
Di sebuah kampus.
"Hai, Fina," sapa Rizal yang baru saja memasuki ruang kelas.
Fina yang tengah asyik mengobrol dengan kawannya itu pun sontak menoleh ke arahnya.
"Eh, kamu Zal. Sepertinya kamu senang sekali pagi ini. Apa kamu habis menang lotre?" Fina dan salah satu kawan sekelasnya, Shinta terkekeh.
"Sembarangan. Aku sedang senang saja."
"Aku jadi penasaran apa yang membuatmu begini."
"Oh ya, nanti setelah selesai kuliah makan bakso yuk. Biar aku yang traktir."
"Ma-ma-makan bakso?"
"Iya. Aku habis dapat honor dari majalah."
"Kok Fina saja yang diajak. Aku juga mau dong ditraktir," protes Shinta.
"Kamu makannya banyak, Bu. Bikin bangkrut saja," ledek Rizal yang ditanggapi Shinta dengan nyengir kuda.
Shinta memang memiliki postur tubuh yang lebih padat dan berisi jika dibandingkan dengan Fina ataupun teman-teman sekelasnya, membuat usianya yang baru menginjak 21 tahun itu terlihat seperti perempuan yang sudah melahirkan banyak anak.
"Gimana, mau nggak?" tanya Rizal pada Fina.
Fina pun menganggukkan kepalanya.
Kapan lagi diajak jalan bareng pemuda seperti Rizal. Sudah ganteng, mandiri lagi. Ia tidak pernah mengandalkan uang kiriman uang dari kedua orangtuanya di kampung. Untuk membiayai kuliahnya, ia bekerja sebagai freelance di sebuah kantor majalah remaja. Tanpa diketahui siapapun, Fina sudah cukup lama mengagumi kawan sekelasnya itu. Namun, sebagai perempuan ia hanya bisa memendam perasaannya. Meski kecil, ia berharap Rizal memiliki perasaan yang sama dengannya dan suatu hari nanti ia akan mengungkapkannya.
"Selamat pagi," sapa seorang dosen yang baru saja memasuki ruangan itu.
"Selamat pagi, Pak," sahut seisi kelas serempak.
"Loh, bukannya itu pak Darren?" ucap Fina.
"Mulai hari ini saya akan menggantikan bu Cindy yang sedang cuti melahirkan."
"Kamu kenal dengan dosen itu, Fin?" tanya Rizal yang duduk tidak jauh dari bangku Fina.
"Pak Darren adalah adik laki-lakinya ibu," jawab Fina setengah berbisik.
"Hai yang di sana. Tolong jangan mengobrol saat saya berada di dalam kelas!" seru Darren. Sontak kedua mahasiswa itu diam.
"Pak Darren ternyata tegas banget saat menjalankan tugasnya," gumam Fina.
****
Menjelang siang jam kuliah berakhir.
"Ayo, Fin, kita jalan," ucap Rizal seraya menggandeng tangan Fina.
Andai Rizal tahu, saat itu jantung Fina berdebar kencang, bahkan mau meloncat dari tempatnya.
"Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Baru dipegang tangannya saja rasanya sudah tidak karuan begini," batin Fina dalam hatinya.
"Kalian mau kemana?"
__ADS_1
Rizal lekas melepaskan tangan Fina saat tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.
Mahasiswi itu bernama Kania. Berbeda dengan Fina, Kania adalah gadis yang cukup berani. Ia sudah dua kali menyatakan perasaannya pada Rizal namun selalu ditolak dengan alasan Rizal tidak memiliki perasaan apapun padanya.
"Aku mau ngajak Fina makan bakso di depan. Kenapa?"
"Apa sih yang menarik dari gadis ini? Lihat. Penampilanku lebih modis, wajahku juga glowing. Kamui ini mahasiswa populer di kampus ini, apa nggak malu jalan sama gadis yang biasa-biasa saja?"
"Kenapa aku harus malu? Aku berteman dengan siapa saja tanpa membedakan fisik dan latar belakang. Ayo Fin, kita jalan sekarang." Sekali lagi Rizal menggandeng tangan Fina. Kania mendengus kesal saat melihat keduanya meninggalkan ruang kelas.
"Kania itu sudah lama naksir kamu. Kenapa kamu nggak terima saja dia?" ucap Fina saat keduanya tiba di kedai.
"Siapa juga yang mau pacaran sama gadis angkuh sepertinya."
"Memangnya seperti apa pacar idamanmu?"
"Bukan pacar tapi calon istri."
"Istri?"
"Aku nggak mau pacaran, Fin. Pacaran hanya menambah dosa saja. Kalau nemu yang cocok, aku mau langsung ajak dia nikah," papar Rizal.
