
Aku terperanjat saat tiba-tiba terdengar suara pintu berderit. Rupanya rasa kantukku tak tertahan lagi hingga aku ketiduran di sofa. Kulihat ibu berjalan sempoyongan di ruang tamu. Hampir saja tubuhnya menimpaku jika aku tidak lekas menghindar.
"Astaghfirullah. Ibu kenapa?" tanyaku.
"Irwan…Irwan, …" ucap ibu sebelum akhirnya tubuh itu tumbang.
Kenapa ibu menyebut nama Irwan? Apa ini artinya ibu semalaman bersama laki-laki itu?
Kulepas sepatu ibu lalu kubenahi posisi kepalanya agar lebih nyaman. Sontak kututup hidungku saat aku mencium aroma khas minuman memabukkan itu dari mulut ibu.
Kenapa Ibu begini? Apa yang Ibu lakukan semalaman? Dan siapa laki-laki bernama Irwan itu? Tanpa kusadari buliran bening itu menetes dari sudut mataku.
"Apa Ibu habis minum?" tanyaku.
"Irwan…Irwan…oh, malam ini aku bahagia sekali." Ibu kembali meracau.
"Siapa Irwan, Bu? Apa laki-laki itu yang membuat Ibu begini?" tanyaku lagi.
"Irwan… jangan tinggalkan aku, Sayang."
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang terucap dari mulut ibu sebelum akhirnya terlelap.
__ADS_1
"Ya Rabb, ampunilah dosa ibuku," lirihku.
****
Rasanya baru sebentar saja aku membaringkan tubuhku di sisi Lyra, namun adzan subuh sudah berkumandang. Berusaha tak membuat suara, perlahan kututup pintu kamarku. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seseorang yang tengah tertidur di atas sofa ruang tamu. Aku baru ingat menjelang dini hari tadi ibu
pulang dengan langkah sempoyongan serta mulut beraroma minuman memabukkan.
Kuhampiri ibu, lalu kukecup lembut keningnya. Meskipun belakangan sikap ibu seringkali membuatku mengelus dada, aku masih tetap menyayanginya, dan akan selalu menyayanginya.
Tiba-tiba ibu terbangun. Entah berapa banyak ia menenggak minuman keras itu, tanpa kuduga ia memuntahkan seluruh isi perutnya di atas sofa. Aku hanya bisa mengurut dada melihatnya.
Seperti kesadaran ibu mulai kembali. Aku berharap ia bisa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang akan kuajukan.
"Irwan! Laki-laki itu bren*sek!"
"Kalau boleh kutahu, apa yang dilakukan laki-laki bernama Irwan itu hingga Ibu semarah ini?"
"Awalnya laki-laki itu bersikap lembut padaku. Tapi pada akhirnya dia memaksaku untuk minum. Entah apa yang dimasukkan ke dalam minumanku, hingga membuatku mengantuk berat lalu dia, hu hu hu…"
"Apa yang dilakukan laki-laki itu?" tanyaku.
__ADS_1
"Saat aku sadar, aku sudah berada di dalam sebuah kamar dalam keadaan telan*ang. Dia dia sudah hu…hu…hu…"
"Astaghfirullah! Jadi laki-laki itu sudah, …"
Aku tak sanggup lagi melanjutkan kalimat itu. Dari penuturan ibu, aku bisa menangkap jika laki-laki itu memaksa ibu untuk minum. Dia lalu memasukkan sesuatu ke dalam minumannya hingga membuat ibu kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ibu mendapati dirinya dalam keadaan telan*ang lantaran laki-laki itu telah berbuat sesuatu padanya.
Aku meraih ponsel ibu. Tentu saja aku ingin tahu siapa dan seperti apa wajah laki-laki bernama Irwan itu. Apakah kecurigaanku benar, jika Irwan yang dikenal ibu adalah Irwan kakak kandung sahabatku, Khumayra. Namun, aku cukup dibuat kesal lantaran foto profil di kontak itu tak muncul. Kemungkinan besar nomor itu telah memblokir nomor ibu.
"Ibu takut, Nak," lirih ibu.
"Ibu takut kenapa?"
"Bagaimana jika ibu hamil?"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1