
"Dasar perempuan tidak jelas! Datang-datang mengaku sebagai calon istri Yoga!" seru ibu yang baru saja muncul di teras.
"Aku memang calon istri Yoga. Kalau kamu tidak percaya, kita temui Yoga sekarang. Kita buktikan apakah saya jujur atau hanya mengada-ada," ucap perempuan yang mengaku bernama Helena itu.
"Yoga sudah melamarku, dan akhir bulan ini kami akan menikah. Mana mungkin dia berani macam-macam," tukas ibu.
"Untuk membuktikan ucapan Ibu, sekarang juga aku akan menelpon pak Prayoga dan memintanya datang ke tempat ini," ucapku.
Dua puluh menit kemudian.
"Ada apa Nak Zura meminta saya datang ke tempat ini?" tanya pak Prayoga sesaat setelah memasuki ruang tamu.
"Helena? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aku bisa menangkap kebingungan di raut wajah duda beranak satu itu.
"Kalian lihat 'kan? Aku tidak mengada-ada. Yoga memang mengenaliku," ucap Helena.
"Siapa sebenarnya perempuan tidak jelas ini, Mas?" tanya ibu.
"Harus berapa kali kubilang, aku ini calon istri Yoga. Apa kamu tidak paham bahasa Indonesia 'hah?"
"Tunggu! Calon istri? Apa maksud kamu, Lena?" tanya pak Prayoga.
"Kamu sendiri yang memintaku memesan cincin seukuran jariku dan jarimu. Itu artinya kamu mau mengajakku menikah 'bukan?"
"Astaga. Kamu salah paham, Lena. Kamu tahu kesibukanku. Aku hampir tidak memiliki waktu untuk urusan pribadiku. Itulah sebabnya aku memintamu memesan cincin seukuran jarimu karena kupikir perawakanmu dan Sabrina tidak jauh berbeda. Mungkin ukuran jari kalian juga sama," ungkap pak Prayoga.
"Selama ini kamu anggap aku apa? Saat ibunya Widya meninggal dan kamu mengurung diri di kamar selama berminggu-minggu, siapa yang mengurus Widya? Saat usahamu nyaris bangkrut, siapa yang rela ke sana kemari mencarikanmu pinjaman modal? Saat kamu mengalami kecelakaan dan harus dioperasi, siapa yang menemanimu di rumah sakit?" ucap perempuan yang usia sedikit lebih muda dari ibu itu. Aku bisa menangkap kepedihan di sorot matanya.
"Kuakui, kamu memang perempuan yang baik. Kamu selalu ada saat aku jatuh dan terpuruk. Tapi aku minta maaf. Aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih," ujar pak Prayoga.
Kualihkan pandanganku pada Helena. Kali ini aku menangkap kedua netra itu mulai mengembun. Aku paham, siapapun yang berada di posisinya akan merasakan kepedihan yang begitu dalam. Mungkin inilah yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan.
"Aku mencintaimu, Yoga," ucap Helena dengan suara yang terdengar parau.
"Sekali lagi aku minta maaf, ada wanita lain yang mengisi hatiku. Wanita itu adalah Sabrina," ujar pak Prayoga.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas lukaku!"
__ADS_1
"Ibu! Awas!" pekikku saat Helena tiba-tiba menghampiri meja mesin jahitku dan mengambil gunting kain berukuran cukup besar dari atas sana.
"Beraninya kamu merebut Yoga dariku. Kamu harus menanggung akibatnya!"
Helena mendekap tubuh ibu dari belakang dan mengarahkan gunting itu di bagian perutnya.
"Istighfar, Lena. Semua masalah bisa kita bicarakan," ujar pak Prayoga.
"Apalagi yang harus kita bicarakan? Semua sudah jelas, Yoga lebih memilihmu dari pada aku."
"Lena! Letakkan gunting itu! Kamu jangan nekat!" seru pak Prayoga.
