
Menjelang sore aku tiba kembali di tempat kost ku yang sudah kutinggali lebih dari enam bulan itu. Alhamdulillah, dari hasil ketekunanku menjahit, aku tidak pernah sekalipun bermasalah membayar sewa kamar kost. Sekarang aku sedang fokus menyisihkan uang untuk membeli tanah dan membangun rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapku seraya melangkah masuk ke dalam ruang tamu.
"Aku belikan rujak untuk Ibu."
Tak ada sahutan. Kupikir ibu sedang tidur di dalam kamarnya.
Tiba-tiba terdengar suara khas dari dalam perutku. Ah! Aku baru ingat jika aku belum makan siang. Setelah menidurkan Lyra di dalam kamar, aku pun lantas menuju meja makan. Makanan yang tertutup tudung saji itu masih utuh. Aku ingat betul, sebelum berpamitan keluar rumah pada ibu, aku memasak tumis kacang panjang serta menggoreng dua butir telur lalu kubagi dua bagian.
"Kita makan siang bareng ya, Bu," ucapku.
Masih tak ada tanggapan.
Akhirnya aku memutuskan menghampiri kamar ibu yang berada tidak jauh dari ruang makan.
"Bu, … apa Ibu tidur?" Kuputar gagang pintu lalu mendorongnya.
Aku hampir tidak mempercayai apa yang kulihat di depan mataku. Begitu banyak blister bekas berceceran di atas lantai.
"Astaghfirullahaldzim. Ibu!"
Aku merebut paksa blister yang masih berada di genggaman tangan ibu lalu kulempar begitu saja ke dalam tempat sampah. Ibu mencoba menelan puluhan butir pil kotra*epsi. Apalagi tujuannya kalau bukan ingin membunuh janin yang kini tumbuh di dalam rahimnya.
"Biarkan saja janin ini mati! Dia tidak punya ayah! Ayahnya sudah mati! Ha ha ha!"
"Istighfar, Bu. Aku paham betul apa yang Ibu rasakan sekarang. Tapi apa yang Ibu lakukan ini salah. Ini sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan membuat masalah baru," ucapku.
"Irwan sudah mati. Prayoga juga sudah mati. Biar bayiku menyusul mereka ke surga. Hu … hu …hu …"
Aku merengkuh tubuh wanita yang telah melahirkanku ke dunia ini dan membiarkannya terisak di bahuku.
"Ibu harus bagaimana, Nak?" lirihnya.
__ADS_1
"Bayi itu sama sekali tidak bersalah. Dia berhak untuk hidup."
"Ibu malu punya anak tanpa suami."
"Ibu jangan pikirkan apa kata orang di luar sana. Aku akan selalu menemani Ibu dalam keadaan apapun. Jika ada yang menghina Ibu, aku akan jadi orang pertama yang memasang badan untuk Ibu," ucapku.
Sejak hari itu aku sering mendapati ibu berusaha menggugurkan kandungannya. Mulai dari meminum cairan pembersih lantai, jamu pembersih rahim, hingga pil aborsi. Alhamdulillah, aku selalu berhasil menggagalkan tindakannya. Siang itu aku yang begitu panik lantaran percobaan bunuh diri ibu yang ke sekian kalinya, meminta kak Darren datang ke tempat kostku.
"Semakin hari keadaan Ibu semakin memprihatinkan. Sepertinya ibu perlu mendapatkan penanganan khusus," ucapnya.
"Apa maksud Kakak ibu harus dirawat di rumah sakit jiwa?" tanyaku.
Kakak laki-lakiku tu menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak bisa mengawasi ibu selama 24 jam penuh. Apalagi kamu harus mengurus Lyra, belum lagi dengan pekerjaan menjahitmu."
"Tapi, Kak, …"
Pagi itu dengan berurai air mata aku mengantarkan ibu ke rumah sakit jiwa. Jangan ditanya bagaimana hancurnya perasaan ini. Meskipun berat, inilah satu-satunya jalan terbaik untuk keselamatan ibu serta bayi yang kini tumbuh di dalam rahimnya.
"Bu Sabrina mau dibawa ke mana Mbak? Kok dijemput dengan mobil rumah sakit jiwa?" tanya Rahma saat aku baru saja keluar dari dalam kamar kost ku.
"Aku sudah berkali-kali mendapati ibu melakukan percobaan bunuh diri. Aku takut jika aku lengah, ibu benar-benar kehilangan nyawanya," jawabku.
"Mungkin inilah yang dinamakan karma. Dulu saat mbak Salma mengalami guncangan hebat lantaran kehilangan suami dan anaknya, bu Sabrina seringkali menghinanya," ujar Rahma.
"Atas nama ibu aku minta maaf. Mungkin ini suratan takdir yang sudah digariskan Allah untuknya. Aku harap kamu tidak menyimpan dendam pada ibu," ucapku.
"Allah sudah memberi teguran yang cukup keras untuk bu Sabrina. Aku sama sekali tidak berhak menghakiminya."
"Oh ya, bagaimana keadaan mbak Salma sekarang?"
"Emosi mbak Salma sudah mulai stabil. Dokter mengatakan kemungkinan besar mbak Salma bisa sembuh total."
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Semoga tidak lama lagi mbak Salma keluar dari tempat itu dan kalian bisa berkumpul kembali."
"Aamiin. Lyra biar sama aku saja Mbak. Tempat itu juga kurang baik untuk balita sepertinya."
"Memangnya kamu tidak masuk kerja?"
"Hari ini aku libur."
"Ya sudah, aku titip Lyra, ya. Nanti agak siangan dikit beri dia biskuit. Aku menyimpannya di toples yang kuletakkan di lemari dapur," jelasku. Rahma mengangguk paham.
Sesampainya di rumah sakit jiwa.
"Aku tidak gila*. Kenapa kalian membawaku ke tempat ini?" protes ibu.
"Ibu sudah berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Kami takut terjadi sesuatu pada Ibu," ucap kak Darren.
"Aku tidak gil*! Kalian kejam! Ha ha ha."
"Mari, Bu. Ikut saya," ucap seorang petugas wanita sembari menggandeng tangan ibu.
"Kamu mau mengajakku bertemu Yoga dan Irwan 'kan?" tanya ibu. Petugas itu menganggukkan kepalanya, ia lantas tersenyum.
"Anakku tidak punya ayah. Irwan sudah mati. Hahaha!"
Aku hanya bisa berdiri mematung memandang punggung ibu dan petugas itu menjauh dari hadapanku. Aku minta maaf, Bu. Bukannya aku tak mau berbakti, tapi hanya inilah yang saat ini kurasa paling tepat untuk kulakukan. Semua ini kulakukan karena aku menyayangimu.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1