
Mila memberi isyarat agar suster Siska sedikit mendekat ke arahnya. Ia pun lantas membisikkan sesuatu di telinga perawat itu.
"Apa, Bu?" Menukar bayi? Maaf, saya tidak berani. Hal ini bertentangan dengan kode etik pekerjaan saya."
"Kamu yakin menolak uang sebanyak ini?" Karmila menulis angka di layar ponselnya lalu memperlihatkannya pada suster Siska.
"Saya yakin nominal ini melebihi gajimu selama bertahun-tahun bekerja."
"Seratus juta?"
"Dengan uang ini kamu bisa membeli apapun yang kamu mau."
Suster Siska terdiam sejenak.
"Mila. Cukup! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju dengan niat gil* mu ini!"
"Apa Mas tahu, apa yang kulakukan ini untuk kebaikan kita?"
"Ini sama sekali bukan kebaikan, bahkan kejahatan. Apa kamu tidak membayangkan bagaimana perasaan orangtua bayi yang anaknya ditukar? Mereka dibohongi seumur hidup."
"Aku melakukannya demi keluarga kita, Mas. Kenapa Mas tidak paham juga?"
"Terserah! Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan! Kamu memang keras kepala!" Fabian yang merasa tak dihargai itu pun memilih meninggalkan ruang perawatan Karmila.
"Jadi, bagaimana, Suster? Apa Suster menerima tawaran saya?"
"Saya … ehm, …"
__ADS_1
"Kapan lagi Suster mendapatkan uang sebanyak ini? Suster hanya tinggal menukar gelang bayi ini dengan bayi lain yang lahir di hari ini. Mudah 'bukan?"
"T-t-tapi, Bu, …"
"Kalau kamu mau, detik ini juga saya transfer uangnya ke rekeningmu."
Sekali lagi perawat yang usianya masih dua puluh tahunan itu berpikir sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Sekarang tulis nomor rekeningmu di sini," ucap Mila sembari menyodorkan ponselnya ke arah suster Siska.
"Uangnya sudah masuk ke rekeningmu. Lakukan tugas ini dengan hati-hati. Jangan sampai membuat siapapun curiga."
"Ba-ba-baik, Bu."
Setengah jam kemudian suster Siska kembali memasuki ruangan Mila. Dia terlihat menggendong seorang bayi yang baru beberapa menit dilahirkan. Dengan bantuan Mila ia menukar gelang bayi itu dengan gelang Rayyan.
Mila tersenyum penuh kemenangan.
"Ingat! Rahasia ini hanya kita berdua saja yang tahu. Kamu paham?"
"Ba-ba-baik, Bu. Saya berjanji akan menjaga rahasia ini sampai kapanpun."
"Terima kasih atas kerjasamanya. Suster boleh pergi dari ruangan ini."
Suster Siska pun lantas meninggalkan ruangan itu.
"Namamu sekarang Rayyan," ucap Mila sembari menimang bayi laki-laki yang baru saja ditukar perawat Siska itu. Tak sedikit pun terlihat penyesalan di raut wajah Mila. Baginya apa yang menjadi keinginannya harus terwujud meskipun dengan menghalalkan segala cara.
__ADS_1
"Gila* kamu Mila! Kamu benar-benar nekat menukar bayi kita dengan bayi orang lain?" ucap Fabian saat kembali memasuki ruang perawatan.
"Kamu lihat, Mas. Bayi ini tampan dan sempurna. Beginilah seharusnya bayi kita."
"Apa kamu sudah tidak menghargaiku sebagai suami lagi? Kalau kamu sudah tidak bisa diatur lagi, sebaiknya kita akhiri saja pernikahan kita!"
"Sudahlah, Mas. Jangan ngomong yang aneh-aneh. Kita pikirkan saja pesta kelahiran Rayyan besok."
"Mila, aku tidak main-main. Tindakanmu kali ini sudah melewati batas. Aku ingin kita pi- …"
Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba seseorang memasuki ruangan itu.
"Permisi, Pak Fabian. Apa kita bisa bicara sebentar?"
"Ada apa, Dok?" tanya Fabian.
"Ada kabar baik tentang Bu Silvia."
"Kabar baik apa, Dokter?"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1