
"Maaf, apa ponsel anda terjatuh?" tanya Keenan sesaat setelah menghampiri laki-laki yang mengenakan kemeja lengan panjang itu.
Laki-laki itu pun lantas memeriksa kantong belakang celananya. Benar saja, ia tak menemukan benda itu di dalam sana.
"Astaghfirullahaldzim. Ceroboh sekali saya ini. Di mana anda menemukannya?"
"Di tempat parkir tidak jauh dari mobil saya."
"Terima kasih."
"Maaf, tadi saya tidak sengaja melihat layar ponsel itu. Jika saya tidak salah, balita perempuan itu bernama 'Lyra 'bukan?"
"Bagaimana anda bisa tahu nama putri saya?" Laki-laki itu mengerutkan keningnya.
"Putri anda?" Keenan balik bertanya.
"Ya. Foto yang saya pasang di layar ponsel ini adalah putri saya, Lyra."
"Jadi, anda suaminya penjahit Azzura itu?"
"Anda mengenal Zura juga?"
Keenan tersenyum.
"Kebetulan saya yang meminta mbak Zura untuk menjahit baju pengantin saya. Meskipun pada akhirnya pernikahan saya gagal karena calon istri saya meninggal dunia dua hari sebelum hari pernikahan kami," ungkapnya.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Saya ikut berduka cita."
"Terima kasih ehm, …"
"Panggil saya Fabian."
"Saya Keenan. Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan suami mbak Zura di sini."
Keenan tersenyum hambar.
"Zura bukan istri saya lagi. Kami sudah resmi bercerai."
"Ma-ma-af, saya benar-benar tidak tahu."
"Tidak apa."
"Maaf, apa ada saudara anda yang sedang berurusan dengan pihak kepolisian?" tanya Keenan.
"Ehm, ti-ti-tidak. Saya datang ke sini untuk mengunjungi kawan lama saya."
"Begitu rupanya. Ya sudah, saya permisi dulu," ucap Keenan.
"Sekali lagi terima kasih sudah mengembalikan ponsel saya."
Keenan menganggukkan kepalanya, ia lantas tersenyum.
"Sampai jumpa." Keenan berlalu dari hadapan Fabian kemudian menghampiri mobilnya. Tidak berselang lama mobil itu pun melaju meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Fabian masuk ke dalam kantor Lembaga pemasyarakatan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Fabian saat ia dipertemukan dengan istrinya, Karmila.
"Apakah dengan keadaanku sekarang aku masih bisa menjawab kabarku baik-baik saja?"
"Ehm … sebenarnya maksud kedatanganku ke sini karena ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Hal penting apa? Tentang ibu, atau Rayyan?"
Fabian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lantas?"
"Ini tentang ehm …"
"Sebenarnya Mas mau bicara apa?"
"Aku-aku dipaksa menikahi Silvia."
"Bagaimana bisa begitu? Dia bahkan sudah gagal membantuku keluar dari penjara."
"Ini karena Silvia khawatir dirinya hamil setelah apa yang terjadi di antara kami di kamar hotel itu."
"Memangnya apa yang sudah kalian lakukan? Bukankah Mas sendiri yang mengatakan kalian tidak melakukan apapun saat di luar kota?!" Suara Mila terdengar lebih keras dari sebelumnya hingga membuat beberapa pasang mata yang berada di ruangan itu menoleh ke arah mereka.
"Ssssst. Jangan keras-keras. Nanti orang-orang mendengar obrolan kita."
"Apa yang sudah terjadi di antara kalian? Mustahil jika Silvia tiba-tiba minta dinikahi tanpa alasan yang jelas."
"Apa yang terjadi waktu itu adalah sebuah kecelakaan. Lebih tepatnya jebakan," ucap Fabian.
"Jebakan?"
"Di tempat seminar itu tidak sengaja Silvia bertemu dengan mantan kekasihnya yang bernama Dion. Dion yang masih menyimpan perasaan pada Silvia mengajaknya kembali menjalin hubungan. Namun Silvia menolaknya. Dia bahkan melontarkan kata-kata yang membuat pria itu sakit hati hingga akhirnya, …" Fabian menggantung ucapannya.
"Akhirnya apa?"
