Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Tak disangka


__ADS_3

"Tapi kenapa, Bu? Kenapa dengan Fina? Katakan saja," desakku.


"Begini, Bu. Waktu saya ke pasar kemarin saya tidak sengaja melihat Fina berboncengan dengan seorang laki-laki. Tetapi Fina tidak memakai seragam sekolah."


"Apa Ibu tidak saya lihat? Setiap hari Fina selalu pamit pada saya untuk berangkat sekolah bahkan dia sering pulang sore karena harus mengikuti tambahan pelajaran."


Bu Sari terkekeh.


"Tambahan pelajaran apa, Bu? Fina 'kan sekelas dengan anak saya, Windy. Windy selalu pulang tepat waktu kok lagi pula mereka kan baru kelas satu, mana mungkin ada les tambahan."


"Ehm … baiklah begitu terima kasih untuk informasinya. Nanti saya coba tanyakan pada Fina."


"Hati-hati loh bu. Ada siswa SMA di perumahan sebelah tidak pernah masuk sekolah, tahu-tahu dia melahirkan. Mungkin Ibu harus lebih ketat lagi mengawasi Puteri Ibu."


Deg! Entah mengapa kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Bu Sari membuatku semakin merasa khawatir.


"Ya sudah Bu saya permisi dulu mau mengantar Lyra, Assalamualaikum."


Aku menggandeng tangan Lyra lalu mengajaknya meninggalkan tempat tersebut.


Sesampainya di sekolah.


Ucapan Lyra tadi yang mengatakan jika Saddam telah berpindah sekolah membuatku penasaran. Aku pun memutuskan untuk menanyakannya langsung pada kepala sekolah.


"Selamat pagi, Bu," sapaku pada bu Santi saat aku memasuki ruang guru.


"Waalaikumsalam, Bu Azzura."


"Maaf Bu mengganggu waktunya. Apa kita bisa berbicara?"


"Oh, tentu saja, silakan duduk."


"Begini, Bu. Puteri saya mengatakan jika Saddam telah pindah dari sekolah ini. Apa benar begitu?"


"Benar, Bu. Sekitar dua hari yang lalu kedua orang tua Saddam mendatangi sekolah ini. Mereka mengatakan harus pindah ke luar kota karena suaminya bu Mala ditempatkan di kantor cabang baru yang berada di luar kota."


"Apa Ibu tahu di mana alamat mereka yang baru?" tanyaku.


"Maaf Bu saya tidak tahu. Mungkin Ibu bisa menanyakannya langsung pada Bu Mala."


"Baik terima kasih untuk informasinya, Bu. Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."


Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih dengan kepindahan Bu Mala dan keluarganya ke luar kota. Apakah bu Mala berubah pikiran untuk tidak lagi mempermasalahkan Alden yang sudah meninggal dunia itu? Pun aku harus mencari kepastiannya.


Aku mengambil ponselku dan menghubungi bu Mala.


"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi."


Kalimat itulah yang selalu kudengar saat aku menghubungi nomor ponselnya.


Sepertinya Bu malah mengganti nomor ponselnya.


Aku membuang nafas.


Entahlah, aku tidak tahu alasan mengapa bu Mala tiba-tiba keluar kota dan mengganti nomor ponselnya. Padahal beberapa hari belakangan dia begitu gencar menuntutku untuk mencari keberadaan kak Maureen dan memintaku untuk membawanya ke hadapannya.


Pernyataan yang kudengar dari Bu Sari beberapa waktu kembali terngiang di telingaku. Rasanya tidak mungkin jika Bu Sari berbohong. Akan tetapi aku juga sulit mempercayai jika Fina melakukan sesuatu seperti yang dikatakan olehnya.


"Pak Amin sudah sembuh?" Tanyaku saat aku kembali ke rumah. Aku melihat sopir pribadiku itu tengah membersihkan mobilku.


"Alhamdulillah, sudah, Bu. Setelah minum obat kemarin saya mendingan."


"Syukurlah kalau begitu. Jika Pak Amin sudah sarapan, Pak Amin antar saya ke sekolah Fina."

__ADS_1


"Baik, Bu."


"Memangnya ada undangan rapat di sekolah Fina?" tanya ibu yang baru saja muncul dari dalam rumah.


"Iya, Bu. Barusan wali kelasnya mengirim pesan padaku."


Aku merasa kalimat itulah yang tepat sebagai jawaban atas pertanyaan ibu. Kurang nyaman rasanya jika aku mengatakan apa yang tadi kudengar dari Bu Sari padanya di hadapan Pak Amin.


Setelah Pak Amin selesai sarapan, aku pun mengajaknya menuju sekolah Fina.


Tempat pertama yang kudatangi adalah ruang guru. Kebetulan wali kelas Fina, Pak Anwar sedang berada di sana.


"Selamat pagi, Pak," sapaku.


"Selamat pagi. Kebetulan sekali saya bertemu Bu Zura di sini. Padahal rencananya hari ini saya akan mengirim surat panggilan kepada Ibu," ucap guru berkacamata itu.


"Su-su-rat panggilan?"


"Benar, Bu. Satu bulan terakhir ini Fina seringkali membolos."


"Itu tidak mungkin, Pak. Setiap pagi Fina selalu berpamitan kepada saya dengan mengenakan seragam sekolahnya," bantahku.


"Jika Ibu tidak percaya, Ibu bisa menanyakannya langsung pada kawan-kawan sekelasnya."


"Pak Anwar ini benar, Bu. Setiap kali saya mengisi pelajaran di kelas 10-A, Fina sering absen." Salah satu guru yang juga berada di ruangan itu menimpali.


