Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Dikejar dosa


__ADS_3

Menjelang sore Silvia tiba di rumahnya.


"Ayah di mana, Bi?" tanyanya pada sang asisten rumah tangga lantaran tak menemukan sang ayah di dalam kamarnya.


"Tuan ada di taman belakang, Non."


"Tumben sekali jam sore-sore begini Ayah ada di taman," ucap Silvia.


Pria yang tengah duduk di kursi roda itu rupanya tengah melamun. Ia bahkan sedikit berjingkat saat putri semata wayangnya itu mengusap pundaknya.


"Kamu sudah pulang, Nak?"


"Sepertinya Ayah sedang melamun. Apa ada sesuatu yang menggangu pikiran Ayah?"


"Beberapa hari ini ayah sering bermimpi buruk."


"Mimpi buruk?"


"Benar. Ayah merasa dikejar rasa bersalah akibat perbuatan ayah di masa lalu."


Silvia mengambil posisi jongkok persis di hadapan sang ayah.


"Jika aku boleh tahu, apa kesalahan yang pernah Ayah lakukan di masa lalu?"


Tiba-tiba ingatan Anthony kembali pada sepuluh tahun silam.


*Flashback on*


Siang itu Anthony tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sengaja pulang lebih awal demi merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke 25 tahun.


Di saat itulah tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor telepon rumah tertera di layar ponselnya. Hanya asisten rumah tangga nya lah yang menghubunginya dengan nomor telepon tersebut.


[Halo, Tuan]


[Ya. Ada apa, Bi?]


[Nyonya … Nyonya]

__ADS_1


[Kenapa dengan istri saya?]


[Nyonya Vivian jatuh dari tangga.]


[Astaga. Bagaimana dia bisa terpeleset?]


[Sepertinya kaki nyonya terkilir karena hak sepatunya patah.]


[Lantas, bagaimana keadaannya sekarang?]


[Nyonya tak sadarkan diri. Saya ingin membawanya ke rumah sakit tapi nona Silvia belum pulang.]


[Baiklah, tidak lama lagi saya tiba di rumah.]


Anthony berniat memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas nya. Namun, gawai tersebut justru meleset hingga akhir terjatuh tepat di bawah bangku kemudi. Dengan tangan kiri ia berusaha meraih ponsel itu sementara tangan kanannya masih memegang kemudi. Akhirnya ia mendapatkan kembali ponselnya. Di saat itulah hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba saja seorang pejalan kaki melintas persis di hadapannya. Dengan sigap ia menginjak rem mobilnya. Namun sayang, jarak antara badan mobil dengan pejalan kaki itu terlalu dekat.


"Bruk!" Tabrakan pun tak terhindarkan. Tubuh pejalan kaki itu ambruk kemudian terjatuh di jalan beraspal.


Rasa panik sekaligus kebingungan pun sontak menyergapnya. Di satu sisi ia ingin menolong pejalan kaki itu, namun, di lain sisi ia juga harus secepatnya tiba di rumah untuk membawa istrinya ke rumah sakit.


Anthony turun dari dalam mobilnya, ia lantas mengedarkan pandangannya di jalan yang cukup sepi itu. Tak ada seorang pengguna jalan yang melintas. 


Meskipun dipenuhi rasa bersalah, Anthony tidak punya pilihan selain meninggalkan tempat itu. Namun, satu hal yang begitu membekas di ingatannya hingga kini adalah suatu jeritan seorang perempuan yang sempat ia dengar sesaat setelah mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


"Amira". Nama itulah yang disebutnya.


*Flashback off*


"Kurang lebih sepuluh tahun lalu mobil ayah tidak sengaja pernah menabrak seorang pejalan kaki. Amira, itulah nama yang sempat ayah dengar dari teriakan seorang perempuan."


"Lantas, bagaimana keadaan pejalan kaki itu?"


"Entahlah. Ayah terpaksa meninggalkannya karena ayah khawatir dengan keadaan ibumu. Meskipun pada akhirnya ibumu tidak selamat karena luka yang dialaminya cukup parah. Akhir-akhir ini ayah selalu bermimpi buruk seolah pejalan kaki itu mengejar dan meminta pertanggungjawaban dari ayah."


"Ayah jangan terlalu memikirkannya. Mimpi buruk bisa dialami siapa saja," hibur Silvia.


"Ayah ingin mencari tahu apa yang terjadi pada pejalan kaki itu. Jika memang dia masih hidup, ayah akan memberi apapun yang ia minta. Dan jika dia sudah tiada, ayah akan memenuhi apapun permintaan keluarganya. Sekalipun mereka akan menuntut ayah atas kecelakaan itu."

__ADS_1


"Sudahlah. Ayah tidak perlu mencari di mana keberadaan pejalan kaki itu ataupun keluarganya. Bagaimana jika ternyata pejalan kaki ityu sudah meninggal dan keluarganya benar-benar menuntut Ayah.


Apa Ayah mau masuk penjara? Dipenjara itu tidak enak. Ayah tidak bisa bebas melakukan apapun."


"Ayah tidak mau seumur hidup dikejar rasa bersalah."


"Tapi, Yah, …"


"Biarkan ayah sendiri." Anthony memutar kursi rodanya dan sedikit menjauh dari putri semata wayangnya itu.


Silvia yang tadinya ingin membicarakan perihal rencana pernikahannya dengan Fabian itu pun urung melakukannya. Dia memilih meninggalkan taman kecil itu lalu masuk ke dalam rumah.


"Bibi perhatikan belakangan ini tuan Anthony sering menyendiri dan murung. Apa tuan sedang menghadapi masalah, Non?" ucap sang asisten rumah tangga.


"Tidak kok, Bi. Ayah baik-baik saja. Ayah hanya sedang merindukan mendiang ibu."


"Begitu, ya?"


"Bibi tolong buatkan secangkir cokelat hangat lalu antar ke kamarku."


"Baik, Non."


Silvia berlalu dari hadapan sang bibi, ia lantas berjalan menuju kamarnya.


"Aku tidak akan membiarkan ayah mengungkit kembali masalah itu. Aku tidak ingin ayah dipenjara. Hanya dia lah satu-satunya yang kumiliki di dunia ini," gumam Silvia.


Silvia mengambil ponselnya dan lekas menghubungi seseorang.


[Halo, Evan. Kita bertemu sekarang.]


Rencana apa yang akan dilakukan Silvia? Simak terus kelanjutannya ya Kak.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


__ADS_2