
Meskipun telah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu, wajah itu sama sekali tak asing bagiku. Pria yang kini menjadi suami Fatimah adalah kakak laki-lakiku satu-satunya, mas Darren. Mas Darren dan kakak perempuanku, Maureen meninggalkan rumah tidak lama setelah ayah kami meninggal dunia. Aku yang saat itu baru saja lulus SMA tentu saja kehilangan arah. Hingga suatu ketika aku dipertemukan dengan seseorang yang memperkenalkanku dengan kehidupan malam.
"Kak Darren. Bagaimana kabar Kakak? Alhamdulillah Allah mempertemukan kita kembali."
Aku mendekati laki-laki yang usianya terpaut delapan tahun dariku. Jujur, aku begitu merindukannya. Aku hendak menghambur ke dalam pelukan kak Darren, namun aku justru mendapatkan perlakuan tak terduga. Dia mendorong tubuhku dengan kasar hingga aku nyaris terjatuh di lantai. Sontak beberapa pasang mata yang berada di ruangan itu mengalihkan pandangan mereka ke arah kami.
"Kamu siapa 'hah?" tanyanya.
"Aku adik bungsumu, Azzura."
"Maaf, kamu salah orang," ucapnya dingin.
"Kakak jangan bercanda. Mana mungkin Kakak tidak mengenali adik sendiri," ujarku.
"Kamu sudah selesai periksa nya?" tanya kak Darren pada sahabatku, Fatimah.
"Ini sebenarnya ada apa? Apa benar Azzurra ini adik Mas?" tanya Fatimah dengan raut wajah bingung.
"Aku tidak mengenali perempuan ini."
"Aku adikmu, Kak. Kenapa Kakak bilang tidak mengenaliku?"
"Sudahlah. Kita pulang sekarang."
Fatimah tidak bisa berbuat banyak ketika suaminya yang tak lain adalah kakak kandungku itu menggandeng tangannya.
"Kak! Kak Darren!" teriakku.
Kak Darren tak menghiraukan teriakanku meskipun Fatimah juga berusaha menahannya pergi. Aku pun hanya bisa berdiri mematung memandang keduanya yang semakin menjauh dari hadapanku.
"Mengapa kakak tidak mengakui jika aku adik kandungnya?" lirihku.
Aku kembali teringat Lyra. Aku pun lantas mempercepat langkahku keluar dari rumah sakit. Aku cukup beruntung, saat itu sebuah taksi melintas di hadapanku.
"Perumahan Bougenville, Pak" ucapku pada pengemudi taksi.
__ADS_1
Aku yakin betul, laki-laki yang kutemui di rumah sakit memang kak Darren. Tapi, Kenapa dia tidak mengakuiku? Apa aku pernah berbuat sesuatu yang menyakiti hatinya?
Aku mengambil dompetku. Aku ingat, selain foto bersama keluarga kecilku, aku juga menyimpan selembar foto berukuran 2R di dalam sana. Foto itu adalah potret kebersamaan kami saat berlibur di pantai. Aku yang saat itu masih berusia lima tahun tengah berjalan di tepi pantai. Kak Darren menggandeng tangan kananku, sementara kak Maureen menggandeng tangan kiriku. Sungguh sebuah potret kenangan yang begitu manis.
Aku tersentak kaget saat taksi yang kutumpangi tiba-tiba berhenti.
"Kenapa kita berhenti, Pak?" tanyaku pada pria berseragam perusahaan taksi itu.
"Memangnya ada perumahan Bougenville yang lain ya?" Beliau balik bertanya.
Aku memandang keluar jendela. Astaghfirullah. Karena terlalu asyik melamun, aku tidak menyadari jika aku sudah sampai di depan pos security perumahan yang sudah beberapa tahun menjadi tempat tinggalku.
"Maaf, Pak. Saya tadi melamun."
"Jangan kebanyakan melamun, Mbak. Nanti suaminya diambil orang." Pengemudi taksi itu terkekeh. Meskipun hanya sebuah gurauan, aku justru merasa kalimat itu adalah sebuah sindiran. Pun aku menanggapi ucapan pria itu dengan senyuman.
"Terima kasih, Pak," ucapku sembari menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribu padanya.
"Ini kebanyakan, Mbak."
"Mbak ini orang baik. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Mbak dan keluarga Mbak."
"Aaamin."
Aku keluar dari dalam taksi. Aku sengaja mempercepat langkahku menuju rumahku. Lima menit kemudian aku pun tiba di rumah bu Murni.
"Assalamu'alaikum," ucapku dari depan pintu yang tertutup rapat itu.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Murni sesaat setelah membuka pintu.
"Mbak Zura sudah pulang? Bagaimana keadaan ibu Kinanti?" tanyanya.
"Ibu saya harus dioperasi. Dan sekarang beliau mengalami stroke," jelasku.
"Saya ikut prihatin, Mbak. Setelah suami saya pulang nanti insyaallah saya akan menjenguk beliau."
__ADS_1
"Oh ya Bu. Di mana Lyra? Apa dia rewel saat saya tinggal?"
"Tidak, Mbak. Sepertinya Lyra ngerti kalau ibunya sedang kerepotan. Dia baru saja tidur setelah susu di botol habis."
Syukurlah, aku pulang di saat yang tepat.
Bu Murni pasti kewalahan kalau Lyra tantrum.
"Kami pulang dulu, terima kasih sudah bantu menjaga Lyra," ucapku setelah membawa Lyra keluar dari kamar bu Murni.
"Sama-sama, Mbak. Kalau Mbak Zura repot, Mbak bisa titipin Lyra pada saya."
"Terima kasih, Bu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah tiba di rumahku, aku pun membaringkan Lyra di atas tempat tidur sementara aku pun berbaring di sampingnya. Hari ini cukup melelahkan bagiku.
Entah mengapa aku kembali teringat Karmila. Apakah ada yang disembunyikan mas Fabian dariku? Apa sebenarnya hubungan mereka?
Aku beranjak dari tempat tidurku. Perlahan kulangkahkan kakiku menuju lemari kecil yang berada di sudut kamar. Di sana lah mas Fabian meletakkan tas dan beberapa dokumen penting yang berkaitan dengan pekerjaannya.
"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud lancang. Tapi Mas yang membuatku curiga dengan sikap Mas belakangan ini," lirihku.
Kubuka satu persatu laci lemari kayu itu. Tas kerjanya pun tak luput dari pemeriksaanku. Aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kututup kembali laci-laci itu dan kuletakkan kembali tas yang biasa dipakai mas Fabian di tempatnya semula. Aku hendak membalikkan badanku, namun, tiba-tiba netraku menangkap sebuah kotak kecil berwarna hijau yang berada di bawah kolong lemari.
Bersambung ….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
__ADS_1