
Dengan langkah gontai aku memasuki sebuah kamar perawatan. Kulihat ibu yang sudah sekian lama tidak kujumpai itu tergolek lemah di atas ranjang pasien.
"Siapa?" tanyanya saat mendengar suara derit pintu.
"Ibu…ini aku putrimu, Azzura," jawabku.
"Azzura siapa?"
"Azzura putri Ibu."
"Aku tidak mengenalmu."
"Kata ayah, Ibu yang memberiku nama Azzura sesaat setelah aku lahir. Tidak mungkin Ibu lupa padaku." Aku meraih tangan ibu lalu menggenggamnya.
"Jangan mendekat! Pergi! Kepalaku! Kepalaku sakit!" teriak ibu sembari memegangi kepalanya.
"Ibu kenapa?" tanyaku dengan raut wajah cemas.
"Jangan mendekat!"
Ibu mendorong tubuhku dengan cukup kuat hingga aku yang tengah menggendong Lyra nyaris terjatuh.
"Dokter! Tolong ibu saya. Beliau berteriak kesakitan," ucapku pada dokter kebetulan hendak memasuki kamar perawatan ibu.
Dokter itu pun lantas memeriksa ibu.
"Apa yang terjadi pada ibu saya, Dok? Kenapa beliau tidak mengenali saya? Beliau juga terus berteriak kesakitan."
"Sepertinya benturan keras di kepala ibu anda juga menyebabkan beliau kehilangan ingatannya," jelas dokter.
Tentu saja pernyataan itu membuatku begitu terpukul. Selain mengalami kebutaan, ibu juga mengalami amnesia.
"Berapa lama ibu harus dirawat, Dok?" tanyaku lagi.
"Ibu anda diperbolehkan meninggalkan rumah sakit jika kondisinya sudah stabil. Saya menyarankan agar ibu anda dirawat untuk beberapa hari ke depan."
Bagaimana ini? Siapa yang akan menjaga ibu? Aku tidak mungkin membiarkan Lyra berlama-lama di rumah sakit ini. Kak Darren. Hanya dia lah satu-satunya yang bisa kumintai tolong untuk menjaga ibu.
Aku meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju kamar perawatan Fatimah.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Waalaikumsalam," jawab Fatimah dan kak Darren bersamaan. Keduanya terlihat tengah bersiap meninggalkan rumah sakit.
"Loh, Ra? Kamu masih di sini?" tanya Fatimah.
"Aku sudah meninggalkan rumah sakit ini tapi saat di tengah perjalanan aku melihat kecelakaan. Korban kecelakaan itu ternyata ibu."
"Ibu? Jadi, ibu kalian masih hidup?" tanya Fatimah.
"Ya. Dan sekarang beliau berada di salah satu kamar perawatan di rumah sakit ini."
"Bagaimana keadaan ibu kalian?"
"Keadaan ibu tidak begitu baik. Bahkan bisa dibilang begitu buruk."
"Maksud kamu apa, Ra?"
"Kecelakaan itu menyebabkan beliau kehilangan indera penglihatan sekaligus ingatannya."
__ADS_1
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un."
"Apa Kakak tidak ingin melihat ibu?" tanyaku pada kak Darren. Aku yakin dia juga kaget mendengar kabar buruk ini.
"Aku harus mengantar Fatimah pulang," jawabnya datar.
"Jika Mas ingin menjaga beliau, tidak apa. Aku bisa pulang naik taksi," ucap Fatimah.
"Selain Kakak, aku tidak tahu lagi siapa yang kumintai tolong untuk menjaga ibu," ucapku.
"Kamu 'kan anak kesayangannya. Kenapa nggak kamu saja yang menjaganya?"
"Mas 'kan tahu, Lyra baru berumur dua bulan. Tidak mungkin Zura mengajaknya berlama-lama di rumah sakit ini." Fatimah menimpali.
"Ayo kita pulang sekarang."
Kak Darren mengangkat tas berisi pakaian ganti dan hendak meninggalkan ruangan ini.
"Kak Darren! Tunggu!" seruku.
"Aku tunggu di tempat parkir."
Aku tak bisa berbuat banyak. Kakak laki-laki ku itu benar-benar pergi daru hadapanku.
"Aku minta maaf atas sikap mas Darren," ucap Fatimah.
"Tidak apa. Mungkin aku harus sering-sering menjenguk ibu."
"Oh ya. Bagaimana dengan biaya rumah sakit?"
"Alhamdulillah, aku sudah membayarnya."