"Dion memasukkan pil perangs*ng ke dalam minumanku. Kurasa aku tidak perlu menjelaskan lagi apa yang terjadi setelahnya."
"Jadi, Mas akan menikahi perawan tua itu?!" Sekalian lagi Mila meninggikan suaranya.
"Sssst … kecilkan suaramu," ucap Fabian setengah berbisik.
Suasana hening sejenak.
"Mas akan menceraikanku dan menikahi perempuan itu? Itu yang Mas mau?"
Fabian meraih tangan Mila lalu menggenggamnya.
"Ja-ja-di, …?"
Fabian menganggukan kepalanya. Tentu saja ia tahu kemana arah pembicaraan istrinya itu.
"Mas harus janji. Setelah tujuan Mas tercapai, Mas harus meninggalkan perempuan itu dan kembali padaku," ucap Mila.
"Kamu jangan khawatir, Sayang. Aku tidak akan pernah berpaling darimu." Fabian mengecup punggung tangan Mila.
Entah apa sebenarnya yang ada di pikiran Fabian. Dia merasa hanya pernyataan itulah yang tepat untuk ia ungkapkan pada Mila. Setidaknya Mila tidak akan menentang rencananya untuk menikahi Silvia.
"Aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik," ucap Fabian sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Aku pegang janji Mas. Awas saja kalau Mas berani macam-macam!" ancam Mila.
Tidak berselang lama seorang petugas menghampirinya.
"Saudari Mila. Saatnya kembali ke sel tahanan," ucapnya. Kedua pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
*****
"Bagaimana, Bian? Kamu sudah bicara dengan istrimu?" tanya Silvia.
Fabian menganggukan kepalanya.
"Jadi, kapan kamu akan mengurus perceraian kalian?"
"Secepatnya."
__ADS_1
"Baiklah, saya akan segera membicarakan hal ini dengan ayah."
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Apa tuan Anthony setuju jika kita menikah?"
Silvia tersenyum.
"Saya putri ayah satu-satunya. Sedari kecil ayah tidak pernah menentang apa yang menjadi keinginan saya. Selagi itu membuat saya bahagia, ayah pasti akan mendukung saya."
Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dari arah depan ruangan itu. Silvia pun bergegas keluar untuk memeriksanya. Tampak di hadapannya seorang Office Boy tengah berjongkok sembari memunguti pecahan gelas tersebut.
"Apa kamu tidak bisa bekerja dengan benar 'hah?!" Silvia menatap laki-laki itu penuh amarah.
"Ma-ma-af, Bu. Saya kurang enak badan. Tiba-tiba saja tubuh saya lemas dan hampir rubuh. Itulah sebabnya gelas ini terjatuh," ungkap Office Boy itu.
"Sudah tahu sedang sakit, kenapa harus memaksakan diri berangkat bekerja?"
"Bulan ini saya sudah dua kali absen. Jika hari ini saya tidak masuk, saya takut kantor ini memberhentikan saya."
"Wajah kamu begitu pucat. Jika terjadi sesuatu, pasti pihak kantor yang disalahkan. Kamu pulang saja sekarang. Biar nanti aku yang bicara pada bagian HRD."
"T-t-tapi, Bu. Saya tidak akan dipecat 'kan?"
"Tidak. Sudah sana pulang."
"Terima kasih, Bu."
Office Boy itu pun lantas berlalu dari hadapan Silvia.
"Dasar pegawai rendahan!" umpat Silvia.
"Kamu kenal dengan Office Boy itu?" tanya Silvia pada Fabian.
"Ya. Bukankah dia yang pernah memergoki kita waktu itu?"
"Jangan-jangan dia menguping pembicaraan kita."
"Biarkan saja. Dia hanya Office Boy. Tidak akan berani berbuat macam-macam."
"Ya sudah, saya pergi dulu. Lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik, Bu."
"Kenapa masih memanggilku ibu? Aku 'kan calon istrimu?" protes Silvia.
"Ba-ba-baik, Via."
"Sampai jumpa, calon suamiku."
Fabian hanya menanggapi ucapan itu dengan senyum tipis di bibir.
"Kenapa semuanya jadi begini?" gumamnya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
__ADS_1
Happy reading…