Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Terguncang


__ADS_3

Aku dan Rahma sontak beranjak dari tempat duduk kami dan bergegas menghampiri Salma.


"Mbak kenapa?" tanya Rahma.


"Perutku! Aw!"


"Apa Mbak Salma mau melahirkan?" tanyaku.


"Hari taksiran persalinannya masih akhir bulan ini," jawab Rahma.


"Ya sudah. Kita bawa mbak Salma ke rumah sakit sekarang," ucapku.


Setelah menitipkan Lyra pada ibu, aku dan Rahma pun lantas membawa mbak Salma menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit.


"Apa yang terjadi pada ibu ini?" tanya dokter.


"Kakak saya tiba-tiba merasa kesakitan pada bagian perutnya."


"Berapa usia kehamilannya?"


"Hari taksiran persalinannya masih tiga Minggu lagi." Aku menimpali.


"Baiklah. Kalian tunggu di luar. Saya akan memeriksa pasien."


Belum lama pintu ruang bersalin itu tertutup, tiba-tiba kulihat dokter keluar dari dalam sana. Apakah mbak Salma sudah melahirkan? Tapi, kenapa aku tidak mendengarnya suara tangisan bayi?


"Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?" tanya Rahma.


Dokter itu pun melepas masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Kini aku bisa menangkap kesedihan sekaligus penyesalan di raut wajahnya. Beliau juga menundukkan wajahnya.


"Kenapa Dokter diam saja?"


"Maaf, kami sudah berusaha. Tapi Tuhan berkehendak lain."


"Apa maksud Dokter?"


"Bayi yang berada di dalam kandungan pasien tidak dapat kami selamatkan. Kami tidak mendengar detak jantungnya saat pasien kami periksa. Sepertinya bayi pasien sudah meninggal beberapa hari yang lalu," jelas dokter.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," ucapku.


"Ja-ja-di, bayi kakak saya meninggal dunia, Dok?" tanya Rahma.


Dokter itu menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Selama kehamilannya kakak saya tidak memiliki keluhan yang berarti."


"Berdasarkan pemeriksaan, pasien mengalami pre eklampsia. Hal itu lah yang menyebabkan bayi meninggal dunia sebelum dilahirkan," jelas dokter.

__ADS_1


"Lantas, bagaimana keadaan kakak saya sekarang?"


Pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Tidak lama lagi pasien akan segera sadar. Saya berharap anda sebagai keluarganya bisa memberi dukungan moril pada pasien. Bagaimana pun kehilangan anak adalah hal yang menyakitkan," ujar dokter. 


Kami mengangguk paham.


Detik berikutnya aku dan Rahma sudah berada di dalam ruang perawatan Mbak Salma. Kulihat dia sudah mulai sadarkan diri.


"Mbak Salma," ucap Rahma sembari berjalan menghampiri tempat tidur mbak Salma.


"Anakku sudah lahir 'kan? Laki-laki atau perempuan?" tanyanya.


"Ehm…ehm…" 


Aku dan Rahma saling bersitatap. Tentu saja kami bingung memberi jawaban atas pertanyaan itu.


"Di mana anakku? Kenapa kalian diam saja?"


"Mbak…Mbak Salma yang sabar. Bayi Mbak meninggal dunia," ucap Rahma setengah berbisik.


"Tidak! Kamu pasti bohong! Di mana bayiku? Dokter… Suster… mana bayiku!" teriak mbak Salma.


Tidak berselang lama dokter pun masuk ke dalam ruang perawatan.


"Tolong kakak saya, Dok. Dia berteriak histeris sambil mencari bayinya," ucap Rahma.


"Bayi ibu laki-laki. Akan tetapi, kami minta maaf. Kami tidak bisa menyelamatkannya. Bayi Ibu sudah meninggal dunia di dalam kandungan sekitar satu Minggu yang lalu," ungkap dokter.


"Tidak, Bu. Bayi Ibu sudah meninggal dunia. Ibu yang sabar, ini adalah ujian."


"Kalian semua bekerja sama untuk mengerjaiku ya? Sekarang bayiku pasti berada di ruang bayi."


Tiba-tiba mbak Salma beranjak dari tempat tidur, ia lantas berlari keluar ruangan dan menuju ruang bayi. Entah apa yang merasuki pikirannya saat itu. Dia mengangkat tubuh seorang bayi laki-laki dari dalam ranjang bayi lalu mendekapnya erat. 


