas! Bahaya!" seru seorang pria.


"Kumohon, turun lah, Bu," ucapku.


"Yoga sudah mati, lebih baik aku menyusulnya."


Beberapa orang wanita mulai menjerit ketakutan saat ibu duduk di atas pagar besi itu.


"Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, Bu," ucapku.


"Yoga sudah mati. Buat apa aku hidup!"


"Astaghfirullah! Aku hanya bisa menutup wajahku saat ibu bersiap melompat dari jembatan penyeberangan itu.


"Ya Rabb, ampuni dosa ibuku," gumamku.


Entah muncul dari mana, laki-laki yang begitu kukenal itu menarik tubuh ibu lalu membawanya menjauh dari tepi jembatan.


"Ibu jangan lakukan ini," ucapnya.


"Kak Darren, …"


"Kenapa kamu menghalangiku? Biarkan saja aku mati. Aku mau menyusul mas Yoga."


"Ibu pikir dengan bunuh diri masalah Ibu akan selesai? Pertanggungjawabannya kelak justru akan semakin berat."

__ADS_1


"Yoga. Hu hu hu, …"


"Aku mengerti bagaimana perasaan Ibu. Tapi tidak ada pembenaran untuk bunuh diri. Sekarang Ibu pulang, Zura sudah ada di sini menunggu ibu."


Aku tak menyangka, ibu yang beberapa saat lalu berteriak histeris, menurut begitu saja dengan kata-kata kak Darren. Beliau bahkan tak melawan saat kak Darren membopong tubuhnya dan membawanya turun dari atas Jembatan.


"Kita pulang ke rumah Zura, ya," ucap kak Darren. Ibu mengangguk setuju. Dia pun lantas memapah ibu menuju mobilnya.


"Kenapa Kakak bisa berada di sini?" tanyaku.


"Tadi aku mendatangi rumah sakit karena Widya yang menelponku Jika pak Prayoga baru saja meninggal. Aku pun mendatangi rumah sakit. Widya pun memberitahu apa yang terjadi pada ayahnya hingga beliau meninggal dunia di rumah sakit. Sementara dokter juga mengatakan jika perempuan bernama Sabrina meninggalkan rumah sakit dengan berteriak histeris. Dokter itu menyarankan agar aku mengikuti ibu," ungkap kak Daren.


"Terima kasih sudah menyelamatkan ibu. Jika tidak ada Kakak, ibu mungkin sudah, …,"


"Meskipun aku menyimpan kebencian dendam pada ibu, aku masih punya hati dan tidak mungkin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya," ujar kak Darren.


Aku tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun selain bersyukur pada Allah lantaran telah membuka pikiran kak Darren.


Sesampainya di tempat kost ku.


"Jaga ibu baik-baik, jangan sampai kejadian tadi terulang," ucap kak Darren.


"Terima kasih, Kak."


Kak Darren pun lantas meninggalkan tempat kost ku.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Mbak?" tanya Rahma sesaat setelah kak Darren berlalu.


"Siang tadi tiba-tiba perempuan bernama Helena datang ke sini. Dia mengaku sebagai calon istri pak Prayoga. Itulah yang menimbulkan perdebatan di antara Helena dan ibu. Untuk membuktikan kebenaran, aku pun menghubungi pak Prayoga dan memintanya datang ke tempat ini."


"Lantas? Apa kata paman Yoga? Siapa sebenarnya Helena?"


"Helena adalah salah satu kawan pak Prayoga. Namun Helena yang mengartikan lebih lantaran pak Prayoga menyuruhnya membeli sepasang cincin seukuran jarinya. Helena tidak terima dengan pernyataan itu. Dia berpikir ibuku telah merebut pak Prayoga, dan ibu harus disingkirkan. Tanpa diduga Helena mengambil gunting kainku dan berniat menikam ibu. Namun, pak Prayoga mengorbankan dirinya untuk ibu. Beliau yang akhirnya ditikam Helene dan akhirnya berada di rumah sakit," ungkapku.


"Lantas, bagaimana bagaimana keadaan paman Yoga sekarang?"


"Entahlah. Aku belum sempat menanyakannya pada ibu. Tapi, sedari tadi ibu berteriak histeris sambil berkata dia bukan pembunuh."


"Apa ini berarti paman Prayoga sudah, …" Rahma menggantung kalimatnya.


"Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh!" teriak ibu dari dalam kamarnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu? Bagaimana keadaan pak Prayoga?" tanyaku.


"Aku bukan pembunuh! Helena pelakunya. Ha ha ha! Mas Yoga sudah mati. Kami batal menikah. Hu hu hu …"


Astaghfirullah. Apa yang terjadi pada ibu? Kenapa ucapan ibu kacau begini? Persis dengan apa yang dialami mbak Salma saat dia kehilangan bayinya. Apakah ibu juga akan bernasib sama dengan mbak Salma? Tiba-tiba ketakutan itu menyerangku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2