Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kegilaan Widya


__ADS_3

Di rumah Darren.


"Astaghfirullahaldzim!" Suara teriakan Fatimah itu sontak membuat Darren yang tengah berada di ruang makan tersentak kaget. Ia pun bergegas meninggalkan meja makan dan menghampiri istrinya.


"Kenapa kamu berteriak?" tanyanya.


"Itu, Mas." Fatimah menutup wajahnya dengan tangan kirinya sementara jari telunjuk kanannya mengarah pada kotak yang berada di atas lantai.


"Aku takut, Mas."


"Apa yang kamu takutkan?"


Darren yang penasaran itu pun lantas menghampiri kardus bekas mi instan tersebut. Tentu saja dia tak kalah kaget dengan Fatimah saat mendapati bangkai ayam dan sebuah boneka berlumuran cairan berwarna merah di dalamnya.


"Astaghfirullahaldzim! Siapa yang mengirim benda-benda ini?!"


"Entahlah. Tiba-tiba aku menemukan kardus itu ketika aku membuka pintu."


"Pasti ada orang yang mengirimnya dengan sengaja."


"Tapi siapa, Mas? Aku tidak pernah merasa punya musuh."


"Kamu mungkin bisa berpikir begitu. Tapi bagaimana jika ada seseorang yang menyimpan dendam dan kebencian pada kita?"


"Apa maksud Mas?"


"Sepertinya aku tahu siapa orangnya."


"Siapa, Mas?"


"Coba kamu pikir. Siapa yang tidak menyukai hubungan kita."


Fatimah tampak berpikir sejenak sebelum  ia menyebut sebuah nama.


"Widya?"


"Bisa jadi dia orangnya. Saat datang ke rumah ini beberapa waktu yang lalu dia sempat mengancam kita 'bukan?"


"Ya. Dia pasti merasa sakit hati karena Mas memutuskannya dan memilih memperbaiki rumah tangga kita."


"Aku minta maaf. Kalau saja aku tidak bertindak bo*oh mau menjalin hubungan dengannya, semua ini tidak akan terjadi."


"Sudahlah, Mas. Yang lalu biarkan berlalu. Yang penting Mas sudah menyadari kesalahan Mas dan tidak akan pernah mengulanginya."


Suasana hening sejenak.


"Oh ya, Mas. Kemarin Zura ke sini."


"Apa dia menyampaikan sesuatu?"


"Zura mengatakan ibu dirawat di rumah sakit karena melakukan percobaan bunuh diri dengan menancapkan gunting di bagian perutnya."

__ADS_1


"Astaghfirullahaldzim! Lantas, bagaimana keadaan ibu, dan bagaimana dengan kandungannya?"


"Ibu selamat meski harus kehilangan janinnya."


"Inna lillahi wa Inna ilaihi raji'un."


"Ibu pasti tertekan menghadapi masalah ini sendiri."


"Aku akan mengunjungi Ibu saat jam makan siang nanti," ucap Darren. Fatimah pun mengangguk setuju.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan Anisa dari arah kamar. Darren beranjak dari teras dan bergegas menghampiri bayi perempuan itu di dalam kamarnya.


"Assalamu'alaikum, putri solehah nya ayah," sapanya yang ditanggapi bayi berusia sembilan bulan itu dengan celoteh ceria nya.


Tidak hanya sikapnya pada Fatimah yang lebih lembut, Darren pun mulai bersikap sama pada putri semata wayangnya itu. Ia sadar, tidak sepantasnya mempermasalahkan jenis kelamin buah hati yang merupakan titipan dari sang Maha pencipta.


"Dek! Dek!" Kini giliran Darren yang berteriak. Fatimah yang baru saja membersihkan lantai teras itu pun bergegas menghampirinya.


"Ada apa, Mas?"


"Anisa sudah tumbuh gigi!" serunya penuh semangat saat mendapati putri semata wayangnya itu telah tumbuh gigi. Ia pun lantas membopongnya.


"Pantas saja akhir-akhir ini dia sering menggigit saat kususui, ternyata ini sebabnya," ucap Fatimah.


"Aduh!" 


"Kenapa, Mas?" 


"Gara-gara kamu ayah harus mandi dua kali." Darren mencium gemas bayi itu hingga membuatnya terkekeh.


