Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kemana perginya?


__ADS_3

Sore itu entah mengapa Lyra sedikit memaksaku untuk menemaninya makan bakso di kedai yang berada di dekat perempatan jalan raya.


"Bakso tiga mangkuk makan di sini, Pak," ucapku pada pemilik kedai yang kerap disapa pak kribo. Entah bagaimana awal mulanya julukan itu tercetus. Nyatanya rambut pria yang dipanggil pak kribo itu sama sekali tidak keriting, bahkan cenderung lurus.


"Saya ditraktir nih, Bu?" Pak Amin terlihat sedikit canggung.


"Mana mungkin saya membiarkan pak Amin duduk diam melihat kami makan bakso." Aku menarik sebuah kursi yang berada tepat di hadapanku, sopir pribadiku itu pun lantas mendudukinya.


Aku mengedarkan pandanganku di kios yang tidak begitu luas itu. Hingga sepasang netraku menangkap sebuah kantong plastik di atas meja yang berada di sudut ruangan.


"Bungkusan plastik milik siapa itu, Pak?" tanyaku penasaran.


Pemilik kedai itu pun sontak mengalihkan pandangannya ke arah meja tersebut.


"Oh, benda itu pasti milik ibu-ibu yang tadi makan mie ayam di sini."


Setelah mengantarkan bakso ke meja kami, pria paruh baya itu pun lantas menghampiri meja tersebut dan memeriksa isi kantong plastik tersebut.


"Benar, kan? Ini nasi kotak yang tadi saya berikan pada ibu itu. Setiap hari Jumat ada komunitas anak muda yang membagikan nasi kotak gratis. Saya diberi dua kotak nasi, jadi satu kotak saya berikan pada beliau."


"Bapak kenal siapa ibu itu?" tanyaku.


"Tidak, Bu. Sepertinya beliau belum pernah datang ke kedai ini. Hanya saja saya iba mendengar cerita beliau."


"Kalau boleh saya tahu, apa yang membuat Bapak iba?"


"Ibu itu bercerita jika anaknya baru tertipu Milyaran rupiah hingga membuatnya maaf, gila. Sekarang anaknya dikirim ke rumah sakit jiwa. Beliau terpaksa meninggalkan rumahnya lantaran sudah dijual oleh menantunya yang serakah. Ah, seperti cerita dalam sinetron saja."


Aku terdiam sejenak. Entah mengapa aku berpikir jika cerita itu begitu mirip dengan apa yang dialami Fabian dan keluarganya. Pun aku berharap ibu yang dimaksud pemilik kedai itu bukanlah mantan ibu mertuaku.


"Ibu … saus nya kebanyakan," tegur Lyra.


"Apa? Astaghfirullah." Lekas kuletakkan kembali botol berisi saus tomat itu di tempatnya semula. Ah, pasti aku melamun tadi hingga tidak sadar menuangkan terlalu banyak saus tomat ke dalam mangkukku.

__ADS_1


"Ibu kenapa?" tanya Lyra.


"Ti-ti-tidak apa kok, Nak. Ayo berdoa dulu sebelum makan bakso nya," ucapku. Putri semata wayangku itu pun mengangguk paham.


Jujur, aku masih penasaran siapa sebenarnya ibu yang diceritakan pemilik kedai ini. Setelah menghabiskan bakso kami, aku pun memutuskan untuk menanyakannya kembali pada beliau.


"Ehm … maaf, Pak. Apa saya boleh tahu bagaimana ciri-ciri ibu yang tadi makan mie ayam di sini?" tanyaku.


"Ehm … ibu itu mengenakan baju gamis berwarna cokelat tua. Kalau tidak salah ada tahi lalat di bagian pelipis kirinya."


Tidak salah lagi. Wanita yang dimaksud pemilik kedai ini pastilah bu Kinanti.


"Ibu itu pergi ke arah mana, Pak?"


"Sepertinya naik angkutan umum jalur 5."


"Baik, terima kasih, Pak."


Setelah membayar, kami pun lantas meninggalkan kedai tersebut.


"Memangnya kita mau kemana, Bu? Toko kue 'kan ke arah sana."


"Bukan ke toko kue, Pak. Jalan saja sampai saya suruh berhenti."


"Baik, Bu."


Seperti perintahku, pak Amin melajukan si putih menyusuri jalan yang dilalui angkutan umum berwarna biru. Tentu saja pandanganku tak lepas dari setiap jengkal jalanan beraspal yang kami lalui.


Setahuku bu Kinanti tidak memiliki saudara di kota ini. Jadi kemungkinan besar beliau akan mencari tempat tinggal di kost ataupun rumah kontrakan.


"Ini sudah di dekat terminal, Bu. Apa kita mau masuk ke terminal?" tanya pak Amin yang sebenarnya belum tahu kemana arah yang akan kami tuju.


"Ehm … kita menepi sebentar di halte depan itu ya, Pak."

__ADS_1


"Ibu sedang mencari seseorang ya?"


Ah, akhirnya pertanyaan itu meluncur juga.


"Iya, Pak."


"Ibu mencari siapa?" Lyra menimpali.


"Nanti kamu akan tahu, Nak."


Mobilku kini telah menepi di dekat halte. Beberapa orang terlihat duduk di bangku halte. Aku berharap salah satu dari mereka melihat di mana ibuku.


"Permisi, Bu. Maaf, saya sedang mencari seseorang. Apa Ibu melihat wanita berusia sekitar enam puluh tahun, mengenakan gamis berwarna cokelat tua lewat di sekitar sini?" tanyaku pada seorang wanita berhijab lebar sepertiku.


"Maaf, Bu. Saya baru beberapa menit tiba di halte ini. Mungkin Ibu bisa bertanya pada yang lain."


"Baik, Bu, terima kasih."


Beberapa orang yang berada di halte itu pun rupanya tidak ada satupun yang melihat bu Kinanti.


"Kita mau kemana lagi, Bu? Ini sudah hampir Maghrib," ucap pak Amin.


"Kita pulang saja, Pak. Besok saja kita lanjutkan pencariannya."


"Di manapun keberadaan ibu sekarang, kuharap Allah selalu membersamai ibu," lirihku.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2