
Meski sudah berusaha keras mengingat wajah wanita yang baru saja kulihat di sekolah Lyra, namun aku tak berhasil mengingatnya.
"Ibu, awas!"
Lantaran berjalan sambil melamun, salah satu kakiku terperosok ke dalam jalan berlubang yang digenangi air. Tubuhku pun terjatuh di atas tanah. Pak Amin pun bergegas keluar dari dalam mobil lalu menghampiriku.
"Ibu tidak apa-apa?" tanyanya.
"Tidak apa, Pak. Hanya pakaian saya saja yang basah. Ya sudah, kita pulang sekarang."
Tangan kecil Lyra terulur lalu menggandengku masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, Sayang."
"Bagaimana kamu bisa jatuh? Memangnya kamu tidak melihat jalan?" ucap ibu setibanya kami di rumah.
"Tadi ibu beljalan sambil melamun," ucap Lyra.
"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan, Nduk?" Mantan ibu mertuaku menimpali.
"Tadi ada salah satu murid yang berbuat nakal. Selain mendorong Lyra, dia juga menempelkan permen karet bekas pada baju seragam Lyra. Aku mencoba berbicara dengan ibunya. Namun dia menolak dengan alasan sibuk dan terburu-buru."
"Lantas, apa yang kamu pikirkan?"
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan wanita itu tapi entah di mana. Aku terus mencoba mengingatnya. Itulah yang membuatku kurang fokus hingga jatuh terperosok di jalan berlubang."
"Mungkin wanita itu kawan sekolah atau kawan bekerjamu dulu," ucap ibu.
"Bukan, Bu. Kurasa usianya jauh di atasku."
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saja wajahnya mirip dengan orang yang pernah kamu lihat. Sekarang ganti bajumu, lalu kita ke ruang produksi," ucap ibu.
Sesampainya di ruang produksi.
Aku mengedarkan pandanganku di ruangan produksi, namun tak kutemukan Rahma di mejanya.
"Rahma hari ini tidak masuk, Bu," ucap salah satu karyawanku yang sehari-harinya juga mengoperasikan mesin jahit.
Kenapa dengan Rahma? Biasanya dia selalu memberi alasan kenapa tidak masuk bekerja.
"Baik, lanjutkan pekerjaanmu."
"Tidak biasanya Rahma tidak masuk bekerja tanpa keterangan. Dia hanya tinggal sendirian di tempat kost nya. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," ucapku.
"Lebih baik kamu telepon dia sekarang," ucap ibu.
Aku pun beranjak meninggalkan ruangan itu lalu menghubungi nomor telepon gadis yang pernah menjadi tetanggaku saat aku masih tinggal di tempat kost.
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan."
Berkali-kali kuhubungi nomor telepon Rahma, hanya jawaban itu yang kudengar.
"Sepertinya aku harus mendatangi tempat kost nya, pikiranku tidak tenang," ucapku pada ibu. Beliau mengangguk setuju.
"Ibu mau kemana?" tanya Lyra saat melihatku menuju halaman rumah.
"Ibu mau ke tempat auntie Rahma."
"Ikut," rengeknya.
"Ini 'kan waktunya tidur siang, Sayang. Besok saja ibu ajak Lyra ke taman. Sekolah Lyra libur 'bukan?"
"Ibumu benar. Lagipula kalau kamu ikut, kamu juga pasti tidur di dalam mobil. Nenek lihat sedari tadi kamu sudah menguap terus. Nenek temani Lyra tidur siang ya." Mantan ibu mertuaku menimpali.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi belikan Lyla es klim ya, Bu."
"Iya, Sayang. Nanti ibu belikan es krim rasa mangga kesukaanmu," ucapku seraya mengusap poni yang menutupi dahinya.
"Aku pergi dulu, Bu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Bu," ucap Lyra. Kulambaikan tanganku sebelum masuk ke dalam mobil.
"Kalau boleh saya tahu, siapa yang mau ibu kunjungi di tempat itu?" tanya pak Amin seraya mengemudikan mobilku.
