
Tingkah tidak biasa Fabian mulai mengundang perhatian beberapa pasang mata yang berada di ruangan itu. Jantungnya semakin berdebar, keringat dingin pun tak henti-hentinya mengalir dan dan membasahi sekujur tubuhnya. Sementara ada dorongan yang begitu kuat dari dalam sana dan harus secepatnya dituntaskan. Akhirnya Fabian memilih meninggalkan ruang seminar itu dan kembali ke dalam kamarnya. Mendapati keadaan Fabian yang cukup mengkhawatirkan, Silvia pun akhirnya meninggalkan ruangan itu dan bergegas menyusul Fabian.
"Pertunjukan dimulai," gumam seseorang.
"Bian! Kamu kenapa?" tanya Silvia dari luar pintu kamar.
"Jangan mendekat! Pergi!" teriak Fabian.
"Aku khawatir denganmu. Kalau kamu sakit, kita ke rumah sakit sekarang."
Detik kemudian Silvia sudah berada di dalam kamar itu. Fabian terlihat begitu tersiksa seolah ada sesuatu yang tengah menguasainya.
"Kamu kenapa, Bian?"
"Jangan mendekat! Kumohon, cepat tinggalkan kamar ini."
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan begini?"
Silvia tidak menyadari sedikit pun jika bahaya tengah mengintainya. Dia justru menggeser tubuhnya mendekati bawahannya itu.
"Kalau kamu memang sakit, kita ke rumah sakit sekarang," ucap direktur itu sembari menggenggam tangan Fabian. Sekuat apapun melawan, Fabian tak sanggup lagi menahan gejolak yang semakin kuat dari dalam dirinya. Tiba-tiba dia mendorong Silvia ke atas ranjang lalu menindihnya. Perempuan yang memiliki kekuasaan tertinggi di perusahaan itu hanya bisa pasrah saat Fabian menyingkap rok nya dan menarik paksa kain tipis yang menutupi bagian intinya.
"Astaga! Fabian! Kamu jangan gil*!"
Dengan sekuat tenaga yang dimiliki, Silvia berusaha mendorong tubuh pria itu namun tentu saja percuma. Meskipun Silvia begitu mengagumi Fabian, dia tidak menyukai cara kasar ini. Silvia hanya bisa menangis pilu saat Fabian benar-benar telah memasuki dirinya.
"Breng*ek!" teriaknya sembari mendorong tubuh Fabian hingga membuatnya terjatuh tepat di sisi tempat tidurnya. Fabian terkapar lemas seolah sesuatu yang sedari tadi mendesak dari dalam dirinya telah berhasil dituntaskan.
"Plak! Plak! Plak!" Tak hanya sekali, Silvia memberi Fabian tamparan berulang.
"Apa yang kamu lakukan, Bian!" bentaknya.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim! Apa yang sudah aku lakukan?"
"Ternyata selama ini kamu hanya pura-pura alim! Kamu sama saja dengan laki-laki di luar sana!" seru Silvia sembari mengenakan kembali pakaian dalamnya yang tercecer di lantai.
"Maaf, Via. Ini semua di luar kendaliku. Tiba-tiba aku merasa dorongan itu begitu kuat dari dalam. Seumur hidup baru kali ini aku mengalaminya," ungkap Fabian.
Silvia terdiam sejenak, ia lantas berpikir.
"Sudah cukup lama aku mengagumi Fabian. Mungkin dengan cara inilah aku memiliki alasan yang kuat agar dia mau menikahiku," gumamnya.
Fabian tak berhenti meminta maaf dan mengungkapkan penyesalannya. Silvia yang tadinya dipenuhi amarah pun perlahan mulai luluh.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Tak ada gunanya juga kita saling menyalahkan," ujar Silvia.
Obrolan mereka terhenti ketika tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Silvia lekas merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, ia lantas berjalan menghampiri pintu. Dia cukup kaget saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Dion? Ngapain kamu di sini?" tanyanya.
"Apa maksudmu?"
"Lebih enakan main sama aku atau sama laki-laki itu?"
"Astaga! Bagaimana dia bisa tahu? Jangan-jangan, …"
Ingatan Silvia pun kembali pada pagi tadi saat seorang pelayan hotel mengantarkan minuman ke kamar mereka. Tingkah Fabian terlihat aneh setelah meminum minuman itu. Apakah ada seseorang yang dengan sengaja memasukkan sesuatu ke dalam salah satu gelas minuman itu?
"Rupanya pil perang*ang itu bekerja lebih cepat dari yang kuduga," ujar Dion.
"Kamu memang bang*at! Memangnya apa salah Fabian 'hah!"
"Bukan laki-laki itu yang salah. Kalau saja kamu mau menerimaku kembali, hal ini tidak akan terjadi," ucap Dion.
__ADS_1
"Breng*ek!" Silvia mengangkat salah satu tangannya dan berniat melayangkannya ke wajah Dion, namun laki-laki itu menepisnya.
"Aku akan melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib!" ancam Silvia.
"Apa yang mau kamu laporkan? Pelece*an? Pemerk*saan? Aku tahu kamu menyukai laki-laki itu, dan kamu juga menikmatinya 'bukan?"
"Dion…kamu, …!"
Sekali lagi Silvia berniat melayangkan tamparannya di wajah Dion dan untuk ke dua kalinya ia gagal melakukannya.
"Aku puas melihatmu hancur, Silvia."
"Oh, jadi kamu yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku? Breng*ek!" Fabian yang baru saja keluar dari dalam kamar itu tiba-tiba memberi bogem mentah di wajah Dion dan mengenai bagian pelipisnya.
"Kenapa Anda harus marah, Tuan Fabian yang terhormat? Bukankah anda seharusnya berterima kasih pada saya. Berkat saya, anda tahu bagaimana rasanya liang surga bu Direktur. Hahaha!"
"Bug!" Kali ini giliran perut Dion yang mendapat serangan.
"Security! Tangkap laki-laki ini! Dia telah menganiaya kawan saya!" seru seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan kamar Silvia.
Bagaimana nasib Fabian selanjutnya?
Ikuti terus ya, Kak…
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1