
Aku tersentak dari lamunanku saat ibu tiba-tiba memasuki kamarku. Aroma parfum yang begitu kuat pun sontak menyeruak memenuhi ruangan ini. Aku pun lantas mengamati penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Siang ini ibu mengenakan blouse berlengan panjang dan kain tipis di kepalanya meskipun tidak benar-benar sempurna menutup rambutnya. Penampilan yang cukup sopan menurutku.
"Ibu mau kemana?" tanyaku.
"Ibu mau ke salon. Wajahku perlu facial, rambutku juga perlu creambath."
Ah! Itu rupanya alasan ibu mengenakan kain penutup kepala. Padahal aku sempat berpikir ibu mulai berkeinginan untuk berhijab sepertiku.
"Kamu punya uang 'kan? Beberapa hari belakangan sepertinya pesanan jahitan cukup ramai."
"Ada, Bu." Aku mengambil tiga lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam laci rias lalu memberikannya pada ibu.
"Nah, gitu dong. Ini baru namanya anak kesayangan ibu."
Kutanggapi ucapan ibu dengan senyum tipis.
"Tadi kamu nelpon siapa?" Ibu sempat mendengar kamu menyebut nama Silvia. Memangnya siapa dia? Kawanmu?"
"Tadi Aku menelpon Arya."
"Arya? Laki-laki, ya? Jangan-jangan kamu sudah punya pacar baru," goda ibu.
"Bukan, Bu. Arya adalah kawanku yang dulu juga bekerja di tempat hiburan. Sekarang dia bekerja di kantor Fabian."
"Lantas, apa yang kalian obrolkan? Siapa perempuan bernama Silvia itu?"
"Ehm, awalnya Arya yang mengirim pesan padaku. Aku berpikir ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Itulah sebabnya aku menelponnya."
"Pasti ada hal penting 'kan yang dia sampaikan?"
"Ehm… ehm… tadi Arya memberitahu jika tadi dia melihat Fabian berada di cafe bersama Silvia."
"Siapa Silvia? Jangan-jangan laki-laki itu main gila lagi."
"Ibu masih ingat 'kan? Perempuan yang pernah kita lihat di kantor pegadaian bersama Fabian? Perempuan itu lah yang bernama Silvia, atasan Fabian," jelasku.
"Mereka ngapain di cafe pagi-pagi? Memangnya Fabian nggak ke kantor?"
"Sebenarnya bukan itu saja yang disampaikan Arya."
"Apa lagi?"
"Ehm, …Sepertinya hubungan Fabian dan Silvia bukan hanya sebatas atasan Dengan bawahan."
"Lantas?"
"Arya mengatakan kemarin dia mendapati mereka sedang bermesraan di dalam ruangan Fabian. Jika saat itu dia tidak masuk ke ruangan itu, mungkin mereka sudah melakukan perbuatan di luar batas."
"Astaga! Fabian memang laki-laki brengs*k! Kenapa dia jadi g*la perempuan?"
"Fabian berubah setelah dia naik jabatan," ucapku.
"Sepertinya Fabian menurut pada perempuan itu. Dia pasti turut andil dalam kenaikan jabatan Fabian."
"Sepertinya memang begitu. Bahkan aku mendengar obrolan mereka saat di taman. Silvia secara terang-terangan menjanjikan posisi sebagai direktur jika Fabian mau menikah dengannya."
"Lantas, bagaimana tanggapan Fabian? Istrinya 'kan lagi hamil. Mana mungkin mereka berpisah?"
"Sepertinya Fabian masih kebingungan. Dia belum memberi jawaban."
"Paling dia menikahi Silvia secara diam-diam lagi. Istrinya tidak mungkin mau dimadu ataupun diceraikan."
"Aku harap Fabian masih punya hati."
"Laki-laki itu sudah dibutakan jabatan. Bisa saja dia menceraikan istrinya lalu memilih menikahi Silvia yang jelas-jelas lebih kaya."
"Aku harap Fabian bisa bijak mengambil keputusan. Kasihan Mila dan bayinya jika Fabian benar-benar memilih berpisah dengannya demi menikahi Silvia."
"Kenapa kamu harus kasihan dengan pelakor itu? Dia saja nggak kasihan sama kamu waktu merebut Fabian," ujar ibu.
