Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sebuah kekhawatiran


__ADS_3

"Kembalikan dompetku!" teriakku.


Perlakuan yang kudapat dari laki-laki itu sungguh tak kuduga. Dia justru menendang tubuhku dari atas sepeda motornya hingga membuatku terjatuh di atas rerumputan.


"Ya Allah. Kamu tidak apa-apa, Nak?" ucap ibu seraya berjalan menghampiriku.


"Jambret! Jambret!" teriak pak Amin seraya mengejar kedua tersebut. Sepertinya kedua jambret itu sedang sial. Sepeda motor yang mereka tumpangi justru jatuh terperosok ke dalam jalan berlubang. Dengan sigap pak Amin berlari menghampiri kedua laki-laki itu lalu merebut kembali dompetku.


"Rasain! Kualat kan kalian! Saya akan melapor pada polisi biar kalian ditangkap!" seru pak Amin.


"Jangan laporkan kami pada polisi, Pak," rintih salah satu laki-laki seraya memegangi lututnya yang berdarah lantaran terbentur jalan beraspal.


"Kami janji, kami akan tobat." Laki-laki lainnya yang juga mengalami luka di bagian siku tangannya itu menimpali.


"Bagaimana ini, Bu?" tanya pak Amin.


Aku pun lantas memandang wajah kedua laki-laki yang masih cukup muda itu bergantian. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa iba terlebih saat melihat luka di beberapa bagian tubuh mereka.


"Kami tidak akan melapor pada kalian, tapi dengan syarat panggilkan karyawan bengkel untuk menambal ban mobil kami yang bocor," ucapku.


"Ba-ba-baik, Bu."


Salah satu laki-laki itu pun lantas mengambil ponselnya dan bergegas menghubungi seseorang.


Sekitar sepuluh menit kemudian muncul dua orang pria berboncengan sepeda motor. Keduanya juga membawa alat penambal ban.


"Kalian kenapa?" tanya karyawan bengkel itu pada kedua pejambret itu.


"Kami sedang apes!"


"Mereka itu kualat. Menjambret dompet bu Zura, tapi malah jatuh," jelas pak Amin.


"Makanya, kalau bantu orang itu yang tulus, tidak usah mengharapkan imbalan," ucap salah satu karyawan bengkel.


"Apa Mas mengenal mereka?" tanyaku.


"Mereka ini kawan-kawan saya, Bu. Pasti mereka iseng menjambret, tapi akhirnya malah sial."


"Itu artinya Allah tidak meridhoi niat buruk kalian," ujarku.


"Kami benar-benar kapok. Kami tidak akan iseng lagi."


"Kalian masih bisa naik sepeda motornya?"


"Bi-bi-bisa, Bu."


"Ya sudah, kalian boleh pergi meninggalkan tempat ini. Jangan sampai saya melihat kalian menjambret lagi."


"Terima kasih, Bu." Laki-laki yang usianya baru 20 an itu lantas menyalamiku.


"Kami juga minta maaf."


"Ya, saya sudah memaafkan kalian asalkan kalian berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucapku.


"Tunggu apa lagi? Cepat pergi!" gertak pak Amin.


Kedua laki-laki itu pun lantas mengangkat kembali sepeda motor mereka dari jalan beraspal. Tidak berselang lama mereka meninggalkan tempat tersebut.


"Ya Allah, ada-ada saja. Berbuat iseng kok njambret," gumamku.


"Ibu mau kemana?" tanya karyawan bengkel setelah selesai menambal ban mobilku.

__ADS_1


"Kami mau ke tempat pemakaman umum."


"Oh, TPU Kamboja ya?"


"Benar, Mas."


"Ya sudah, mari biar saya tunjukkan jalan biar lebih cepat sampai."


Lima belas menit kemudian kami tiba di tempat pemakaman umum.


"Maafkan Zura, Yah. Zura baru sempat mengunjungi makam Ayah," ucapku sembari menaburkan bunga di atas pusara makam.


"Jika saja kamu masih hidup, kamu pasti bangga melihat Zura yang sekarang sudah menjadi pengusaha sukses." Ibu menimpali.


Setelah mengirim do'a untuk ayah, kami pun meninggalkan makam.


"Beberapa hari yang lalu mendiang ayah mendatangiku lewat mimpi," ucapku pada ibu ketika dalam perjalanan pulang.


"Sungguh? Apa ayahmu menyampaikan sesuatu?"


"Aku pun masih belum mengerti makna mimpi itu. Di mimpi itu aku tengah menangis di hadapan jenazah seseorang. Lalu ayah datang menghampiriku. Dia lantas menggandeng tanganku dan mengajakku menuju taman. Di sana kulihat seorang pria yang berdiri membelakangiku. Setelah aku menyapanya, dia pun membalikkan badannya."


