Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Curahan hati


__ADS_3

"Kamu dari mana, Nak?" tanya ibu sesaat setelah aku memasuki ruang tamu.


"Aku agen tiket wisata."


"Kamu mau liburan? Kenapa tidak mengajak ibu?"


"Tiket ini bukan buat aku, Bu."


"Lantas?"


"Aku akan memberikannya pada kak Darren sebagai kado ulang tahun kak Darren. Sepertinya terlalu biasa jika memberinya hadiah berupa barang. Jadi aku memberinya hadiah berupa tiket bulan madu ke pulau Dewata."


"Mereka itu sudah delapan tahun lebih menikah. Apa masih bisa dibilang pengantin baru."


"Tidak ada aturan yang mengatakan jika bulan madu hanya boleh dilakukan pengantin baru 'bukan?"


"Bi, tolong buatkan aku minuman dingin," ucapku seraya merebahkan kepalaku di atas sofa."


"Baik, Bu," sahut bi Ami dari arah dapur.


"Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya ibu.


"Kenapa Ibu bertanya begitu."


"Sepertinya mood mu sedang kurang bagus. Apa ada sesuatu yang membuatmu marah dan kesal?"


"Ah, itu hanya perasaan Ibu saja. Aku memang kehausan sedari tadi."

__ADS_1


"Kenapa tidak mampir di cafe membeli minuman dingin?"


"Minuman di rumah jauh lebih sehat 'bukan?"


"Minumannya, Bu." Bi Ami memindahkan segelas besar sirup melon dingin kesukaanku dari nampan ke atas meja.


"Terima kasih, Bi." Lekas kuraih gelas itu. Entah udara siang itu yang begitu panas ataukah karena hatiku yang saat ini tengah terbakar api cemburu, segelas minuman dalam ukuran gelas yang cukup besar itu dengan kuteguk dengan cepat hingga tak bersisa.


"Mau tambah lagi minumnya, Bu?" tanya Bi Ami.


"Boleh."


"Astaga, Zura. Kenapa tingkahmu aneh begini?"


"Aneh kenapa, Bu?"


"Mana pernah kamu minum dengan serakus itu."


"Ibu yakin telah terjadi sesuatu."


"Tidak ada apa-apa kok Bu. Aku sholat Dzuhur dulu." Aku beranjak dari ruang tamu lalu menuju mushola yang berada di belakang rumah.


"Apa yang terjadi denganku? Kenapa perasaanku begini? Kenapa aku tidak suka saat melihat kedekatan Keenan dengan Pinkan?" lirihku di sela doaku setelah ibadah shalat Dzuhur ku.


Aku berjingkat saat seseorang tiba-tiba meninggal pundakku.


"I-I-bu?"

__ADS_1


"Ibu sudah tahu sekarang apa yang membuatmu uring-uringan. Pasti kamu cemburu karena Keenan dekat dengan perempuan lain."


Aku yang tadinya ingin menyimpan hal itu dari siapapun akhirnya memutuskan menceritakannya pada ibu. Lagipula hanya beliau lah saat ini tempat paling nyaman bagiku untuk berkeluh kesah.


"Apa kamu mulai menyukai Keenan?"


"Entahlah, hanya saja akhir-akhir ini aku merasa mulai nyaman saat berada di dekatnya. Tapi, …"


"Tapi kenapa?" tanya ibu.


"Aku tidak yakin kalian memiliki perasaan yang sama denganku. Apalagi akhir-akhir ini dia semakin dekat dengan perempuan bernama Pinkan itu. Tadi saja aku melihat mereka pergi berdua ke agen tiket."


Ibu mengulas senyum tipis.


"Itu artinya kamu cemburu pada Pinkan."


"Cemburu?"


"Ya, emosi yang kamu alami saat kamu merasa takut kehilangan akan sesuatu," jelas ibu.


"Jika dibandingkan denganku, Pinkan lebih cantik, lebih muda, bahkan jauh lebih kaya. Wajar jika Keenan lebih memilihnya," ujarku.


"Kamu perempuan baik-baik, percayalah Allah sudah menyiapkan jodoh yang baik pula untukmu."


"Aamin. Terima kasih, Bu. Perasaanku sudah sedikit lebih lega sekarang," ucapku.


Ibu mengulas senyum seraya menyentuh puncak kepalaku.

__ADS_1


"Ya sudah, kita makan siang dulu. Lyra juga baru saja pulang," ucap ibu. Aku mengangguk setuju. Kulepas mukenaku lalu beranjak meninggalkan mushola.


Bersambung...


__ADS_2