"Meskipun Karmila sudah membuatku terluka, aku tidak tega jika Fabian meninggalkannya dalam keadaan hamil atau sesudah melahirkan sekalipun."
"Buat apa memikirkan orang yang nggak mikirin kamu?"
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba ibu membekap mulutnya. Pasti rasa mual itu kembali menyerang.
__ADS_1
"Kalau Ibu kurang enak badan sebaiknya istirahat di rumah saja," ucapku.
"Ibu nggak apa-apa kok. Lagipula ibu sudah membuat janji dengan salon langganan ibu. Kalau ibu batalkan, ibu takut ibu tidak bisa lagi menjadi pelanggan spesial di salon itu."
Pelanggan spesial? Apa maksud dua kata itu? Apakah ibu bermain api lagi di belakang pak Prayoga?
"Kamu jangan mikir macam-macam. Pelanggan spesial itu karena pemilik salon itu dulu pernah menjadi rekan bisnis perusahaan keluarga kita. Di salon itu ibu sering mendapatkan diskon khusus."
"Memangnya salon mana yang menjadi tempat perawatan Ibu?"
Tiba-tiba ibu mengambil ponselnya.
"Ibu harus pergi sekarang. Ibu sudah ditunggu."
"Ibu makan siang dulu," ucapku.
"Nanti saja. Ibu bisa makan di cafe atau restoran."
"Aku sudah memasak, Bu. Siapa yang akan makan makanannya? Daripada untuk membeli makanan di luar, uangnya bisa digunakan untuk keperluan lain."
"Ibu akan meminta Yoga menjemput di salon. Setelah itu dia pasti mengajakku makan siang di cafe. Dia nggak pernah keberatan walaupun ibu memilih cafe atau restoran bintang lima sekalipun."
"Maaf, Bu. Ibu jangan terlalu memanfaatkan kebaikan pak Prayoga."
"Ibu nggak memanfaatkan dia kok. Yoga sendiri yang bilang jika aku menerima lamarannya, dia akan memberikan apapun yang ibu mau. Kalau kamu mengajak ibu mengobrol terus, ibu kapan berangkat nya?"
"Ya sudah, hati-hati, Bu."
"Kamu mau nitip makanan nggak? Nanti ibu bawa pulang."
"Tidak usah, Bu. Nanti makanan yang sudah kumasak mubadzir."
"Ya sudah, ibu pergi dulu. Jaga rumah baik-baik. Kalau kamu ke belakang, kunci saja pintunya. Jangan sampai Lyra diculik lagi," ucap ibu.
"Kemarin mbak Salma menculik Lyra itu di luar kendalinya. Jiwa mbak Salma sedang terguncang."
"Dia itu memang perempuan sin*ing! Tempat yang seharusnya memang rumah sakit jiwa. Semoga dia menjadi penghuni abadi di sana. Ha ha ha."
Ibu tertawa cukup keras hingga terdengar sampai ke teras. Di saat itulah Rahma yang tinggal persis di kamar sebelahku melintas.
"Jelas bahagia dong. Perempuan gil* memang pantasnya di sana. Biar nggak mengganggu kenyamanan orang lain."
"Sekali lagi saya tegaskan! Mbak Salma tidak gil*. Dia hanya sedang terguncang. Dengan perawatan di rumah sakit itu, aku yakin suatu hari nanti mbak Salma bisa sembuh seperti sedia kala."
"Kalau memang sin*ing ya sint*ng aja! Sampai kapanpun tidak akan bisa disembuhkan."
"Ingat, Bu. Do'a atau ucapan yang buruk untuk orang lain, akan kembali pada kita," ujarku.
"Begitu, ya? Uh, aku takut. Ha ha ha."
"Saya heran, bagaimana bisa perempuan sebaik mb Azzura bisa memiliki ibu yang berhati busuk seperti Bu Sabrina."
"Apa kamu bilang?"
"Ya, hati Ibu Sabrina memang busuk!"
"Gadis kurang ajar!" Tiba-tiba ibu meraih kepala Rahma lalu berusaha menarik jilbabnya.
Melihat adegan itu, tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku bergegas melerai pertengkarannya itu sebelum keduanya benar-benar saling menyakiti.
