Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hancur


__ADS_3

POV Author


"Ibu perhatikan sedari tadi kamu terlihat kebingungan. Apa kamu sedang ada masalah?" tegur bu Kinanti pada Fabian pagi itu.


"Seharusnya hari ini pak Daniel mengirim sisa pembayaran. Tapi sedari tadi nomor handphone nya sulit dihubungi."


"Ini baru jam setengah tujuh pagi. Tunggu lah beberapa jam lagi. Mungkin dia masih tidur." Sang ibu berusaha menghibur. "Sekarang sarapan saja dulu. Nanti keburu dingin," imbuhnya.


Pintu kamar utama terbuka. Fabian atau sang ibu tak heran jika Maureen baru akan bangun setelah Fabian menyelesaikan sarapannya.


"Mas … hari ini ke dokter yuk," ucap Maureen seraya menarik sebuah kursi.


"Kamu sakit?"


"Nggak kok. Aku ingin kita ikut program hamil."


"Tidak perlu, nanti kalau sudah waktunya kamu juga pasti hamil."


"Mas kok gitu sih? Lama-lama aku kesal sama tetangga yang suka gosipin aku nggak bisa hamil lagi."


"Sudah lah, jangan dengarkan omongan tetangga. Aku nggak mau program hamil atau apalah itu. Aku berangkat dulu."


"Sepagi ini?"


"Kamu yang membuatku tidak betah di rumah."


"Jangan-jangan benar dugaanku. Mas punya selingkuhan di luar sana."


"Maureen. Ini masih pagi. Jangan memancing keributan!"


"Memangnya Mas mau ngapain sepagi ini di konveksi?"


"Itulah, banyak hal yang nggak kamu tahu selain minta uang dan minta uang."


"Kalian berdua benar-benar membuat kepala ibu pusing. Apa kalian tidak bisa damai walaupun sehari saja? Hal sepele saja selalu berakhir jadi pertengkaran."


"Kamu yang mulai duluan."


"Kamu!"


"Kamu"

__ADS_1


"Hufht!" Bu Kinanti mendengus kesal sebelum akhirnya berlalu dari hadapan keduanya.


Fabian meninggalkan rumah tanpa berpamitan pada Maureen. Kemana lagi tujuannya sepagi ini jika bukan ke rumah kekasih gelapnya, Nesya.


"Pagi-pagi begini kok sudah kusut begitu sih, Pak," ucap Nesya sesaat setelah membuka pintu depan rumahnya. Gadis yang tubuhnya hanya terbalut handuk tipis itu terlihat segar setelah mandi pagi.


"Pak Daniel dari semalam sulit dihubungi."


Fabian memulai obrolan.


"Jangan-jangan, …"


"Jangan-jangan apa? Jangan membuatku semakin bingung!" sentak Fabian.


"Jangan marah-marah begitu," ucap Nesya seraya mengusap dada bidang Fabian.


Jika saja pikirannya saat ini tidak kalut, bukan tidak mungkin pria itu melampiaskan hasraatnya pada Nesya. Kucing mana yang menolak jika disuguhi ikan asin.


"Bapak sudah sarapan?" tanya Nesya.


Fabian menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya istri Bapak sudah bosan ngambeknya. Jadi dia menyiapkan sarapan Bapak."


"Oh. Tadinya saya mau mengajak Bapak sarapan bubur ayam di perempatan jalan sana."


"Ya sudah, saya berangkat dulu."


"Loh, kok buru-buru, Pak."


"Memangnya kamu mau teman-temanmu melihat saya ada di sini?"


Fabian pun lantas meninggalkan rumah kontrakan Nesya.


****


Sesampainya di konveksi.


"Selamat pagi, Pak," sapanya pada security yang sudah lebih dulu tiba di tempat itu.


"Se-se-selamat pagi, Pak. Ehm … saya turut prihatin atas apa yang Bapak alami."

__ADS_1


"Apa maksud Bapak?"


"Jadi, Bapak belum tahu berita penipuan itu?"


"Berita penipuan?"


Petugas keamanan konveksi itu pun mengambil selembar koran lalu menyodorkannya pada Fabian. Matanya terbelalak saat membaca judul yang tertera di halaman depan media cetak tersebut.


POLISI MENANGKAP PRIA BERINISIAL D YANG DIDUGA MENJADI PELAKU PENIPUAN DARI BEBERAPA PENGUSAHA TEKSTIL DAN KONVEKSI.


Dari judul berita, pandangannya bergeser ke bagian foto pria yang berada persis di bawah judul. Tubuhnya seketika lemas saat melihat foto wajah pria yang diduga sebagai penipu itu.


"Pak Daniel? Tidak! Tidak mungkin! Aku tertipu Milyaran rupiah! Pak, berita ini tidak benar 'kan?"


"Ehm … berita itu benar, Pak. Konveksi ini menjadi salah satu korban penipuan pak Daniel," jelas security.


"Tidak! Tidak! Berita ini pasti salah! Saya harus ke kantor polisi sekarang juga."


"Pak! Bapak Fabian mau kemana?" tanya security. Fabian yang tengah dilanda kebingungan itu tentu saja tak menghiraukan panggilan security. Ia berjalan menghampiri mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.


"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa pada pak Fabian," gumam security.


Beberapa saat kemudian beberapa karyawan konveksi mulai datang termasuk kepala produksi, Benny.


"Tadi saya berpapasan dengan mobil pak Fabian. Sepertinya buru-buru. Memangnya dia mau kemana?" tanyanya pada security.


"Pak Fabian shock berat karena melihat berita di koran ini."


"Berita apa, Pak?"


"Bacalah," ucap security seraya menyodorkan koran pada Benny.


"Apa yang saya takutkan benar-benar terjadi. Konveksi ini rugi besar karena tertipu Milyaran rupiah. Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk termasuk jika konveksi ini harus ditutup," ujar Benny.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2