"Jika kamu butuh biaya tambahan, jangan sungkan-sungkan bilang padaku. Insyaallah aku bantu," ucap Fatimah.
"Aku bukan hanya sahabatmu, Ra. Aku kan istri mas Darren yang artinya keluargamu juga," protesnya.
"Oh iya. Aku seharusnya memanggilmu Mbak Fatimah," ucapku yang ditanggapinya dengan nyengir kuda.
"Kamu pulang saja. Kak Darren pasti sudah menunggu di mobil," ucapku.
"Lantas, kamu mau menjaga ibumu di sini?"
"Aku akan meminta perawat agar sering-sering mengawasi kamar perawatan ibu. Mungkin besok aku kembali lagi ke sini."
"Oh ya. Tempat kost kamu di mana?"
"Di belakang pabrik tekstil LR."
"Kita bareng aja. Searah kok dengan rumah kami. Atau kamu tinggal saja di rumah kami," ucap Fatimah.
"Terima kasih untuk tawarannya. Tapi aku tidak ingin merepotkan kalian."
"Kita 'kan keluarga. Tidak ada kata merepotkan," ujar Fatimah.
Aku menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Kita pulang sekarang," ucap Fatimah.
Kami pun lantas berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit. Fatimah masuk ke dalam mobil kak Darren sementara aku menaiki taksi yang akan mengantarku hingga ke tempat tinggalku.
__ADS_1
Aku tiba di tempat kost saat jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Bersamaan dengan jam pulang karyawan pabrik.
"Mbak Zura dari mana?" tanya Rahma saat aku baru saja memasuki pintu gerbang.
"Dari rumah sakit. Ada salah satu saudaraku yang baru saja melahirkan," jawabku. Kamu baru pulang?"
"Iya, Mbak. Ehm, aku boleh nggak menggendong Lyra?"
"Memangnya kamu berani?" tanyaku.
"Berani dong. Aku ini kan calon ibu juga. Jadi harus belajar bagaimana cara menggendong bayi," ujarnya.
Dengan hati-hati aku memindahkan Lyra dari gendonganku lalu memberikannya pada Rahma.
"Aku sudah pantas 'kan menjadi ibu?" Rahma terkekeh.
"Kamu masih muda. Jangan mikir nikah apalagi punya anak."
"Loh. Memangnya kenapa, Mbak? Bukannya nikah itu enak ya? Ada yang nemenin kita tidur. Ada yang cari nafkah juga buat kita."
Aku tersenyum hambar.
"Menikah bukan hanya tentang teman tidur dan nafkah. Lebih dari itu, menikah adalah kita dituntut untuk bisa saling menerima dan membiasakan diri dengan kekurangan pasangan," ucapku.
"Begitu ya. Aku pikir perempuan yang sudah menikah itu hidupnya enak. Dia selalu merasa aman dan dilindungi."
"Mungkin jika perempuan itu beruntung, dia akan mendapatkan jodoh yang baik. Yang sayang, pengertian, dan…setia."
Ada rasa perih yang tiba-tiba menyeruak saat kata terakhir itu meluncur dari bibirku.
Mas Fabian yang kupikir setia ternyata menikahi perempuan lain, bahkan dia melakukannya secara diam-diam. Ah! Kenapa aku jadi ingat nama itu?
"Sepertinya dari kemarin aku tidak melihat ayahnya Lyra. Apa dia tidak ikut tinggal di sini?" tanya Rahma penasaran.
"Ehm, ayahnya Lyra bekerja di luar kota," jawabku.
Sepertinya hanya kalimat itu jawaban yang tepat untuk pertanyaan Rahma. Aku tidak ingin dia berpikir aneh-aneh pada pria jika aku menceritakan kisah hidupku yang sebenarnya.
"Mari masuk, sudah sore," ucapku.
Kami pun lantas berjalan beriringan menuju kamar kost.
******
Berita kecelakaan yang menimpa Sabrina sampai juga di telinga pak Prayoga. Sore itu juga dia berencana mendatangi rumah sakit.
"Ayah mau kemana sore-sore begini?". tanya Widya saat mendapati sang ayah tengah bersiap keluar rumah.
"Ehm, ayah-ayah mau keluar sebentar, ada keperluan."
"Ayah gak usah bohong. Ayah pasti akan pergi menemui perempuan itu 'kan?"
"Ti-ti-tidak, Nak. Ayah ada urusan sebentar."
"Kalau Ayah memang tidak bohong, aku mau ikut," ucap Widya yang sontak membuat sang ayah kebingungan.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
__ADS_1
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