Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Maaf yang bersyarat


__ADS_3

"Fab-Fab-Fabian? Kamu …?"


"Apa kabar … Ibu direktur Silvia?"


"Masih berani rupanya menginjakkan kaki di rumah ini," ketus Silvia.


"Mana ayahmu?"


"Ada urusan apa kamu mencari ayahku 'hah?!"


"Tentu saja ada hal penting yang harus kami bicarakan."


Rupanya obrolan keduanya terdengar hingga ke dalam kamar. Tuan Anthony yang penasaran pun keluar dari dalam kamarnya dan mengarahkan kursi rodanya menuju ruang tamu.


"Siapa yang bertamu, Via? Kenapa tidak kamu ajak masuk."


"Selamat siang, Tuan Anthony," sapa Fabian.


"Kamu? Berani sekali kamu muncul di hadapan saya!"


"Jangan marah-marah, Tuan. Aku datang ke sini dengan maksud baik-baik."


Fabian menerobos masuk ke dalam ruang tamu, ia lantas duduk bersilang kaki di atas sofa. Begitupun dengan bu Kinanti, dia duduk persis di sisi Fabian.


"Apa sebenarnya maksud kedatangan kalian? Tidak perlu bertele-tele!" desak tuan Anthony.


"Kenapa juga kamu harus mengajak serta ibumu."


"Jelas saja aku mengajak ibu, beliau lah satu-satunya saksi kunci peristiwa kecelakaan sepuluh tahun silam," ucap Fabian yang sontak membuat ayah dan anak itu kebingungan.


"Apa maksud ucapanmu? Kamu jangan coba-coba menipu kami!" seru tuan Anthony.


"Nama saya Kinanti, ibu kandung dari Almira, pejalan kaki yang sudah anda tabrak sepuluh tahun silam."


"Sudahlah, Nyonya. Bercandamu tidak lucu." Tuan Anthony terkekeh.


"Saya tidak bercanda, Tuan! Anda lah pembunuh putri saya!" Bu Kinanti meninggikan suaranya.


"Apa maksudmu?" Tiba-tiba raut wajah tuan Anthony berubah panik.


"Coba anda amati baik-baik foto gadis ini." Bu Kinanti mengambil selembar foto dan secarik kertas berisi nomor plat mobil yang dulu pernah ia catat lalu menyodorkannya pada tuan Anthony.


Jantungnya berdegup kencang saat mengamati wajah gadis di foto itu.


"Astaga. Gadis ini … dia… dia pejalan kaki itu," gumam tuan Anthony.

__ADS_1


"Bagaimana, Tuan? Anda masih ingat wajah itu 'bukan? Dan nomor plat mobil itu pun sama persis dengan plat mobil Tuan yang gagal dijual karena mesin mobilnya mati."


"Bagaimana kamu bisa tahu tentang rencana saya mau menjual mobil?"


"Tentu saja saya tahu. Saya mendengar obrolan kalian dengan pembeli mobil itu tadi."


"Ja-ja-di, …"


"Ya. Sayalah kurir yang mengantar makanan untuk Silvia. Sebenarnya ini hanya siasat saya untuk memastikan apakah plat mobil yang dicatat ibu saya benar-benar mobil yang telah menabrak Amira. Dan ternyata benar, anda lah yang membunuh adik saya!"


"Apa benar begitu, Yah? Katakan pada Via jika yang dikatakan Fabian bohong. Ayah tidak mengenal siapa gadis yang ada di foto itu 'kan?"


Anthony menghela nafas berat.


"Gadis yang berada di foto ini adalah pejalan kaki yang tertabrak mobilku," ucapnya dengan wajah tertunduk.


"Tidak! Tidak mungkin! Ini pasti salah!" teriak Silvia.


"Tuan sudah menghilangkan nyawa orang lain, itu artinya Tuan harus mempertanggungjawabkan perbuatan Tuan. Sekarang juga saya akan menghubungi polisi untuk menangkap Tuan," ucap Fabian.


"Tidak! Kumohon jangan laporkan ayahku pada polisi!" seru Silvia.


"Perlu kamu tahu, apa yang dilakukan ayahmu adalah tindakan kriminal. Ayahmu harus dipenjara! Selayaknya nyawa harus dibayar dengan nyawa!"


"Anda pikir masalah akan selesai hanya dengan kata maaf? Saat ini juga saya akan menghubungi polisi. Saya akan memastikan anda akan mendapatkan hukuman yang berat!"


Fabian baru saja mengambil ponselnya namun secara tiba-tiba Silvia merebut gawai pipih itu dari tangannya.


"Silvia! Kembalikan ponselku!" bentak Fabian.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan ayahku dipenjara!"


"Ayahmu sudah bersalah, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."


"Kumohon jangan lakukan itu. Belakangan ini ayahku sering sakit-sakitan. Aku tidak tega jika dia harus meringkuk di dalam tahanan."


Silvia dikenal angkuh, namun demi sang ayah ia rela berlutut di hadapan Fabian.


"Aku bisa saja membatalkan niatku menghubungi polisi, namun semua ada syaratnya."


"Syarat?"


"Bukankah Tuan sendiri yang mengatakan, akan memberikan apapun yang diminta keluarga pejalan kaki itu. Saya harap anda tidak menjilat ludah sendiri," ucap Fabian.


"Lantas?"

__ADS_1


"Saya kira kamu pun paham dengan maksud ucapanku."


"Suasana hening sejenak.


"Aku minta uang lima ratus juta," ucap Fabian.


"Dasar pemeras!" umpat Silvia.


"Baiklah, jika kalian menolak permintaan kami, sekarang juga aku akan menghubungi polisi!" Fabian merebut kembali ponselnya dari tangan Silvia.


"OK! OK! Aku ikuti permintaan kalian. Hari ini juga aku transfer uangnya ke rekeningmu!" seru Silvia.


"Itu saja yang ingin aku sampaikan. Terima kasih, Ibu direktur Silvia."


Silvia hanya mendengus kesal menanggapi ucapan mantan suaminya itu.


Tidak berselang lama Fabian dan ibunya pun lantas meninggalkan rumah tersebut.


"Kenapa kamu harus menuruti permintaan dua manusia tamak itu?" tanya Anthony sesaat setelah keduanya berlalu.


"Semua ini kulakukan demi Ayah. Aku tidak mau jika Fabian benar-benar melaporkan Ayah ke polisi. Sudahlah, tidak perlu mempermasalahkan uang 500 juta itu. Ayah lebih berarti bagiku," ujar Silvia.


"Terima kasih, Nak. Ayah begitu beruntung memiliki puteri sepertimu." Anthony lantas merengkuh tubuh putri semata wayangnya itu ke dalam pelukannya.


Fabian dan ibunya baru saja meninggalkan halaman rumah Silvia, ketika sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapan mereka.


"Kau rupanya. Perebut istri orang!" ketus Fabian.


"Kamu pasti merasa cemburu karena Silvia lebih memilihku dibandingkan dirimu 'bukan? Silvia itu seperti permata, sama sekali tidak pantas disandingkan dengan batu kerikil sepertimu."


"Memangnya kamu ini siapa? Hanya pesuruh yang naik kelas. Lihat saja nanti, setelah kalian menikah, Silvia akan menginjak-injak kamu."


"Bicara dengan orang tidak penting sepertimu hanya membuang waktuku saja," ucap Evan. Dia pun lantas berlalu dari hadapan Fabian.


"Awas kamu, Evan. Suatu hari nanti kamu akan membayar lunas penghinaan ini!"


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2