
Kuakui mimpi itu cukup mengganggu, namun aku tetap mencoba berpikir positif, mimpi hanyalah bunga tidur yang tidak selalu bermakna.
Sehari menjelang hari pernikahanku dengan Gibran, seisi rumahku sudah disibukkan dengan beberapa persiapan.
Meski awalnya keberatan, akhirnya aku mengikuti perintah ibu untuk melakukan tradisi luluran bagi calon pengantin. Konon tradisi ini akan membuat calon pengantin wanita tampil mengesankan bagi pasangannya.
Untuk urusan dekorasi dan konsumsi, aku mempercayakannya pada salah satu pelanggan konveksi ku yang juga pemilik sebuah Wedding Organizer. Menurut Pak Amin semua undangan pernikahan juga sudah selesai disebar.
"Aku tidak sabar lagi melihat Ibu memakai baju pengantin," ucap Fina. Aku menanggapi ucapannya dengan senyum simpul di bibir.
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar kegaduhan dari arah halaman rumahku.
"Ular! Ular!" teriak Seto yang juga ikut bantu-bantu mempersiapkan acara pernikahanku.
Astaghfirullah! Bagaimana bisa ada ular masuk ke halaman rumahku?
Semoga ini bukan pertanda buruk.
"Jangan bunuh ular itu! Kalau sudah berhasil ditangkap masukkan ular itu ke dalam karung lalu buang di alam liar," titahku.
Perlu beberapa saat sebelum akhirnya mereka berhasil menangkap ular itu. Ular berukuran cukup besar itu pun akhirnya dibuang ke sebuah hutan yang berada tidak jauh dari perumahan tempat tinggalku.
"Semoga ini bukan pertanda buruk ya, Bu," ucap Seto.
"Ya, mungkin kebetulan saja ular itu keluar dari habitatnya." Fahmi menimpali.
"Ibu tidak usah berpikir macam-macam, insya Allah acara besok akan berjalan lancar," hibur Fina.
Beberapa saat kemudian kudengar suara dering ponsel dari dalam kamarku. Fina pun berinisiatif untuk mengambil ponsel tersebut dan memberikannya padaku.
"Cie … calon suami nelpon nih ye," godanya.
Rupanya Gibran melakukan panggilan video.
[Kenapa kamu melakukan panggilan video? Kata ibu pamali sepasang pengantin yang akan menikah bertemu]
[Kita kan tidak bertemu, kita hanya saling menatap muka melalui layar ponsel. He he he. Seminggu tidak bertemu denganmu, serasa sewindu]
"Rayuan Mas Gibran bikin ibu klepek-klepek lho." Tiba-tiba saja Fina merebut ponselku lalu menimbrung obrolan kami.
[Oh, ada kamu rupanya Fin]
[Mas Gibran tahu nggak? Hari ini ibu mau luluran loh. Biar nanti Mas Gibran pangling saat hari H]
__ADS_1
[Oh ya?]
[Aku jadi tidak sabar ingin cepat-cepat besok pagi]
"Aku pergi dulu deh, nggak enak mengganggu obrolan calon pengantin," ucap Fina. Ia pun lantas selalu dari hadapanku.
[Loh, kamu di mana? Sepertinya kamu di luar rumah?]
[Aku di toko pakaianku]
[Kenapa kamu masih saja keluar rumah? Kata ibu pamali bagi calon pengantin keluar rumah tiga hari menjelang hari pernikahannya]
[Aku hanya memeriksa stock pakaian gudang saja. Setelah itu aku pulang]
[Tetap saja namanya keluar rumah]
Dari layar ponselku tiba-tiba saja seorang gadis berambut panjang menyapaku.
[Assalamu'alaikum. Oh ini yang namanya Bu Azzura. Masya Allah ternyata calon istri Pak Gibran memang cantik. Wajar kalau Pak Gibran sangat mencintai Bu Azzura]
[Waalaikumsalam. Tidak usah memuji berlebihan begitu]
"Ya sudah, Pak, saya kembali ke gudang."
Wajah Gibran kembali muncul di layar ponselku.
[Aku cerita apa adanya, kalau calon istriku yang bernama azura ini adalah perempuan yang cantik, sholehah, dan mandiri]
[Tidak usah berlebihan begitu]
[Siapa yang berlebihan? Memang kenyataannya begitu]
[Ya sudah jangan berlama-lama di luar rumah, segera pulang ke rumahmu]
[Iya, Sayang]
[Aku tutup dulu teleponnya, di sini sedang sibuk, Assalamu'alaikum]
[Tunggu!]
[Ada apa lagi?]
[Aku bersyukur Allah menghadirkanmu dalam hidupku. Aku mencintaimu, Azzura]
__ADS_1
[Besok saja kalau sudah sah ngucapin kata-kata romantisnya]
[Apa kamu tidak mau membalas ucapanku?]
[Jangan bicara yang aneh-aneh, aku malu bila ada yang mendengar]
[Ayolah, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu]
[Memangnya aku harus membalas bagaimana?]
[Katakan kalau kamu juga mencintaiku]
[Aku tersenyum]
[Kok cuma senyum saja?]
[Iya … Gibran. Aku juga mencintaimu]
[Terima kasih]
[Kenapa kamu berterima kasih?]
[Tidak apa. Ya sudah aku tutup dulu teleponnya. Astaghfirullahaldzim!]
Panggilan video terputus.
Aku mencoba menghubunginya namun ia tidak mengangkat panggilan dariku. Apa gerangan yang terjadi dengannya? Apa mungkin ia kaget karena karyawannya melakukan kesalahan? Aku menepis jauh-jauh pikiran buruk yang tiba-tiba melintas di kepalaku.
"Nak, orang yang akan melulurmu sudah datang," ucap ibu yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku bersama seorang perempuan yang mungkin usianya tidak terpaut jauh darinya.
"Mari, Bu, langsung ke kamar saya saja," ucapku. Ia pun mengangguk paham.
Setelah selesai luluran, aku kembali menghubungi nomor Gibran. Aneh, kenapa nomornya tidak bisa dihubungi?
"Semoga semuanya baik-baik saja
Mungkin baterai ponselnya habis," batinku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