Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Awal kehancuran


__ADS_3

Kegaduhan yang terjadi di teras rumah pun memaksa Mila keluar dari dalam kamarnya.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Selamat pagi, Ibu Karmila. Tujuan kami datang ke rumah ini adalah untuk menindaklanjuti laporan warga atas peristiwa yang terjadi semalam di pos security."


"Lantas?"


"Dua saksi mata yakni Bapak Seto dan ibu Wati mengatakan jika saudara Freddy didorong oleh Ibu sehingga kepala korban membentur dinding."


"Hanya membentur dinding saja 'kan? Kenapa dibesar-besarkan? Saya juga pernah mengalaminya. Kepala saya kebentur dinding, tapi gak apa-apa kok."


"Perlu Bu Mila tahu, menurut keterangan dokter cidera di bagian kepala yang dialami saudara Freddy cukup parah hingga mengakibatkannya meninggal dunia," ungkap polisi.


"Mana mungkin Freddy meninggal? Ini pasti hanya akal-akalan Pak Seto dan Bu Wati saja. Saya tahu mereka iri pada keluarga saya karena memiliki banyak uang."


"Apa yang dikatakan bapak polisi ini serius, Bu. Freddy meninggal dunia dini hari tadi setelah mengalami koma semalam," tukas pak Seto yang turut mendampingi pihak kepolisian.


"Ap-ap-apa? Freddy meninggal?"


"Benar, Bu. Dan keluarga korban menuntut agar pelaku pembunuhannya ditangkap."


"Saya tidak membunuh Freddy! Apa yang terjadi padanya adalah kesalahannya sendiri."


"Silahkan Ibu memberi keterangan lengkap di kantor polisi," ucap polisi lainnya sembari memasang borgol pada kedua tangan Mila.

__ADS_1


"Astaga! Apa-apaan ini! Kenapa tangan saya diborgol?!" 


"Ibu Karmila harus ikut kami ke kantor polisi."


"Mas! Tolong aku! Kenapa Mas Fabin diam saja?"


"Istri saya tidak bersalah. Kalian tidak bisa menangkapnya!" seru Fabian sembari berusaha melepas borgol itu.


"Saudara Fabian! Harap kerja samanya. Saudara bisa saja ikut kami tangkap karena berusaha menghalangi penyidikan!" Polisi itu meninggikan suaranya.


"Saya mohon jangan tangkap istri saya. Kami memiliki bayi yang baru berusia satu bulan. Jika istri saya ditangkap, siapa yang akan merawat dan menyusuinya?"


"Maaf, kami hanya menjalankan tugas."


Fabian hanya bisa pasrah saat kedua polisi itu benar-benar membawa Mila pergi dari hadapannya.


"Apa ini karma karena atas perbuatanku pada Zura?" gumamnya.


"Bapak dipanggil ibu Kinanti," ucap Dini sesaat setelah polisi dan warga meninggalkan rumahnya.


"Sa-sa-bar, Nak," ucap sang ibu terbata.


"Mudah sekali menyuruhku bersabar. Aku tahu dari dulu Ibu tidak pernah menyukai Mila. Jangan-jangan apa yang terjadi pada Mila karena sumpah serapah Ibu!"


"Ti-ti-tidak, Nak."

__ADS_1


"Astaga kenapa Bapak bicara sekasar itu pada ibu Kinanti? Apa Bapak tidak takut dosa?" ucap Dini.


"Diam kamu! Jangan membuat kepalaku semakin pusing!" bentak Fabian.


"Oh ya, Pak. Kalau bu Mila dipenjara, siapa yang akan mengurus Rayyan?"


"Kamu saja yang urus! Aku tidak peduli!"


"Mana sanggup saya mengurus bu Kinanti dan Rayyan sekaligus? Sebaiknya Bapak cari pengasuh bayi saja."


"Kamu tahu 'bukan? Rumah ini baru saja dirampok habis-habisan? Uang, perhiasan, bahkan mobil saya pun raib. Lantas, dengan apa saya membayar gaji pengasuh bayi?"


"Ya sudah. Kalau Bapak tidak mau mencari pengasuh Rayyan, lebih baik saya berhenti saja dari pekerjaan ini!" ancam Dini.


Fabian terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Rayyan ini bukan anak kandungku. Buat apa juga aku membuang uang untuk membayar pengasuh bayi," gumamnya.


"Bapak mau bawa Rayyan kemana?" tanya Dini saat mendapati Fabian menggendong Rayyan dengan membawa serta tas bayi.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2