Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Disekap


__ADS_3

Tangan terikat dan mulut tertutup lakban saja sudah membuatku tersiksa, ternyata setelah sampai di mobil, pria itu juga menutup kedua mataku dengan kain berwarna hitam.


Beberapa saat kemudian aku merasakan seseorang duduk persis di sebelahku. Tubuh kecil itu … dia pasti putriku, Lyra. Penculik itu pasti juga melakukan hal yang sama pada Lyra yakni mengikat tangannya dan menutup mulutnya dengan lakban. Yang kudengar hanyalah suara isak tangisnya.


"Ya Rabb … lindungi lah aku dan putriku," do'a ku dalam hati.


Cukup lama kami berada di dalam mobil itu hingga akhirny kami berhenti di sebuah tempat.


Salah satu pria menarik lenganku lalu mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan. Dia lantas menyuruhku duduk di sebuah kursi. Aku pikir mereka benar-benar melepaskan tali yang sedari tadi mengikat kedua tanganku. Namun ternyata tali itu hanya berpindah saja. Yang tadinya mengikat tanganku, kini tali itu mengikat tubuhku.


Beberapa saat kemudian pria itu pun melepas kain hitam yang menutupi kedua mataku. Tampak lah sebuah ruangan yang sempit dan pengap. Tak ada benda apapun selain kardus dan tong berukuran besar. Beberapa saat kemudian pria lainnya yang membopong Lyra masuk ke dalam ruangan. Ia lalu membaringkan tubuh kecil itu pada sebuah sofa usang. Tapi apa yang terjadi pada putriku? Kenapa matanya terpejam? Apakah dia pingsan?


"Apa yang harus kita lakukan pada mereka, Max?"


"Bos hanya menyuruh kita untuk menyekap mereka saja, lalu pergi tinggalkan tempat ini."


"Bos? Siapa yang mereka panggil dengan sebutan bos? Apa artinya mereka hanya diperintah saja?" batinku.

__ADS_1


"Apa Bos tidak menyuruh kita menghabisi mereka?"


"Bos kita perempuan, kawan. Dia tidak sekejam itu. Tapi mengunci mereka di dalam ruangan ini juga bisa membuat mereka mati perlahan."ko


"Demi Allah! Siapapun orang yang sudah memerintahkan kalian untuk menculik kami, semoga Allah memberinya balasan yang setimpal," batinku dalam hati.


"Maaf, Nyonya. Kami hanya menjalankan perintah, karena yang kami butuhkan hanya lah uang," ucap pria bernama Max. Dia lantas melempar begitu saja puntung rokok yang sedari tadi dihisapnya


"Ayo kita pergi!"


"Setelah ini kita berpesta, Max." Keduanya tertawa lepas sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut dan menguncinya dari luar.


"Lyra! Lyra! Bangun, Nak!" jeritku dalam hati seraya mendorong kursinya dengan dengan kakiku, namun usahaku sia-sia. Putri kecilku itu sama sekali tak bergeming.


Tiba-tiba saja aku mencium bau terbakar. Ya, tumpahan minyak tanah itu telah menyambar puntung rokok yang tadi dibuang salah satu pria yang menculik kami. Dalam hitungan detik saja api itu telah melahap puluhan kardus berukuran besar yang berada di dalam ruangan.


Aku menggunakan segala macam cara agar Lyra cepat sadar. Sepertinya hawa panas di ruangan ini dirasakan juga olehnya. Lyra tersadar dan membuka matanya. Meskipun mulutnya juga tertutup lakban, beruntung penculik itu tidak mengikat tangannya dengan kursi. Aku memberi isyarat kecil agar dia melepaskan tali yang mengikat kursiku. Setelah bersusah payah, akhirnya tali itu pun terlepas.

__ADS_1


Hawa ruangan semakin panas lantaran api semakin membesar. Aku bergegas melepas lakban yang sedari tadi menutup mulut kami juga tali yang mengikat kedua tangan Lyra.


"Ibu, aku takut," ucapnya.


"Tenang lah, Sayang. Ada ibu di sini," hiburku.


"Uhuk! Uhuk!" Asap mulai memenuhi ruangan itu hingga membuat Lyra terbatuk.


"Ya Rabb … jika memang Engkau menakdirkan cara ini sebagai cara untuk menghadap Mu, insyaallah kami ikhlas," gumamku seraya mendekap erat tubuh Lyra.


"Ibu, kita harus cepat pergi dari tempat ini!" seru Lyra.


"Bagaimana caranya, Sayang?"


Kuedarkan pandanganku di ruangan itu. Namun tak kutemukan lubang ataupun celah di sana.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2