Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Teguran keras


__ADS_3

Fabian menurut saja saat pria yang mengaku sebagai kawannya itu mengajaknya menuju kamar. Ia bahkan dengan sukarela memberikan kode rahasia pembuka kotak besi untuk menyimpan barang-barang berharga tersebut. Tentu saja pria itu dengan senang hati menguras habis isi di dalamnya. Uang, perhiasan, bahkan surat-surat penting lainnya kini telah berpindah ke dalam tas ransel milik pria itu.


"Terima kasih, Pak, Bu. Apa yang kalian berikan pada saya sudah lebih dari cukup. Saya permisi dulu."


Sang ibu sebenarnya paham dengan apa yang tengah terjadi di dalam rumah itu. Pun dia tidak bisa berbuat apapun. Jangankan menjerit dan meminta pertolongan, menggerakkan bibirnya saja ia begitu kesulitan.


Setengah jam kemudian.


Dini yang baru saja kembali dari apotek itu keheranan mendapati kedua majikannya duduk dan terdiam di ruang tamu dengan pandangan mata kosong.


"Pak … Bu. Kenapa kalian bengong?" tanyanya. Sepasang suami istri itu tidak bergeming.


"Pak Fabian … Bu Mila. Kalian baik-baik saja 'bukan?" Dini melambaikan tangannya di depan kedua wajah mereka, namun keduanya masih saja diam.


"Astaga. Kalian ini kenapa sih?!"


"Din-Din-Dini."


Mendengar namanya dipanggil Bu Kinanti, perawat itu pun bergegas memasuki kamarnya.


"Ibu butuh apa? Minum atau mau buang air kecil?"


"Gen-gen-dam."


"Ibu demam?" 


Dini pun menempelkan punggung tangannya di kening Bu Kinanti.


"Ibu nggak panas kok."


"Gen-gen-dam. Fabian-Mila-gendam."


"Sebenarnya Ibu mau bicara apa? Aku tidak paham."


"Uang-brankas-gendam."


Dini terdiam sejenak, ia lantas berpikir. 


"Kenapa dari tadi Bu Kinanti menyebut kata gendam? Apa hubungannya dengan uang dan brangkas? Astaga!"


Dini yang sempat kebingungan itu akhirnya paham kenapa kedua majikannya duduk dan terdiam di ruang tamu ditambah Bu Kinanti yang berulang kali menyebut kata gendam.


"Maksud Ibu pak Fabian dan bu Karmila menjadi korban gendam?" tanyanya. 


Anggukan kepala bu Kinanti dianggapnya sebagai jawaban.


Dini bergegas kembali ke ruang tamu dan menghampiri keduanya yang masih belum beranjak dari sofa. Ia pernah mendengar cara menghilangkan pengaruh gendam pada seseorang adalah dengan cara menepuk punggungnya.

__ADS_1


"Pak Fabian! Bu Mila!" sadarlah!" serunya sembari menepuk punggung mereka  bersamaan. Sontak keduanya pun tersentak kaget.


"Astaghfirullahaldzim!" seru Fabian.


"Bu Kinanti mengatakan jika Bapak dan Ibu menjadi korban gendam. Apa benar begitu?"


"Astaga! Di mana semua perhiasanku?!"


Karmila kaget bukan main saat mendapati perhiasan yang biasanya menempel di tubuhnya raib tak bersisa. Sementara Fabian tak kalah shock saat ia tak menemukan kartu ATM di dalam dompetnya.


"Brankas! Kita harus segera memeriksa brangkas!" seru Mila. Ia pun lantas memasuki kamar diikuti Fabian di belakangnya. Mila menjerit histeris saat mendapati kotak besi itu dalam keadaan terbuka dan tentu saja kosong sama sekali.


"Uang kita. Perhiasan kita. Semuanya hilang, Mas. Hu … hu … hu …"


Fabian yang tak kalah terpukul nya itu hanya bisa berdiri mematung sembari memandangi brankas yang kosong itu. 


"Hanya kita berdua saja yang tahu kode brankas ini. Pasti Mas yang memberikannya pada pria itu."


"Saat itu aku dalam pengaruh gendam. Aku tidak menyadari apa yang kulakukan dan apa yang kukatakan."


"Habis semuanya. Hu … hu … hu …"


"Sabar, Bu. Ini semua adalah pelajaran. Tidak seharusnya kita menyombongkan diri dengan apa yang kita punya. Saya tidak menyangka sumpah pengemis tadi menjadi kenyataan."


"Pengemis mana yang kamu maksud?" tanya Fabian.


"Sore tadi ada pengemis tua yang datang ke rumah ini untuk meminta makanan. Tapi bu Mila menghinanya dan menyuruhku untuk mengusirnya. Meskipun saya sempat memberi uang sebesar dua puluh ribu tanpa sepengetahuan bu Mila."


"Kenapa Mas nyalahin aku? Mas pikir aku mau kita mengalami kejadian ini?!"


