
"Aku perhatikan sedari kembali dari toilet tadi kamu melamun terus. Jangan-jangan kamu kesambet penunggu toilet," ucap Luna.
Maureen masih asyik melamun. Ia bahkan tersentak kaget saat Luna memanggilnya.
"Maureen! Kamu beneran kesambet ya?!"
"Astaga! Kenapa? Ada apa?"
"Jadi, aku ngomong dari tadi kamu nggak dengar ya?"
"I'm sorry."
"Kamu kenapa sih? Aku lihat tadi kamu mengobrol dengan anak laki-laki di meja itu. Apa kamu mengenalnya?"
Maureen terdiam sejenak, ia lantas berpikir.
"Aku memang belum lama mengenal Luna, namun kurasa tidak ada salahnya aku menceritakan apa yang kini sedang kupikirkan agar perasaanku sedikit lebih lega," gumamnya.
"Aku merasa bocah laki-laki itu adalah anak kandungku."
"Astaga! Demi apa kamu bicara begitu? Anak? Memangnya kamu sudah punya anak? Lalu, kenapa anakmu bisa bersama orang lain?"
"Ya, kurang lebih delapan tahun yang lalu aku pernah melahirkan anak laki-laki. Tapi, …" Maureen menggantung ucapannya.
"Tapi kenapa?"
"Bayiku terlahir cacat, dan aku menukarnya dengan bayi lain yang lahir di hari dan jam yang sama."
"Sumpah ya. Kamu ibu paling kejam yang pernah kukenal."
"Mudah saja kamu bicara begitu. Jika kmu yang berada di posisiku, aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama."
"Oh ya, tadi kamu bilang menukar bayimu dengan bayi lain, lalu sekarang di mana anak yang tinggal bersamamu?"
"Anak itu-anak itu sudah meninggal dunia saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Entah kenapa aku merasa hatiku bergetar saat melihat anak laki-laki yang tadi kutemui di meja sebelah sana itu."
"Jadi, kamu mau bilang menyesal karena sudah membuangnya dan ingin mengambilnya kembali, begitu? Aku yakin ayahnya tidak akan semudah itu memberikan anak yang sudah sedari kecil tinggal bersamanya."
"Bagaimana pun anak itu adalah anak kandungku. Hanya aku yang berhak atas dirinya!" tegas Maureen.
"Dasar egois! Suka-suka kamu lah. Aku pusing dengan urusan hidupmu yang rumit!" gerutu Luna kesal.
__ADS_1
"Kembali ke rencana kita. Apa hari ini aku bisa menemui dua pria yang kamu sewa untuk menjalankan rencana kita itu?"
"Tunggu. Aku hubungi mereka dulu," ucap Luna sembari mengambil ponselnya dari dalam tas nya.
"Jangan bilang kamu akan mengundang mereka kesini."
"Tentu saja tidak. Kita bertemu mereka di tempat lain."
Maureen menggangguk paham.
Luna pun lantas menghubungi seseorang melalui ponselnya.
[Halo … lama sekali menjawab teleponku. Apa kalian tidak mau uang?//
Bos ingin bertemu. Kalian di mana?//
Baiklah, kami segera kesana//]
Maureen mengakhiri percakapan.
"Bagaimana? Bisa?" tanya Maureen.
"Kita temui mereka sekarang."
"Maureen?"
"Max? Kamu?"
"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Luna keheranan.
"Ya, saya pernah dibayar nona Maureen untuk berakting tertabrak mobil hingga mati." Pria berbadan kekar itu tertawa lepas.
Luna menyeringai kecut.
"Kamu memang manusia paling licik, Maureen. Apa saja kamu lakukan agar keinginanmu tercapai," ujarnya.
"Oh ya, apa kabar laki-laki yang menabrakku itu? Apa kalian jadi menikah?" tanya pria yah dipanggil Max.
"Ya, kami jadi menikah, tapi sekarang laki-laki itu tidak berguna lagi untukku."
"Kenapa bisa begitu? Bukankah kamu bilang cinta setengah mati padanya."
__ADS_1
"Memangnya siapa yang mau dengan laki-laki tidak waras?"
"Apa maksudmu?"
"Fabian sekarang gila dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa."
"Astaga. Jadi, siapa yang sekarang menjadi sasaranmu?"
"Azzura."
"Tunggu. Sepertinya nama itu tidak asing bagiku. Apakah dia Azzura yang sama dengan istri laki-laki yang suaminya kamu rebut itu?"
"Suami dari adikmu sendiri pun kamu rebut? Ckckckck." Luna menggeleng heran.
"Sudahlah, tidak usah membahas masalah itu, lebih baik kita bahas apa yang tugas kalian," ucap Maureen.
"Apa yang harus kita lakukan, Nona?"
"Aku sekarang bukan gadis lagi ."
"Baiklah, Nyonya Maureen. Tugas apa yang harus kita lakukan?"
Maureen mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Max.
"Ingat, kerja kalian harus rapi dan jangan pernah menyebutkan namaku dalam keadaan apapun."
"Itu urusan kecil, yang terpenting bagiku adalah uang."
"Tenang saja, aku sudah menyiapkannya."
Maureen mengambil amplop berwarna cokelat dari dalam tas nya lalu menyodorkannya pada Max.
"Lima puluh juta, sisanya nanti aku bayarkan jika tugas kalian berhasil. Sekali lagi ingat, kerja kalian harus rapi dan jangan sampai siapapun curiga dengan keterlibatanku."
"Beres, Nyonya Maureen," ucap Max. Dia lantas mencium amplop tersebut.
"Luna, kita pergi sekarang," ucap Maureen.
"Thank's, Bos Maureen."
Mereka tak menyadari jika sepasang mata mengawasi mereka dari kejauhan.
__ADS_1
Bersambung …