
Sekali lagi kuamati wajah pria yang kini terbaring tak sadarkan diri di bangku ruang tamu. Tidak salah lagi, dia Gibran, saudara laki-laki Keenan. Aku masih ingat betul kaus berwarna hijau tosca itu. Baju itulah yang tadi siang dikenakannya saat ia hendak mengunjungi ibunya di lembaga pemasyarakatan.
"Apa Mbak Azzura kenal dengan pria ini?" tanya salah satu warga.
"I-i-iya, Pak. Dia kakak salah satu pelanggan saya," jawabku.
Tidak berselang lama salah satu warga masuk ke dalam rumahku.
"Bagaimana, Pak? Apa sudah dapat mobilnya?" tanyaku.
"Yang punya mobil sedang keluar kota. Baru pulang besok pagi."
"Ya Allah. Bagaimana ini? Dalam keadaan darurat begini tidak mungkin Gibran menunggu hingga pagi," gumamku.
"Lebih baik Mbak Zura segera menghubungi keluarganya." Rahma menimpali.
Keenan. Ya, nama itu tiba-tiba melintas di kepalaku. Aku bergegas mengambil ponselku yang kusimpan di kamarku, lalu kuhubungi nomor Keenan yang sudah kusalin dari kartu nama yang pernah diberikan padaku.
[Halo, Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam. Maaf, dengan siapa saya berbicara?]
[Ini saya, Azzura]
[Oh ya. Ada apa, Mbak?]
[Ehm, anu-anu, mas Gibran]
[Gibran? Kenapa dengan kakak saya?]
[Mobil mas Gibran menabrak pintu gerbang tempat kost saya]
[Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Lantas, bagaimana keadaan Gibran sekarang?]
[Mas Gibran belum sadarkan diri. Dia sekarang ada di dalam rumah saya. Warga tidak bisa membawanya ke klinik karena tidak ada mobil. Pemiliknya sedang keluar kota dan baru kembali besok pagi]
[Baiklah, saya akan segera ke sana]
"Bagaimana, Mbak? Apa keluarganya bisa dihubungi?" tanya salah satu warga sesaat setelah aku mengakhiri percakapan.
"Sudah, Pak. Dia sedang dalam perjalanan menuju tempat ini."
Warga berupaya membuat Gibran sadar dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mendekatkan minyak kayu putih di dekat hidungnya. Sementara yang lain membersihkan luka di wajahnya.
"Kenapa dia belum sadar juga? Jangan-jangan dia, …"
"Hushh! Jangan bicara yang tidak-tidak. Pria ini hanya pingsan. Dia masih bernafas kok," tukas Rahma.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang dari arah pintu.
"Waalaikumsalam," jawab kami serempak.
"Mas … eh … Keenan."
"Kakaknya Mas Keenan belum sadarkan diri juga. Sebaiknya Mas Keenan segera membawanya ke rumah sakit," ucap salah satu warga.
"Baik, mari bantu saya membawanya ke dalam mobil saya."
"Bagaimana dengan mobil dan pintu gerbang yang rusak itu?"
"Bapak jangan khawatir, saya akan menyuruh orang untuk mengurus semuanya."
__ADS_1
Dengan dibantu warga, Keenan membawa kakak kandungnya itu masuk kedalam mobilnya.
"Terima kasih atas pertolongan kalian. Saya akan membawa kakak saya ke rumah sakit. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Keenan pun bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Kedua pria itu saudara kembar ya, Mbak?" tanya Rahma sesaat setelah mobil Keenan meninggalkan halaman.
"Bukan, mereka kakak-adik. Usianya hanya terpaut satu tahun."
"Tapi mereka berdua sama-sama ganteng. Walaupun secara fisik aku lebih menyukai yang pingsan tadi. Dia lebih macho," ucap Rahma.
"Jangan bicara yang aneh-aneh. Ada anak di bawah umur di sini," ujarku.
"Dua-duanya memang ganteng kok, Mbak. Masa aku harus bilang jelek," tukas Rahma.
"Sudah malam, besok kamu kerja 'kan?" tanyaku.
Rahma tersenyum.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Rahma meninggalkan rumahku.
Setelah mengunci pintu, aku pun lantas masuk ke dalam kamarku.
Sepertinya belum begitu lama aku terlelap, aku terbangun lantaran dikejutkan suara tangisan Lyra.