"Namanya Rahma. Dia pernah menjadi tetanggaku saat aku tinggal di tempat kost."
"Ooh." Pak Amin membulatkan bibirnya.
Tidak berselang lama ponselku berdering. Entah mengapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang saat melihat nomor yang tertera di layar ponselku. Gibran. Ya, nama itu selalu saja membuatku deg-degan.
"Kenapa tidak diangkat, Bu?" Pak Amin keheranan lantaran aku mengabaikan panggilan telepon itu.
"Ehm … anu-anu, …"
"Pasti yang nelpon mas Gibran. Ibu tidak mau menjawab karena Ibu sedang deg-degan."
Ah! Pak Amin ini pintar sekali menebak.
"Bu-bu-bukan kok Pak. Ini nomor tidak dikenal. Saya malas menjawabnya."
Aku menekan tombol berwarna merah yang otomatis membuat ponselku berhenti berdering.
Hanya selang beberapa menit kemudian, gawai pipihku itu kembali berdering. Akhirnya aku memutuskan untuk menjawab panggilan itu.
[Assalamu'alaikum]
[Lagi sibuk ya? Kok lama banget angkat telepon nya]
[Di dalam mobil juga hanya duduk. Kamu 'kan tidak bisa menyetir]
[Kenapa menelpon?]
[Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih]
[Terima kasih untuk apa?]
[Ibu mengatakan tadi kamu sudah menolong ibu berobat ke klinik]
[Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Siapapun yang berada di posisiku pasti akan melakukan hal yang sama]
[Sebagai ucapan rasa terima kasih, ibu mengajakmu dan keluargamu untuk makan malam di rumahku besok malam]
[Apa?!]
Saking terkejutnya aku nyaris menjatuhkan ponselku.
"Kenapa, Bu?" tanya pak Amin yang tiba-tiba saja menoleh ke arahku yang duduk di bangku belakang.
"Ti-ti-tidak apa, Pak."
[Halo … kamu masih di sana 'kan?]
[I-i-iya]
[Bagaimana? Apa kamu mau menerima undangan makan malam dari ibuku?]
[Aku-aku … ehm …]
__ADS_1
[Ibu akan kecewa jika kamu menolaknya. Itu sama artinya kamu tidak menghargai niat baik seseorang]
[Ehm … besok malam ya?]
[Kenapa kalau besok malam? Atau kamu mau malam ini dan berdua saja denganku?]
[Jangan bicara yang tidak-tidak]
[Ngomong-ngomong kapan kamu akan memberi jawaban padaku? Atau kamu akan memberi kejutan padaku di acara besok malam?]
[Belakangan ini aku banyak urusan, aku tidak sempat memikirkan hal itu]
[Tapi, aku masih ada di pikiranmu kan? Hahahahay]
[Kita lanjutkan lagi nanti. Aku sudah sampai]
[Wassalamu'alaikum, calon istriku]
[Jangan panggil aku begitu]
[Ya sudah, Wassalamu'alaikum, calon ibu dari anak-anakku]
Aku terdiam sejenak.
[Menjawab salam itu wajib hukumnya 'bukan?]
[Waalaikumsalam.]
Klik. Kuakhiri percakapan.
Hufht. Aku tak habis pikir kenapa laki-laki ini selalu membuatku senam jantung begini?
"Bu, …"
"Ibu, …"
"Ibu Azzura, …"
"I-i-iya, Pak."
"Di sini 'kan tempat kost nya? Kita sudah sampai," ucap pak Amin.
Astaghfirullahaldzim. Aku pasti melamun lagi.
"Iya, Pak."
Aku memandang ke arah luar mobil. Tidak biasanya tempat kost ini ramai begini. Tunggu, kenapa ada polisi juga? Tiba-tiba saja perasaan ini tidak nyaman.
"Maaf, Cik. Ada apa ini?" tanyaku pada cik Lenny yang berada persis di pintu gerbang.
"Rahma, Mbak … Rahma."
"Ya. Kenapa dengan Rahma?" tanyaku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1