Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Terbawa perasaan


__ADS_3

"Ibu perhatikan sedari tadi kamu hanya mengaduk-aduk isi piringmu. Apa masakan ibu tidak enak?" ucap ibu di sela makan malam kami.


"Zura."


"I-i-iya, Bu." Aku tersentak kaget saat ibu tiba-tiba memanggilku.


"Kok malah melamun? Sebenarnya kamu ini lagi mikir apa?"


"Ti-ti-tidak kok Bu. Ini aku makan kok."


Malam itu ibu memasak masakan kesukaanku, sayuran hijau dengan sambal kacang atau yang biasanya disebut pecel.


"Besok kamu sibuk nggak, Nak?"


"Zura."


"I-i-iya, Bu."


Untuk kali ke dua ibu membuyarkan lamunanku.


"Kamu ini kenapa? Jika ada masalah jangan dipendam sendiri. Kami di sini siap mendengar dan membantumu jika diperlukan."


"Tidak apa, Bu."


"Jangan-jangan Ibu sedang memikirkan mas Gibran," goda Fina yang duduk persis di sebelahku yang sontak kubalas dengan memberikan cubitan kecil di bagian pinggangnya.


"Kamu sudah tidak memiliki ikatan dengan suamimu lagi. Jadi sah-sah saja kalau kamu dekat dengan laki-laki manapun," ujar ibu.


"Benar, Nduk. Yang terpenting kamu harus lebih berhati-hati dalam memilih pasangan. Jadikan kegagalan pernikahanmu dengan Bian sebagai pelajaran." Mantan ibu mertuaku menimpali.


"Oh ya, Bu. Selama Ibu dirawat di panti jompo, apa Fabian masih sering menjenguk Ibu?" tanya ibu.


Mantan ibu mertuaku menggeleng pelan.


"Hanya Azzura satu-satunya orang yang peduli pada saya. Sepertinya Fabian memang sudah tidak peduli lagi pada ibunya," ucapnya.


"Fabian pasti punya alasan, Bu. Mungkin dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya di cafe."


Astaghfirullahaldzim. Aku lekas menutup mulutku. Kenapa aku harus keceplosan begini? Seandainya aku bisa menarik kembali kalimat itu, aku akan melakukannya.


"Fabian bekerja di cafe? Apa kamu tidak salah bicara?" tanya ketiga perempuan yang juga duduk mengitari meja makan itu hampir bersamaan.


"Setahu ibu Bian memiliki posisi yang bagus di tempat kerjanya. Kenapa sekarang dia bisa bekerja di cafe?" tanya bu Kinanti.


Aku yang tadinya ingin merahasiakan hal ini dari mantan ibu mertuaku, pun akhirnya terpaksa mengungkapnya.


"Ehm … sebenarnya Fabian sudah lama diberhentikan dari pekerjaannya. Tepatnya setelah ia menikahi Silvia," ucapku.

__ADS_1


"Apa?! Menikahi Silvia? Meskipun kini masih di dalam tahanan, kakakmu itu masih istri sah nya 'bukan?"


"Apa yang dulu dialami Zura, kini dialami pula oleh kakak perempuannya," ucap ibu kandungku.


"Ya Rabb, maafkan hamba Mu ini. Putera yang kudidik dan kubesarkan dengan kasih sayang dan ilmu agama, kini telah menyakiti hati perempuan," lirih ibu Kinanti. Aku bisa melihat sepasang netra itu kini berkaca-kaca.


"Sejak kapan Bian dan atasannya itu menikah, Nduk? Kenapa dia setega itu?" tanyanya kemudian.


"Mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Sebenarnya Fabian menikahi Silvia karena terpaksa," ucapku.


"Maksud kamu apa, Nduk?"


"Kawan lamaku yang juga bekerja di kantor Fabian mengatakan jika mereka dipaksa menikah lantaran dipergoki warga berbuat me*um di dalam mobil."


"Astaghfirullahaldzim …


Astaghfirullahaldzim …


Astaghfirullahaldzim. Kenapa kamu jadi begini, Nak?" Ibu Kinanti berulang kali mengucapkan kalimat istighfar seraya mengelus dadanya. Ibu manapun perasaannya akan hancur jika mendengar hal itu. Memalukan, sekaligus menyakitkan.