"Kamu kenapa, Sayang? Tidak biasanya kamu menangis sekencang ini," ucapku sembari membopongnya. Kucoba memberi ASI untuknya, namun ia menolak.
"Badanmu panas sekali, Nak!"
Lekas kuambil kain dan air hangat untuk mengkompresnya. Beberapa kali kubasahi kain itu lalu kutempelkan di keningnya namun panas badannya tak kunjung turun.
Kusibak tirai yang menutupi jendela kamarku. Rupanya hujan belum juga reda, bahkan lebih lebat dari saat aku beranjak tidur malam tadi.
"Aku harus membawa Lyra ke klinik sekarang juga," gumamku.
"Ibu dan Lyra mau ke mana?" tanya Fina.
Sepertinya dia terbangun lantaran suara derit pintu kamarku.
"Lyra demam. Aku sudah mencoba mengompresnya tapi panasnya tak kunjung turun. Aku harus membawanya berobat ke dokter."
Fina memandang jam dinding yang berada di ruang tamu.
"Ini jam dua pagi, Bu. Bagaimana Ibu mau ke klinik? Jam segini tidak ada taksi angkutan atau taksi lagi," ucapnya.
"Kalau memang tidak ada taksi, aku tidak apa jalan kaki."
"Ibu yakin? Jarak dari tempat ini menuju klinik hampir dua kilometer. Apalagi di luar sana sedsng hujan lebat."
"Tidak apa, Fin. Aku bisa pakai payung 'bukan?"
"Ya sudah, mari aku temani."
"Tidak usah, Fin. Lagipula aku hanya punya satu payung. Masa kamu mau hujan-hujanan."
__ADS_1
"Terus gimana, Bu?"
"Kamu di rumah saja. Aku tidak apa-apa kok pergi ke klinik sendiri."
"Ya sudah, hati-hati, Bu," ucap Fina.
Aku bisa menangkap rasa iba sekaligus khawatir di sorot matanya.
"Aku pergi dulu, jangan lupa kunci kembali pintunya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Bismillah. Di bawah payung yang tidak begitu lebar ini aku menembus derasnya hujan. Aku tak peduli bagian bawah gamis yang kukenakan basah dan kotor terkena cipratan air. Yang terpenting saat ini aku harus segera tiba di klinik agar putriku bisa segera diobati.
Suasana dini hari ditambah cuaca dingin membuat jalanan yang kulalui begitu sepi bahkan sedikit mencekam. Pos ronda yang biasanya menjadi tempat berkumpul remaja yang hanya sekedar nongkrong itu pun tampak begitu sepi.
Setelah hampir sepuluh menit berjalan, aatiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Mungkin ada pengemudi yang tergerak hatinya untuk mengajakku serta menumpangi mobilnya, pikirku.
Kuhentikan langkahku lalu menoleh ke arah belakang. Rupanya sebuah mobil pick-up.
"Mbak mau kemana dini hari begini?" tanya pengemudi itu sesaat setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Anak saya demam, saya mau ke klinik."
"Jalan kaki?"
"Ya. Di jam segini tidak ada lagi taksi ataupun angkutan umum."
"Mari biar saya antar."
"Tidak usah, Pak. Terima kasih. Saya jalan kaki saja."
"Kasihan itu anaknya kedinginan kena udara malam."
"Tidak, Pak. Terima kasih," ucapku sembari membenahi selimut yang menutup tubuh mungil Lyra. Aku pun lantas melanjutkan perjalananku.
"Ayolah, Mbak. Kalau naik mobil 'kan bisa lebih cepat."
Aku terus berjalan melanjutkan langkahku. Tak kuhiraukan mobil berwarna hitam itu yang melaju pelan mengikutiku.
"Ayolah Mbak. Biar saya ada teman mengobrol," ucapnya.
Entah mengapa perasaan ini tiba-tiba tidak tenang. Aku mempercepat langkahku berharap mobil itu tak lagi mengikutiku.
"Jadi perempuan sok mahal banget! Aku justru penasaran dengan apa yang ada di balik kerudung lebar yang kamu pakai."
Ketakutan mulai menyerangku. Kudekap erat tubuh Lyra laku kupercepat langkahku, tepatnya berlari.
"Ya Rabb, lindungi kami dari segala mara bahaya," gumamku.
Tidak berselang lama kudengar suara pintu mobil yang dibanting cukup keras.
Ya Rabb, apakah pengemudi mobil itu turun dan mengejarku?
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