"Ya sudah, Mas mandi lagi sana. Sekalian Anisa juga mau kumandikan," ucap Fatimah sembari mengambil alih bayi itu dari gendongan sang ayah.


Beberapa menit kemudian.


"Aku berangkat mengajar dulu," ucap Darren. Tentunya setelah ia mandi dan berganti pakaian.


"Aku takut, Mas. Bagaimana jika ada teror lagi di rumah kita?"


"Untuk sementara ini kamu jangan keluar rumah dulu. Kunci semua pintu dan jendela, dan jangan menerima tamu asing. Aku juga pasti akan mencari tahu siapa sebenarnya orang yang mengirim benda-benda tak lazim itu pada kita" ucap Darren. Fatimah pun mengangguk paham.


"Ayah pergi dulu ya, Sayang. Baik-baik sama ibu di rumah." Darren mengecup kening Fatimah dan Anisa secara bergantian.


"Hati-hati, Ayah."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Sesampainya di kampus.


Darren baru saja turun dari dalam mobilnya. Ia cukup kaget mendapati Widya telah berada di tempat parkir.

__ADS_1


"Akhirnya Bapak datang juga."


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Tentu saja menunggu Bapak. Istri Bapak pasti marah-marah kalau saya datang ke rumah Bapak. Itulah alasan mengapa saya sengaja datang ke sini untuk menemui Bapak."


"Saya mohon jangan pernah lagi mengusik kehidupan saya dan istri saya. Biarkan kami hidup tenang."


"Permintaan saya tidak banyak kok Pak. Bapak hanya tinggal menikahi saya. Saya tidak keberatan jika harus menjadi istri ke dua sekalipun."


"Widya, kamu itu cantik dan masih muda. Kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik daripada saya. Saya akui, saya memang pernah menjalin hubungan terlarang denganmu. Namun pada akhirnya saya sadar apa yang saya lakukan itu adalah sebuah kesalahan."


"Seenaknya saja bicara begitu. Apa Bapak tidak memikirkan bagaimana perasaan saya? Cinta saya untuk Bapak sudah begitu dalam dan saya tidak bisa sedikit pun melawannya."


"Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak  bermaksud menyakiti perasaanmu. Kedua perempuan yang saya sayangi, ibu dan adik perempuan saya, Azzura mengalami penderitaan akibat pengkhianatan laki-laki. Apa pantas saya melakukan hal yang sama pada istri saya?"


"Jika saya boleh memilih, saya ingin lepas dari perasaan ini. Namun, semakin saya mencoba untuk lepas, rasa itu justru semakin kuat. Saya benar-benar tidak bisa melupakan Bapak."


Darren mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu. Ia baru sadar jika obrolannya bersama mantan pacar gelapnya itu menjadi bahan tontonan para mahasiswa yang kuliah di kampus tersebut.


"Sekarang pulang lah, saya harus segera masuk ke kelas untuk mengisi mata kuliah," ucap Darren.


"Saya tidak akan pergi sampai Bapak mengatakan setuju untuk menikahi saya."


"Gara-gara kamu, saya pernah kehilangan pekerjaan saya di tempat kuliahmu dulu. Apa kamu ingin membuat saya menjadi pengangguran?"


"Bapak tidak perlu khawatir dengan pekerjaan. Almarhum ayah saya meninggalkan banyak usaha. Jika Bapak menikah dengan saya nanti, Bapak tidak perlu bekerja lagi. Kita akan hidup bahagia dan berkecukupan."


"Cukup, Widya! Jangan pernah memaksa saya lagi. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah meninggalkan istri dan anak saya demi gadis tidak bermoral sepertimu!" tegas Darren.


Dari sekian kalimat yang terlontar dari mulut Darren, kalimat terakhir lah yang terasa begitu menyakitkan hingga memantik api amarah di hati Widya.


"Oh, jadi saya gadis tidak bermoral ya?"


Widya melangkah maju mendekati Darren sementara pria itu melangkah mundur menghindarinya.


"Widya stop! Jangan mendekat!" seru Darren.


"Bapak bilang saya tidak bermoral 'bukan? Seperti inilah arti tidak bermoral itu."


Tiba-tiba Widya mendekap tubuh Darren dan memaksa agar memberi kecupan di bibirnya.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2