Tiba-tiba pandangan Fabian tertuju pada buffet tempat biasanya ia meletakkan kunci mobilnya.


"Kamu menyimpan kunci mobilku?" tanyanya. Mila menggelengkan kepalanya.


Fabian lekas beranjak dari ruang tamu dan bergegas memeriksa garasi.


"Breng*ek!" umpatnya sembari menendang pintu garasi yang terbuka separuh itu. Tak hanya uang dan perhiasan yang diambil pria pemilik gendam itu, mobil satu-satunya yang dimiliki Fabian pun juga tak luput dari sasaran pria itu.


"Ibu mau kemana?" tanya Dini saat melihat Mila melangkah keluar dari ruang tamu.


"Aku harus bertemu security! Karena kecerobohannya kami dirampok dan harus kehilangan semuanya!"


"Mila! Tunggu! Ini sudah malam. Jangan membuat keributan. Besok saja kita mengurus kasus ini ke kantor polisi," ucap Fabian.


"Aku tidak mau tahu. Sekarang juga aku harus membuat perhitungan dengan security komplek!"


Mila yang tengah dikuasai amarah itu meninggalkan rumahnya dan menuju pos security.

__ADS_1


"Apa kamu hanya mau makan gaji buta 'hah!?!" teriak Mila sembari menggebrak meja yang berada di dalam ruangan kecil itu.


Pria yang tengah asyik menikmati kopinya itu tentu saja tersentak kaget dan nyaris menjatuhkan gelasnya.


"Astaga. Ibu ini Kenapa? Datang-datang kok marah-marah?"


"Kerja kamu tuh apa sampai membiarkan pengemis dan pencuri masuk ke komplek perumahan ini!"


"Maaf, saya benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Ibu."


"Sore tadi ada pengemis datang ke rumah saya, dan beberapa saat yang lalu rumah saya dirampok habis-habisan. Kalau kerjamu becus, kamu tidak mungkin membiarkan sembarangan orang masuk ke komplek perumahan ini."


"Maaf, ada apa ini?" tanya salah satu warga yang rumahnya hanya berjarak beberapa langkah dari pos security.


"Security ini tidak becus bekerja. Dia membiarkan semua orang masuk ke komplek perumahan ini. Karena kecerobohannya rumah saya dirampok habis-habisan. Bahkan mobil saya pun juga raib," ungkap Mila.


"Maaf, Bu. Security yang bekerja menjaga keamanan di komplek perumahan ini memang ada dua orang. Satu orang bertugas di siang hari, sementara satu orang lainnya bertugas di malam hari. Kebetulan security yang bertugas di siang hari tidak bisa datang dikarenakan sedang sakit . Jadi saya rasa siang tadi siapapun bisa bebas keluar masuk komplek perumahan ini tidak terkecuali orang yang Ibu sebutkan tadi."


"Benar, Bu. Lagipula saya juga baru saja datang karena jam kerja saya dimulai pukul delapan malam." Security bernama Freddy itu menimpali.


"Jadi, siapa yang harus bertanggung jawab atas kerugian yang saya alami? Saya kehilangan semua harta benda saya."


"Mungkin besok Ibu bisa membuat laporan ke kantor polisi dengan menyertakan bukti peristiwa yang terjadi di rumah Ibu."


"Astaga. Bukti apa, Pak? Saya dan suami saya dalam pengaruh gendam. Saya bahkan tidak ingat ciri-ciri pria itu."


"Makanya, jadi orang jangan sombong-sombong. Kalau sudah dapat sentilan begini baru menyesal," cibir seorang perempuan paruh baya yang yang baru saja menghampiri mereka.


"Punya mulut itu dijaga ya. Tetangga lagi kesusahan, bukannya simpati malah nyukurin".


"Memangnya siapa yang nyukurin kamu? Saya hanya mau kamu tuh introspeksi diri. Kalau jadi orang sombong itu tidak baik. Baru juga jadi istri direktur saja sombongnya selangit. Paling-paling suami kamu naik jabatan karena ada affair sama atasannya."


"Si*lan kamu!" Mila yang tengah dikuasai amarah itu tentu saja dibuat semakin geram karena lontaran kalimat pedas dari mulut perempuan yang juga tetangganya itu. Dia pun meraih rambut panjang perempuan itu kemudian menjambaknya.


Tentu saja perempuan itu tidak mau tinggal diam. Dia pun membalas serangan Mila dengan mencakar wajahnya hingga membuatnya menjerit kesakitan.


"Tolong jangan membuat keributan di tempat ini!" Security itu menarik tubuh Mila sementara si pria menarik tubuh perempuan itu. Tanpa diduga Mila justru mendorong security itu hingga terjatuh dan kepalanya membentur dinding pos jaga dengan begitu kerasnya.


"Freddy! Sadar lah!" teriak si pria. 


Apa yang akan terjadi dengan Freddy? 


Ikutin terus kelanjutannya ya, Kak. Tidak lama lagi cerita ini akan memasuki kehidupan remaja Lyra dan Rayyan.


Bersambung….


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2