"Siapa pria itu?" tanya ibu penasaran.


"Entahlah. Aku belum sempat melihat wajahnya, tapi tiba-tiba aku terbangun karena Ibu membangunkanku."


"Apa ayahmu menyampaikan sesuatu?" tanya ibu.


"Ayah mengatakan pria itu lah yang akan menjadi penyembuh lukaku."


"Sepertinya ibu tahu siapa pria itu."


"Pria itu sudah pasti Gibran."


Kenapa aku ini? Baru mendengar namanya saja jantungku berdebar begini.


"Ibu jangan asal menebak."


"Gibran itu laki-laki yang baik, pengertian dan tentu saja tampan. Bahkan jauh lebih tampan dari mantan suamimu itu," ujar ibu.


Aku membuang pandanganku keluar jendela mobil.


"Bagaimana sebenarnya perasaanmu pada Gibran?" tanya ibu.


"Jujur, sampai saat ini aku masih ragu membuka hati untuk pria lagi."


"Kasihan Gibran jika terlalu lama digantung."


"Memangnya siapa yang menggantung perasaannya? Aku sudah mengatakan padanya untuk memberiku waktu."


"Jangan sampai kamu menyesal jika suatu saat nanti laki-laki itu meninggalkanmu."


"Aku pasrahkan semuanya pada Allah. Jika dia memang ditakdirkan menjadi jodohku, akan ada jalan bagi kami untuk bersatu."


"Menurut saya Bu Zura cocok sekali dengan mas Gibran." Tiba-tiba pak Amin yang tengah menyetir menimpali.


"Tuh, kamu dengar. Pak Amin saja ngomong begitu."


Aku hanya menanggapi ucapan pak Amin dengan senyum simpul di bibir.


Tepat di saat adzan Maghrib berkumandang, kami tiba di rumah.

__ADS_1


Kulangkahkan kakiku menuju tempat wudhu yang berada di bagian belakang rumah. Aku juga sengaja membuat mushola kecil di sana. Pak Amin lah yang biasanya menjadi imam sholat kami.


"Kamu tidak sholat Maghrib, Fin?" tanyaku sembari membuka pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


"Ehm, aku sedang berhalangan, Bu."


"Ya sudah."


Aku baru saja beranjak dari kamar Fina, entah mengapa tiba-tiba perutku terasa begitu mual. Ingin rasanya menumpahkan seluruh isi perutku.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibu yang juga hendak menuju mushola.


"Entahlah, rasanya perutku mual sekali."


"Mungkin kamu masuk angin. Setelah shalat Maghrib nanti, biar ibu minta bi Ami membuat wedang jahe," ucap ibu. Aku mengangguk setuju.


Kupikir setelah meminum wedang jahe ini, rasa mualku akan hilang. Namun, rasa mual itu justru semakin menjadi.


"Apa tidak sebaiknya kamu periksa ke dokter, Nak," ucap ibu seraya mengoleskan minyak angin di bagian leher belakangku.


"Mungkin aku hanya masuk angin, Bu."


"Ini pasti karena kemarin kamu menjaga ibu di rumah sakit semalaman."


"Ibu kenapa, Nek?" tanya Lyra yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


"Sepertinya ibumu masuk angin, dari tadi mual-mual."


"Ibu jangan sakit. Jika Ibu sakit siapa yang menyiapkan bekal sekolah, siapa yang mengepang lambut Lyla?"


Aku mengulas senyum.


"Ibu tidak apa, Sayang. Lyra tidak perlu khawatir."


Tidak berselang lama bi Ami muncul dari arah dapur.


"Makan malam sudah siap," ucapnya.


"Ibu makan dulu yuk, bial sembuh." Lyra menggandeng tanganku dan mengajakku ke ruang makan.


"Ibu makan yang banyak," ucapnya seraya menuangkan beberapa centong nasi dan dua potong ayam besar ke dalam piringku.


"Masyaallah, Nak. Kenapa porsinya sebanyak itu. Mana mungkin ibu sanggup menghabiskannya," protesku.


"Ibu makan yang banyak bial cepat sembuh. Lyla nggak mau Ibu sakit," ucap Lyra. Aku bisa melihat kekhawatiran di sorot matanya.


"Terima kasih, Sayang."


Tiba-tiba aku teringat saat Lyra masih bayi dulu, aku pernah mengalami mual-mual yang cukup sering. Setelah aku memeriksakan diri ke dokter, dokter mengatakan jika mual-mual yang kualami adalah gejala usus buntu.


Apakah penyakit itu datang lagi? Ataukah memang penyakit itu berlanjut?


Bersambung …


Hi, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2