
Aku yakin sekali Jika perempuan yang kulihat duduk di samping bangku kemudi mobil itu adalah kakak perempuanku, kak Maureen. Kenapa dia bisa berada di dalam mobil Fabian? Atau jangan-jangan mereka kembali rujuk?
Setelah kurang lebih 2 KM melaju, mobil Fabian akhirnya berhenti di sebuah Mall. Aku pun bergegas keluar dari dalam taksi dan menghampiri mobil itu.
"Fabian! Kak Maureen!" panggilku.
Keduanya pun sontak menoleh ke arahku.
"Zura? Ngapain kamu di sini?" tanya Fabian.
"Kak Maureen, kita perlu bicara. Aku meraih tangan kakak perempuanku itu namun dia justru menepisnya dengan kasar.
"Jangan pegang-pegang!" sentaknya.
"Ada hal penting yang harus kita bicarakan, Kak."
"Aku sibuk! Aku tidak punya waktu." Maureen menggandeng tangan Fabian lalu mengajaknya masuk ke dalam mall.
"Berhenti! Atau aku akan meneriaki kalian sebagai pencuri!" ancamku.
"Sudahlah, kita dengarkan dulu apa maunya," ucap Fabian.
"Kamu mau bicara apa?" tanya kak Maureen ketus.
"Ini tentang bu Mala dan Rayyan."
"Kenapa dengan mereka? Bukankah anak itu sudah mati?"
"Masalahnya tidak sesederhana itu, Kak.
Bu Mala berniat untuk menuntut Kakak."
"Menuntutku? Memangnya Apa salahku?
Anaknya meninggal karena kecelakaan bukan?"
"Ya tapi Kakak lah yang menjadi sumber awal dari masalah ini. Jika saja kakak tidak menukar Sadam dengan Rayyan, mungkin saat ini Rayyan masih hidup. Sekarang kakak temui bu Mala, Kakak harus mempertanggungjawabkan perbuatan Kakak."
"Maksudmu, aku harus masuk penjara untuk kedua kalinya, begitu?"
"Bagaimanapun Kakak memang bersalah dalam hal ini meskipun bukan tangan Kakak sendiri yang menukar Rayyan dengan Saddam."
"Bagaimana jika aku tidak mau? Lagi pula kami sudah tidak mempermasalahkan hak asuh Saddam, ya 'kan Mas? Anak Bu Mala sudah mati jadi anggap saja Saddam sebagai gantinya, impas."
"Mudah sekali Kakak bicara begitu. Ini tentang perasaan seorang ibu yang semenjak lahir tidak pernah melihat anak kandungnya dan tiba-tiba saja dia mendengar anaknya itu sudah meninggal dunia. Bagaimana perasaan Kakak jika hal ini terjadi pada Kakak?"
"Ah! Sudahlah, jangan membahasnya lagi."
"Mana bisa begitu. Bu Mala menuntutku untuk membawa Kakak ke hadapannya, jika tidak aku yang harus menggantikan posisi Kakak."
"Kamu bilang kamu sayang 'kan sama aku? Ya sudah kamu gantikan saja posisiku. Sesekali kamu juga perlu merasakan bagaimana tinggal di dalam jeruji besi."
"Aku pikir setelah keluar dari penjara Kakak akan berubah, ternyata masih sama saja. Kakak masih saja egois dan mementingkan diri sendiri."
"Ayo, Mas kita masuk." Kak Maureen menggandeng tangan Fabian lalu mengajaknya berlalu dari hadapanku.
"Fabian tunggu! Di mana ketegasanmu sebagai seorang kepala keluarga? Apakah kamu akan membiarkan Kak Maureen lari dari masalahnya?"
__ADS_1
"Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk mengatakan pada bu Mala jika anaknya sudah meninggal? Masalah ini terjadi karena kesalahanmu sendiri, jadi kamu yang harus menanggung akibatnya!"
"Ternyata kalian sama saja. Aku menyesal telah mengikuti kalian jauh-jauh ke sini."
"Jadi, kenapa kamu masih saja sini? Sana pergi!" usir kak Maureen.
Aku baru saja beranjak dari tempat itu, ketika tiba-tiba ponselku berdering. Gibran yang menelponku. Baru kali ini aku merasa begitu membutuhkannya.
[Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam. Kenapa suaramu terdengar lesu begitu?]
[Aku-aku, …]
[Tunggu. Kenapa aku mendengar suara kendaraan bermotor? Memangnya kamu di mana]
[Aku sedang di luar]
[Kamu gak sama pak Amin?]
[Pak Amin sakit, jadi aku naik taksi]
[Katakan di mana posisimu sekarang, biar aku jemput]
[Tidak perlu, aku bisa pulang naik taksi]
[Jangan keras kepala! Cepat katakan di mana posisimu]
[Aku-aku berada di depan Mall GD]
-Tiba-tiba panggilan terputus-
"Astaga. Kamu ini kenapa? Di pinggir jalan begini seperti orang hilang."