"Apa bisa anak orang kaya itu hidup tanpa harta ayahnya?" cibir ibu kandungku.


"Kenapa Bu Sabrina bicara begitu?" tanya ibu Kinanti penasaran.


"Ayah Silvia tidak menyetujui pernikahan mereka. Tidak hanya Fabian yang diberhentikan dari pekerjaannya. Silvia pun diusir dari rumahnya," jawab ibu yang yang sudah lebih dulu kuberitahu tentang hal tersebut.


"Apa yang kini kamu alami, adalah akibat dari ulahmu sendiri. Meskipun ibu kecewa, ibu tetap akan mendoakanmu agar kamu bisa melewati semua ujian ini," ucap ibu dengan tatapan nanar.


"Besok kamu sibuk tidak, Nak?" Ibu mengulangi pertanyaannya.


"Besok aku berencana menemui Fabian. Hanya dia satu-satunya orang yang tahu di mana alamat orang yang selama ini mengasuh Rayyan. Memangnya kenapa, Bu?"


"Aku ingin mengajakmu berziarah ke makam ayahmu. Sejak ayahmu meninggal, ibu belum pernah sekalipun mengunjungi makamnya."


"Ehm, baiklah. Kita akan ke makam pagi hari, dan menemui Fabian setelahnya," ucapku.


"Kamu pergi sendiri saja, Nak?" tanya ibu.


"Tidak, Bu. Ada seseorang yang bersedia menemaniku mencari di mana keberadaan Rayyan."


"Siapa?"


"Namanya Siska. Dia adalah perawat yang dulu dibayar kak Maureen untuk menukar bayinya dengan bayi milik pasien lain yang lahir di hari yang sama di rumah sakit itu."


"Apa kamu tahu di mana keberadaan anak Maureen sekarang, Nduk?"


"Ya, Bu. Anak kandung kak Maureen dan Fabian bernama Saddam. Kebetulan dia murid di sekolah Lyra. Saddam beruntung mendapatkan ibu yang begitu menyayanginya."

__ADS_1


"Syukurlah, jika anak itu dirawat keluarga yang baik," ujar ibu.


"Yang jadi masalah sekarang bu Mala menuntut agar putra kandungnya segera ditemukan dan diserahkan padanya. Jika tidak, dia tidak akan pernah menyerahkan Saddam," ucapku.


"Masalah ini begitu rumit, ibu hanya bisa membantu dengan do'a agar kamu bisa menyelesaikannya dengan baik," ucap ibu Kinanti.


"Ibu sudah selesai." Ibu meletakkan sendok makannya kemudian beranjak dari kursi.


"Nenek, …" panggil Lyra.


"Ya, Sayang."


"Lyla boleh tidak bobok di kamal Nenek?" tanyanya.


"Boleh tidak ya? Ehm … boleh dong, Sayang."


"Nanti bacakan buku cerita Cindelella."


Ibu menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Ia pun lantas membopong putri kecilku itu dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


"Tolong ajak ibu ke kamarnya, Fin. Aku masih harus menelpon seseorang," ucapku.


"Cie … pasti mau menelpon mas Gibran," godanya.


"Bukan."


"Kalaupun iya, tidak apa kok Bu. Aku senang kalau punya ayah tiri tampan dan kaya sepertinya."


"Fina." Aku memelototi gadis itu yang justru membuatnya terkekeh.


"Gibran yang dimaksud Nak Fina ini laki-laki yang kemarin siang ke sini itu ya, Nduk?" tanya ibu Kinanti.


"I-i-iya, Bu," jawabku yang entah mengapa tiba-tiba merasa gugup.


"Benar kata nak Fina. Selain tampan, dia juga baik dan sopan. Ibu rasa dia cocok untukmu."


Cocok? Benarkah? Ah! Kenapa aku jadi terbawa perasaan begini, dan tiba-tiba saja aku kembali teringat pemilik wajah tampan bermata sayu itu.


"Cie … muka Ibu merah," ledek Fina.


"Sudah malam, aku mau tidur." Aku beranjak dari tempat dudukku tentu saja dengan wajah tertunduk menyembunyikan pipiku yang terasa memerah.


Masih bersambung ya …


Sambil jalan dengan novel baru yang judulnya


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga ya Kak ….


Happy reading …🥰🥰🥰


__ADS_2