"Ibu! Rahma! Cukup!" pekikku sembari menarik pinggang ibu agar menjauh dari Rahma.
"Ibu harus memberi pelajaran pada gadis yang tidak tahu sopan santun ini!"
"Ibu Sabrina yang lebih dulu menghina kakak saya?"
"Menghina kamu bilang? Itu fakta. Kakakmu memang gi*a!"
Ibu masih belum mau menyerah. Dia masih berusaha menarik jilbab itu agar demi bisa meraih rambut Rahma.
Aku tak punya pilihan selain berteriak meminta pertolongan.
Ada beberapa penghuni kost yang keluar dari kamar mereka dan pemilik tempat kost itu yang kebetulan datang. Mungkin hari ini adalah hari pembayaran sewa kamar kost.
"Astaga! Ada apa ini?!" serunya yang sontak membuat ibu menghentikan aksinya. Dia bergegas melepaskan tangannya dari kepala Rahma. Sementara Rahma pun lekas merapikan hijabnya.
__ADS_1
"Gadis ini yang kurang ajar! Dia tidak memiliki sopan santun pada orang yang lebih tua!"
"Bu Sabrina ini yang lebih dulu menghina kakak saya."
"Siapa yang menghina? Memang fakta 'kan, kalau kakakmu itu gi*. Jika dia waras tidak mungkin dirawat di rumah sakit jiwa."
"Kakak saya tidak gil*!
"Sin*ing!"
"Kali ini Rahma berusaha menyerang balik ibu dengan memberi tamparan di wajahnya. Namun pemilik kost yang kerap disapa cik Leni itu menahan tangannya.
"Berhenti bertengkar atau kalian berdua aku usir secara paksa dari tempat kost ini!" ancamnya.
Rahma dan ibu pun lantas terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Cepat kalian saling minta maaf!" serunya.
Keduanya masih tak bergeming.
"Apa kalian tidak mendengarkan saya? Cepat saling minta maaf!"
Rahma mengulurkan tangannya. Aku tahu, dia tidak setulus hati melakukannya. Begitu pun ibu, ia menjabat tangan gadis itu dengan membuang wajahnya. Tak ada kata maaf yang terucap dari bibir keduanya.
"Sekali lagi kudengar kalian membuat keributan di tempat ini, saya tidak akan segan-segan mengusir paksa kalian!" ancam cik Leni.
"Saya permisi dulu."
Rahma berlalu dari hadapan kami, ia lantas masuk ke dalam kamarnya.
"Kalian ini sudah sama-sama dewasa tapi tingkah seperti anak kecil," gerutu perempuan keturunan Cina itu.
"Maafkan ibu saya, Cik," ucapku.
"Oh ya. Hari ini adalah hari pembayaran sewa kamar," ucap cik Leni.
"Bak, Cik. Saya sudah menyiapkan uangnya."
Aku beranjak dari teras lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang kost yang sudah susah payah aku kumpulkan dari hasil menjahit.
"Ini, Cik," ucapku sembari menyodorkan sejumlah uang dengan pecahan beragam.
"Terima kasih, selama ini Mbak Zura selalu membayar uang sewa tepat waktu."
"Alhamdulillah, Cik. Usaha saya lancar."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi berkeliling ke kamar lainnya."
Dari aku, pandangannya lalu beralih ke wajah ibu.
"Ingat ya, Bu. Sekali lagi Ibu membuat keributan di tempat ini, aku akan mengusir paksa Ibu."
"Ba-ba-baik, Cik."
"Selamat siang."
Pemilik tempat kost itu pun lantas meninggalkan kamar kost ku.
"Ibu nggak jadi pergi ke salon?" tanyaku sesaat setelah cik Leni berlalu.
"Astaga. Gadis kurang ajar itu membuang waktuku saja. Ibu pergi dulu."
"Hati-hati, Bu."
Aku mengamati ibu berjalan keluar menuju pintu gerbang. Di saat itulah hal tak terduga terjadi. Sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan pintu gerbang itu. Detik kemudian perempuan yang membonceng sepeda motor itu turun dari kendaraan tersebut dan menghampiri ibu.
"Perempuan penggoda!" teriaknya.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1