"Kamu yang melarangku pulang naik taksi."
"Ada apa?" tanyanya dengan nada yang begitu lembut.
Aku terdiam. Entah mengapa buliran bening mengalir begitu saja dari kedua sudut mataku.
"Loh, ditanya kok malah nangis? Jangan malu-maluin. Ayo kita ngobrol di cafe sebelah sana."
Kami pun lantas berjalan beriringan menuju cafe yang berada tidak jauh dari Mall. Gibran sengaja memesan minuman cokelat hangat untukku. Sepertinya dia tahu jika saat ini perasaanku sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa? Cerita lah."
"Ini tentang kakakku, kak Maureen."
Aku mengawali obrolan.
"Kenapa dengan kakakmu? Apa dia yang membuatmu menangis?"
"Aku takut …"
"Kalau bicara itu yang jelas. Minum lah, biar perasaanmu sedikit lebih tenang."
Gibran meraih salah satu cangkir lalu memberikannya padaku.
__ADS_1
"Ceritanya panjang," ucapku sesaat setelah meletakkan kembali cangkir itu.
"Walaupun sampai tiga hari tiga malam, aku tetap akan di sini mendengarkanmu."
"Yang benar saja."
Tanpa kusadari aku tersenyum. Laki-laki yang kini berada di hadapanku memang unik. Terkadang dia bisa begitu serius, namun tidak jarang aku dibuat geli karena kekonyolannya.
"Nah, gitu dong, senyum. Dilihat juga enak."
Aku membuang nafas.
"Masalah ini bermula saat kak Maureen melahirkan seorang bayi laki-laki tiga tahun silam. Anaknya bersama Fabian itu terlahir cacat."
"Tunggu. Kakakmu dan Fabian? Maksudnya bagaimana?"
"Orang ke tiga yang merusak rumah tanggaku dan Fabian ternyata adalah kakak kandungku sendiri, kak Maureen yang telah melakukan operasi wajah dan merubah namanya menjadi Karmila."
"Benar-benar perempuan tidak punya hati! Kenapa ada manusia setega itu?"
"Alasannya hanya satu, dia ingin membalas dendam padaku."
"Balas dendam? Memangnya kamu pernah berbuat kesalahan apa padanya?"
Aku menggeleng pelan.
"Kak Maureen iri padaku karena ia menganggap ayah dan ibu hanya sayang padaku saja. Ditambah lagi saat peristiwa kebakaran di rumah kami, ayah dan ibu hanya menyelamatkanku saja dan meninggalkan kak Maureen di saat api sudah mulai membesar. Setelah belasan tahun, ternyata Allah kembali mempertemukan kami meskipun dia harus menjadi orang ke tiga dalam pernikahanku dan Fabian."
"Oh ya, bagaimana dengan cerita bayi cacat itu? Apa kakakmu membuangnya?" tanya Gibran.
Aku menggeleng pelan.
"Bukan membuangnya, tetapi menukarnya. Kak Maureen membayar seorang perawat untuk menukar bayinya dengan bayi seorang pasien bernama bu Mala."
"Lantas, apa yang membuatmu kebingungan begini?"
"Bayi yang diasuh kak Maureen dan Fabian diberi nama Rayyan. Namun karena keadaan, Fabian menitipkan Rayyan pada seorang pengemudi taksi."
"Tidak istri, tidak suami. Sama-sama sakit jiwa!"
"Yang jadi masalah adalah sekarang Rayyan sudah meninggal dunia. Dia menjadi salah satu korban tidak selamat dalam kecelakaan bus saat sekolah Lyra mengadakan rekreasi dua Minggu yang lalu. Bu Mala berniat menuntut kak Maureen dengan tuduhan penculik bayi dan menukarnya."
"Kenapa kamu harus pusing? Kakakmu itu memang sudah melakukan kesalahan besar. Dia pantas mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Gibran.
"Masalahnya tidak sesederhana yang kamu pikir. Kemarin aku sempat kehilangan jejak kak Maureen sementara bu Mala menekanku agar aku membawa kak Maureen ke hadapannya. Aku sudah berbicara dengan kak Maureen dan juga Fabian. Namun mereka justru menyalahkanku dan menyuruhku untuk menggantikan posisi kak Mauren jika bu Mala benar-benar menuntutnya. Aku benar-benar takut, bu Mala sendiri mengatakan jika aku tidak bisa membawa kak Maureen ke hadapannya, aku yang harus menggantikannya."
Sekali lagi buliran bening itu tumpah dari kelopak mataku.
"Kamu tidak perlu takut selagi kamu berada di posisi yang benar. Aku juga tidak akan diam saja jika kamu disakiti," ujar Gibran. Aku baru sadar jika tanganku berada di genggamannya.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