
Lekas kuangkat tubuh mungil itu lalu kudekap dalam pelukanku. Perlahan tangisnya pun mereda.
Aku menunggu beberapa saat hingga akhirnya pintu kamar yang berada di dekat ruang tamu terbuka. Sudah kuduga, mas Fabian dan Mila berada di dalam sana.
"Dek… kamu kok ada di sini?"
Aku menatap mereka bergantian.
Mas Fabian terlihat hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek. Sementara Mila mengenakan gaun tidur tipis tanpa lengan. Apalagi yang mereka lakukan jika bukan habis melakukan hubungan badan?
"Apa kalian sudah tidak punya hati 'hah? Bayi sekecil ini kalian tinggalkan sendirian di atas sofa, sementara kalian asyik berduaan di dalam kamar!"
"Apaan sih Mbak? Datang langsung marah-marah," cibir Mila.
"Bagaimana aku tidak marah dengan tingkah kalian. Bagaimana kalau Lyra jatuh. Apa kalian mau tanggung jawab!"
"Tapi Lyra gak apa-apa 'kan? Mbak nggak usah membesar-besarkan masalah."
"Kalau aku terlambat sedikit saja, mungkin akan lain ceritanya."
"Mbak kok bisa tahu alamat rumah ini?"
"Sudahlah. Tidak perlu mengalihkan pembicaraan. Aku datang ke sini untuk membawa Lyra pergi. Aku juga akan secepatnya mengurus surat perpisahan kita!"
__ADS_1
Aku melepas cincin kawin yang melingkar di jari manis tangan kiriku lalu meletakkannya di atas meja. Tak kusangka jika aku melepas cincin seberat dua gram yang telah sepuluh tahun mengikat tali suci pernikahan kami.
"Mbak ini sombong sekali. Gak punya uang saja sok-sokan ingin cerai," cibir Mila lagi.
"Aku sudah berpamitan pada ibu juga. Aku harap kalian merawat ibu dengan baik. Jangan pernah sekalipun bersikap kasar apalagi menyakiti hatinya."
Aku membalikkan badanku hendak beranjak dari ruangan itu. Tanpa kuduga, mas Fabian mendekat ke arahku dan berusaha merebut paksa Lyra dari gendonganku.
"Aku tidak akan membiarkanmu membawa Lyra dariku!" serunya.
"Lyra masih di bawah umur. Jika kita sudah resmi berpisah nanti, hak asuhnya akan jatuh ke tanganku," ucapku.
"Mbak tidak punya tempat tinggal, apalagi pekerjaan. Bagaimana cara Mbak menghidupi Lyra? Sudah pasti hak asuh Lyra akan jatuh ke tangan ayahnya." Mila menimpali.
Tiba-tiba ponselku berdering. Lekas kuambil benda pipih itu dari saku rok panjangku. Rupanya pihak rumah sakit yang menelponku.
[Halo, Assalamu'alaikum. Apa benar dengan ibu Azzura, selaku penanggung jawab pasien atas nama ibu Kinanti?]
[Benar, Bu. Ada apa Ibu menghubungi saya?]
[Saya ingin memberi kabar jika beberapa saat yang lalu ibu Kinanti terjatuh dari ranjang pasien. Kebetulan perawat sedang keluar dari ruangan untuk mengambil botol infus baru]
[Astaghfirullah! Lantas, bagaimana keadaan ibu saya sekarang?]
__ADS_1
[Pasien tidak sadarkan diri]
[Baiklah, terima kasih atas infonya.]
Panggilan terputus.
"Ibu jatuh dari ranjang pasien dan tidak sadarkan diri," ucapku pada mas Fabian.
Mas Fabian masuk ke dalam kamar lalu mengenakan kembali pakaiannya.
"Silahkan kalau kamu ingin tetap pergi. Jangan menyesal jika sesuatu terjadi pada ibu!" serunya sembari berlalu dari hadapanku.
Apa yang harus kulakukan? Ya Rabb…lagi-lagi aku dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah aku tetap harus pergi? Atau aku kembali bertahan?
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
__ADS_1