"Anakku…anakku," lirihnya.


"Mbak, bayi itu bukan bayi Mbak. Bayi Mbak sudah tidak ada," ucap Rahma.


"Diam kamu! Dia anakku. Aku akan membawanya pulang bersamaku."


"Istighfar, Mbak. Bayi Mbak sudah diambil kembali sama Allah. Dia sudah berada di surga." Aku menimpali.


Rupanya Mbak Salma tak mau menghiraukan ucapan kami. Dia berusaha keluar dari ruangan itu dengan membawa serta bayi laki-laki tersebut.


"Maaf, Bu. Tolong kembalikan bayi itu di tempatnya semula. Dia bukan bayi Ibu," ucap perawat yang kebetulan berjaga di ruangan itu.


"Dia anakku. Lihat, wajahnya saja mirip mas Roni," ucap mbak Salma.


Astaghfirullah. Apa yang terjadi dengan mbak Salma? Apakah dia kehilangan akal sehatnya lantaran bayinya meninggal?

__ADS_1


"Maaf, bayi itu bukan bayi Ibu."


"Dia anakku! Aku akan mengajaknya pulang bersamaku."


Perawat berusaha mengambil alih bayi laki-laki itu dari gendongan mbak Salma. Tentu saja ia menolak memberikannya. Suasana semakin tegang saat tangis bayi yang masih merah itu tiba-tiba pecah. 


Semua yang berada di ruangan itu membujuk Mbak Salma agar memberikan bayi tersebut. Namun, tak ada satupun yang berhasil. Dia justru mempercepat langkahnya dan keluar dari ruangan itu.


"Security! Tahan ibu itu! Jangan biarkan dia keluar!" teriak salah satu perawat pada security yang kebetulan tengah melakukan patroli.


Pria berseragam itu pun lantas menahan langkah mbak Salma dengan cara memegangi salah satu lengannya.


"Lepaskan! Aku harus segera membawa bayiku pulang!" serunya sembari meronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan security itu.


Di saat itulah aku bertindak. Lekas kuambil alih bayi itu dari gendongan mbak Salma.


"Berikan bayi itu! Jangan ambil bayiku!" teriaknya.


Mbak Salma terus berteriak hingga memaksa security itu menariknya dengan kasar menuju ruang perawatannya.


"Maaf, Mbak. Saya terpaksa menyuntikkan obat penenang pada pasien. Tindakannya cukup berbahaya bagi orang lain," ucap dokter sesaat setelah memberikan suntikan pada salah satu lengan mbak Rahma. Perlahan teriakannya terdengar semakin lemah, hingga akhirnya dia tertidur.


"Kenapa jadi begini?" ucap Rahma.


Aku paham betul perasaannya kini. Dia pasti begitu terpukul dengan perubahan sikap kakak perempuannya itu.


"Kenapa dengan kakak saya, Dok?"


tanyanya.


"Dari hasil pengamatan saya, jiwa pasien terguncang lantaran tidak siap menerima kenyataan jika bayinya sudah meninggal dunia. Semoga keadaannya masih aman terkendali sehingga tidak mengharuskannya mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit lain," ungkap dokter.


"Rumah sakit lain? Apa maksud Dokter?" tanya Rahma.


"Maksud saya maaf, rumah sakit jiwa. Hanya di tempat itulah tempat yang tepat untuk menangani pasien dengan gangguan kejiwaan."


"Bagaimana ini, Mbak? Bagaimana jika mbak Salma benar-benar gil* dan harus dirawat di rumah sakit jiwa?" tanya Rahma.


Jujur, akupun bingung memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Namun, aku berusaha bersikap tenang di hadapan Rahma.


"Kita berdo'a yang terbaik untuk mbak Salma. Semoga setelah sadar nanti perasaannya sudah jauh lebih tenang," hiburku.


Aku merengkuh tubuh Rahma ke dalam pelukanku, lantas kubiarkan di terisak di atas bahuku.


Aku yakin, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba Nya. Meskipun berat, aku tahu kenapa Allah memberikan ujian ini untuk Rahma dan mbak Salma. Karena Allah tahu mereka kuat…


Bersambung…


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya…. La


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2