"Jika perempuan ini mati, tidak ada lagi penghalang hubungan kita."
"Mas Yoga! Zura! Tolong aku!" pekik ibu.
Astaghfirullah. Bagaimana jika Helena benar-benar nekat menikam perut ibu? Tidak hanya ibu yang terluka, tapi juga janin di dalam sana.
"Bu Helena, saya mohon. Jauhkan gunting itu dari ibu saya," ucapku.
"Tidak ada yang bisa menghentikanku! Perempuan ini harus mati!" Helena mengangkat gunting itu dan bersiap menikam perut ibu. Tidak! Aku tidak akan membiarkan perempuan yang begitu kukasihi itu terluka. Aku bergerak cepat demi merebut gunting itu dari tangan Helena. Namun, rupanya dia enggan menyerah. Dia masih saja berusaha mengayunkan benda tajam itu pada perut ibu.
"Mas Yoga!" pekik ibu saat laki-laki itu tiba-tiba luruh di lantai sembari memegangi bagian perutnya.
Lututku lemas dengan tangan dan kaki yang tiba-tiba terasa dingin saat melihat cairan kental berwarna merah pekat itu mengalir dari bagian perut pak Prayoga. Rupanya Helena salah sasaran. Dia tidak menikam perut ibu, melainkan menikam perut pak Prayoga.
Helena melempar begitu saja gunting yang berlumuran darah itu di atas lantai. Ia lantas bersimpuh di hadapan pak Prayoga.
"Maaf, Yoga. Aku tidak bermaksud, …"
"Bang*at! Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada mas Yoga!"
Helena hanya bisa diam mematung saat ibu memakinya.
"Jika terjadi sesuatu pada mas Yoga, aku pastikan kamu akan mendapatkan hukuman yang berat!" seru ibu.
"Maafkan aku, Yoga," lirih Helena seiring tangis penyesalan yang mulai tumpah.
"Mas Yoga bangun, Mas," ucap ibu sembari mengguncang tubuh pak Prayoga, namun ia tak lagi bergerak.
__ADS_1
"Tidak seharusnya kamu berkorban demi perempuan ini, Yoga," ucap Helena.
"Kamu, …!" Ibu mengangkat salah satu tangannya dan bersiap melayangkan tamparan di wajah Helena namun aku menahannya.
"Sudah, Bu. Jangan ribut lagi. Kita harus segera membawa pak Prayoga ke rumah sakit," ucapku.
"Hubungi polisi juga agar perempuan gil* ini ditangkap!" seru ibu.
"Saya mohon jangan laporkan saya pada polisi."
"Kamu sudah melakukan perbuatan kriminal. Kamu harus dipenjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu!"
"Kalaupun harus ada yang mati, itu adalah kamu, Sabrina!"
Tanpa diduga Helena mengambil kembali gunting itu dan mencoba menikam ibu.
"Tolong! Tolong!" teriakku sembari berlari ke arah teras. Beberapa warga yang kebetulan melintas di depan tempat kost ku pun bergegas menghampiriku.
"Ada apa, Mbak Zura?" tanya salah satu warga.
"Tolong, Pak. Amankan perempuan itu. Dia sudah menikam pak Prayoga dan sekarang ingin menyerang ibu," ucapku sembari mengacungkan jari telunjukku ke arah Helena.
Dua orang warga mengamankan Helena, sementara tiga orang lainnya mengangkat tubuh pak Prayoga dari lantai dan membawanya masuk ke dalam mobil yang berada di halaman.
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa ikut ke rumah sakit," ucapku sesaat sebelum mobil pak Prayoga yang dikemudikan salah satu warga itu melaju.
"Tidak apa. Do'a kan saja Yoga baik-baik saja," ucap ibu dengan suara bergetar.
Aku memandang punggung mobil yang mulai menjauh meninggalkan tempat kostku.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah pak Prayoga akan selamat?
Ikuti terus ceritaku ya…🥰🥰
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…