"Usiamu masih muda, sudah mikirin nikah. Kalau sudah nikah nanti kamu akan dipusingkan dengan istri dan anak-anakmu. Kamu nggak bisa lagi menikmati masa mudamu."
"Kalau aku mikirnya nikah muda itu enak. Saat anakku besar nanti, aku bisa jalan sama dia seperti teman."
Obrolan keduanya terjeda saat pemilik kedai menghampiri meja mereka.
"Permisi, Mas … Mbak. Mau pesan apa? Mi ayam atau bakso?"
"Dua porsi bakso dan es jeruk," jawab Rizal.
"Ibu kamu itu baik banget ya, Fin?"
"Ibu? Memangnya kamu kenal dengan ibuku?"
"Kemarin ibumu membuatkan kue lapis legit untuk budhe Murni lalu mengantarkannya ke rumah. Saat kami mengobrol itulah, dia menyebut namamu. Jadi aku tahu kalau bu Zura itu ibumu."
"Sebenarnya aku bukan anak kandung bu Zura."
"Hah?! Kamu bercanda 'kan, Fin?"
"Sekarang dilogika saja. Usia ibu baru 30-an, mana mungkin dia punya anak seusiaku? Memangnya ibu nikah saat masih anak-anak?"
"Iya juga sih. Bu Zura terlalu muda untuk punya anak gadis seusiamu. Jadi, kalau bukan anaknya, apa hubunganmu dengan bu Azzura? Apa dia saudaramu?"
Fina menggelengkan kepalanya.
"Bu Zura bukan saudara ataupun kerabatku. Sekitar enam tahun yang lalu aku pergi meninggalkan rumah ayahku karena perlakuan buruk dari ibu sambungku. Bu Zura yang saat itu masih tinggal di tempat kost, dengan tulus mengajakku tinggal bersamanya."
"Tempat kost?"
"Ya. Setelah berpisah dengan suaminya, Bu Zura dan putrinya memutuskan untuk tinggal di tempat kost. Ibu pekerja keras dan pantang menyerah. Itulah sebabnya ibu bisa berada di titik sekarang," ungkap Fina.
"Selain baik hati dan tulus, dia juga perempuan yang mandiri dan pekerja keras. Benar-benar calon istri idaman," ujar Rizal.
"Apa? Istri idaman?"
__ADS_1
"Ehm … mak-mak-sud aku ibumu itu wanita yang hebat. Kamu beruntung menjadi puterinya, walaupun hanya puteri angkat."
"Ya, aku memang beruntung memiliki ibu angkat sepertinya," ujar Fina.
Beberapa saat kemudian pemilik kedai kembali menghampiri meja mereka. Ia tampak membawa nampan berisi dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk yang dipesan Rizal sebelumnya.
"Kamu yakin masukin sambal sebanyak itulah ke dalam mangkukmu?" tanya Fina saat mendapati Rizal menuangkan beberapa sendok sambal ke dalam mangkuknya.
"Aman, dari dulu aku penyuka makanan pedas. Memangnya kamu gak suka makanan pedas?"
"Aku nggak berani makan makanan yang pedas, takut sakit perut."
Rizal yang tengah dilanda rasa lapar itu pun lekas menyantap bakso nya. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit dia sudah mengosongkan isi mangkuknya.
"Oh ya, toko kue ibu kan tidak jauh dari kedai ini. Kamu tidak keberatan 'kan kalau menemaniku mampir sebentar?"
"Ya, aku mau," ucap Rizal penuh semangat.
Sesampainya di toko kue LYRA.
"Ibu di mana, Mbak?" tanya Fina pada kasir.
"Bu Zura sedang di dapur memeriksa stock bahan membuat kue," jawabnya.
Tidak lama kemudian Azzura pun muncul dari dalam dapur.
"Eh, kamu, Fin. Sama Rizal juga."
"I-i-iya, Bu."
"Kamu kenapa, Zal? Kenapa kamu gugup begitu?" tanya Fina.
"Ehm … mendadak perutku mulas. Aku harus pulang sekarang. Kamu tidak apa 'kan kalau pulang sendiri?"
"Ini pasti karena kamu makan sambal terlalu banyak. Nggak apa-apa, nanti aku pulang naik taksi."
"Ya sudah, saya permisi dulu."
Rizal pun melajukan kembali mobilnya menuju arah jalan pulang.
Sesampainya di rumah bu Murni.
"Tumben jam segini sudah pulang," ucap Bu Murni saat mendapati keponakannya itu sudah berada di ruang tamu.
"Iya, Budhe. Tadi jalan sama teman sebentar terus pulang."
"Oh ya, budhe ingin bertanya sesuatu padamu."
"Tanya apa, Budhe?"
"Budhe menemukan nota ini terjatuh dari kantong celanamu. Memangnya kamu membeli bucket bunga buat siapa?" tanya bu Murni penuh selidik.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