Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hanya kebetulan?


__ADS_3

Setelah seharian berjalan-jalan di kebun teh dan kebun binatang, kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Sedari tadi kamu diam saja. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Keenan.


"Ehm … aku kepikiran dengan ramalan kakek penjual tas rajut tadi."


Keenan tersenyum tipis.


"Jangan terlalu percaya pada ramalan, nanti jatuhnya musyriik" ujarnya.


"Bukan begitu. Dulu aku pernah bertemu dengan beliau dan sempat meramal jika aku tidak akan sekali mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan. Nyatanya ramalannya benar. Aku dan Gibran gagal menikah karena dipisahkan maut."


"Mungkin itu hanya kebetulan saja. Apa dia meramalmu lagi?"


"Ya. Beliau mengatakan jika pengganti Gibran begitu de-..."


Keenan menghentikan laju mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah. Tiba-tiba saja dia memandang keluar mobil.


"Bukankah itu mantan suamimu?" Keenan mengacungkan jari telunjuknya ke arah seorang pengendara sepeda motor yang tengah berboncengan mesra dengan seorang perempuan.


Aku pun lantas memandang ke arah sepeda motor matic itu. Meskipun mengenakan helm, aku mengenal betul postur tubuh laki-laki itu. Benar dia Fabian. Tapi, tunggu! Siapa perempuan itu? Aku yakin dia bukan kak Maureen. Apa Fabian selingkuh di belakang kak Maureen?

__ADS_1


Ingin rasanya tahu siapa perempuan yang berboncengan dengannya. Namun sayang mobil yang kutumpangi terhalang kendaraan lain. Hanya dalam hitungan detik saja lampu merah telah berganti menjadi warna hijau. Aku sempat berpikir mengikuti kemana mereka pergi. Namun aku mengurungkan niatku. Aku tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga mereka. Pun belum tentu kak Maureen percaya jika aku melihat suaminya berbondong mesra dengan perempuan lain.


"Oh ya, apa toko kuemu buka?" tanya Keenan yang sontak membuat lamunanku buyar.


"Maaf, setiap hari Minggu toko kueku tutup. Kedua karyawanku juga perlu istirahat 'bukan?"


"Sayang sekali. Sebelum berangkat tadi ibu menitip untuk membelikan kue brownies di toko kuemu."


"Besok saja aku buatkan kue spesial untuk ibumu. Aku sendiri yang akan mengantarnya langsung ke rumahmu. Itung-itung sebagai pengganti pesanan kue ibumu waktu itu."


"Ya, semoga ibu mau bersabar menunggu sampai besok tidak pakai acara ngambek."


"Daripada ibumu ngambek, bagaimana jika kamu belikan kue di toko lain?"


"Jadi, bagaimana?"


"Tidak apa, nanti aku yang akan membujuknya."


Sekitar lima belas menit kemudian kami tiba di rumahku. Aku pun bergegas membangunkan Lyra yang sedari tadi terlelap di pangkuanku. Namun dia terlihat malas membuka matanya.


"Tidak apa, biar aku yang membopongnya masuk ke rumah. Sepertinya dia kelelahan." Keenan mengangkat tubuh Lyra lalu membawanya masuk ke dalam rumah hingga ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucapku.


"Untuk apa?"


"Karena hari ini sudah membuat Lyra senang."


Keenan mengulangi senyum tipis.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Karenamu aku bisa lepas dari ketakutanku pada ketinggian."


"Jika bukan karena keinginanmu yang begitu kuat untuk lepas dari phobia itu, kamu tidak akan bisa melawannya. Kamu hebat," ujarku.


"Kamu lebih hebat."


Suasana hening sejenak. Detik kemudian sepasang netra kami bersitatap. Sial! Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar begini?


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2