"Sebentar lagi sekolah akan mengadakan ulangan kenaikan kelas. Saya harap Ibu bisa lebih mengawasi Fina."


"Baik Pak, terima kasih untuk informasinya. Kalau boleh saya minta izin untuk menemui teman sebangku Fina di kelasnya."


"Baiklah, mari saya antar ke kelasnya."


Kami pun berjalan beriringan menuju kelas Fina yang berada di lantai 2.


"Bu," ucapnya sembari mengangguk sopan padaku.


"Apa kamu teman dekat Fina?" tanyaku.


"Benar, Bu nama saya Hani."


"Apa benar belakangan ini Fina sering bolos sekolah?" tanyaku lagi.


"Ehm … benar, Bu."


"Astaghfirullahaldzim. Apa kamu tahu alasan Fina membolos?"


"Maaf saya kurang tahu. Tetapi Vina pernah bercerita pada saya jika dia berkenalan dengan seorang laki-laki di aplikasi pertemanan. Sejak saat itu Fna sering membolos."


"Apa kamu tahu nama teman laki-laki itu?"


Hani tampak berpikir sejenak sebelum ia memberikan jawaban.


"Ehm … kalau tidak salah nama akunnya


"BOY … ehm … BOY 2000."


"Kamu kenal dengan laki-laki itu?"


"Tidak, Bu. Fina hanya memberitahu nama akun nya saja."


"Baiklah, terima kasih banyak. Informasi ini sangat membantu saya. Kamu bisa kembali ke kelas."


"Baik, Bu." Hani pun lantas masuk kembali ke dalam kelasnya.

__ADS_1


"Saya rasa informasinya sudah cukup, Pak. Saya permisi dulu, selamat pagi."


"Baik, Bu. Semoga masalah ini cepat mendapatkan jalan keluar."


Meski bukan puteri kandungku, Fina berada di bawah tanggung jawabku. Aku tidak mau jika dia salah memilih teman Apalagi terjerumus dalam hal yang negatif.


"Ibu kenapa? Sepertinya bingung sekali," ucap pak Amin sesaat setelah aku memasuki mobil.


"Ehm …"


Aku yang tadinya berniat menyembunyikan hal ini dari pak Amin, akhirnya memilih mengungkapnya. Bagaimana pun pria itu sudah kuanggap layaknya keluargaku sendiri.


"Fina, Pak."


"Kenapa dengan mbak Fina?"


"Saya mendengar dari bu Sari jika beliau melihat Fina berboncengan dengan seorang laki-laki di pasar tanpa mengenakan pakaian seragamnya. Saat saya bertanya pada wali kelas dan kawan sekelasnya, saya mendapat jawaban yang cukup mengejutkan jika Fina hampir sebulan ini Fina seringkali membolos sekolah termasuk hari ini. Padahal pagi tadi dia pamit pada saya berangkat ke sekolah dan meminta uang untuk menjenguk salah satu kawannya yang dirawat di rumah sakit. Tetapi ternyata dia tidak benar-benar berangkat ke sekolahnya. Salah satu kawan sekelasnya juga mengatakan Fina sering membolos semenjak dia mengenal seorang laki-laki di aplikasi pertemanan," ungkapku.


"Jangan-jangan laki-laki yang dilihat bu Sari bersama mbak Fina adalah orang itu."


"Saya pun berpikiran sama dengan Pak Amin. Menurut Bapak, apa yang harus saya lakukan?"


"Begini, Bu. Menurut saya Ibu coba bicara pelan-pelan dengan mbak Fina. Mbak Fina itu gadis yang sedang beranjak remaja, saya jika Ibu langsung menegurnya, dia akan tersinggung atau mungkin justru akan marah pada Ibu."


"Iya, Pak. Terima kasih atas masukannya. Kita langsung pulang saja."


Sesampainya di rumah.


"Kamu terlihat lesu sekali, Nak. Bagaimana hasil rapat di sekolah Fina tadi?" tanya ibu.


"Maaf, Bu. Jika tadi aku sudah berbohong pada Ibu. Sebenarnya aku ke sekolah Fina bukan untuk menghadiri rapat."


"Lantas?"


"Aku mendatangi sekolah Fina lantaran aku mendengar sesuatu yang kurang enak tentangnya dari bu Sari yang mengatakan jika beliau melihat Fina berboncengan dengan seorang laki-laki di pasar. Karena penasaran, aku pun memeriksa ke sekolahnya. Benar saja, hari ini Fina tidak masuk sekolah. Yang lebih mengagetkan lagi, aku mendengar dari wali kelasnya jika sudah hampir sebulan Fina seringkali membolos sekolah."


"Astaghfirullahaldzim. Benar-benar anak tidak tahu diuntung. Sudah bagus kamu mau menampungnya dan membiayai sekolahnya. Kenapa kelakuannya minus begitu?"


"Aku harap saat Fina pulang nanti, Ibu tidak langsung menggertaknya. Kita justru harus menanyakannya dengan halus agar dia tidak tersinggung," ucapku.


"Anak tidak tahu diri sepertinya harus diberi pelajaran!" seru ibu.


Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba telepon rumahku berdering. Aku pun lekas menjawab telepon itu.


[Halo, Assalamu'alaikum. Dengan kediaman Azzura. Dengan siapa saya berbicara?]


[Waalaikumsalam, Bu. Ini bi Ami]


[Oh, Bi Ami. Ada apa, Bi?]


[Mbak Fina, Bu … Mbak Fina]


[Kenapa dengan Fina, Bi?]


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2