Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Selalu merasa benar


__ADS_3

Di rumah Fabian.


"Daritadi Rayyan nangis kok Ibu malah main hp sih!" protes Dini saat mendapati Mila tengah memainkan ponselnya di ruang tamu sementara Rayyan dibiarkan menangis di dalam kamar.


"Dia sudah kenyang minum susu formula. Nanti kalau sudah capek menangis pasti tidur sendiri," ucap Mila. Pandangannya sama sekali tidak beralih dari layar ponselnya. Entah apa yang membuatnya tertawa cekikikan. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.


"Apa, Bu?! Susu formula? Ibu masih waras 'bukan? Usia Rayyan belum genap satu bulan. Bagaimana Ibu bisa berpikir untuk memberinya susu formula? Seharusnya Ibu memberikan ASI eksklusif sampai usianya enam bulan."


"Halah! Tahu apa kamu tentang mengurus bayi. Menikah saja belum."


"Sepertinya Ibu ini kurang membaca. Banyak artikel di majalah ataupun internet yang menjelaskan pentingnya ASI eksklusif untuk bayi sampai usia enam bulan."


"Kalau kamu memang tahu banyak cara mengurus bayi, kamu urus saja sana Rayyan. Nanti aku beri gaji lebih."


"Mengurus Bu Kinanti saja sudah merepotkan. Apa jadinya jika harus mengurus Rayyan juga?"


"Kalau kamu tidak mau, nanti aku cari pengasuh bayi saja."


"Astaga. Sudah nggak mau merawat ibu mertua, sekarang malah ingin mencari pengasuh bayi. Apa sih yang ada di pikiran Ibu?"


"Terserah aku dong! Aku punya banyak uang dan aku bebas melakukan apa saja yang aku mau."


Dini hanya menggeleng heran dengan sikap majikannya itu. Dia lantas melangkah masuk ke dalam kamar utama dan membopong Rayyan.


"Kasihan sekali kamu punya ibu begitu," ujarnya.


Tiba-tiba Dini mengamati wajah Rayyan.


"Benar kata orang-orang. Wajah bayi ini sama sekali tidak mirip pak Fabian ataupun bu Mila. Jangan-jangan sikap Bu Mila yang acuh itu karena Rayyan bukan anak kandungnya," gumamnya.


Dini kebingungan saat tiba-tiba Mila masuk ke dalam kamar itu dan mengambil alih Rayyan dari gendongannya.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang dari arah ruang tamu.


"Ah! Aku tahu sekarang. Bu Mila akan bersikap perhatian pada Rayyan hanya saat pak Fabian berada di rumah," gumam Dini.


"Ayah sudah pulang," ucap Mila.


Jangankan menimang atau menggendong Rayyan. Fabian justru terlihat acuh dan tidak peduli pada bayi laki-lakinya itu.


"Benar-benar keluarga yang aneh," gumam Dini lagi.


"Besok jadwal imunisasi Rayyan. Sebelum ke kantor, Mas temani kami ke rumah sakit dulu, ya," ucap Mila.


"Besok aku ada rapat direksi. Aku harus tiba di kantor lebih awal."


"Apa Mas mau membiarkanku naik taksi?"


"Hanya imunisasi saja 'kan? Tidak perlu ke rumah sakit. Ke klinik dekat rumah saja bisa."


"Gengsi lah. Masa istri direktur imunisasi anaknya di klinik kecil begitu."


"Dia kan bukan anak kan- …"


Fabian menggantung ucapannya. Hampir saja ia keceplosan di depan Dini.


"Aku mau mulai kerepotan mengurus Rayyan. Bagaimana kalau aku mencari pengasuh bayi?" Tiba-tiba Mila mengalihkan pembicaraan.


"Mengurus ibu bilang keberatan. Sekarang merawat bayi bilang kerepotan. Sebenarnya maumu itu apa? Kamu ini istri sekaligus ibu. Bersikaplah sewajarnya."


"Sejak melahirkan aku tidak pernah ke salon. Aku juga ingin melakukan perawatan. Kalau aku kusam dan dekil, bisa-bisa Mas berpaling pada wanita lain."


"Sudahlah, jangan ngaco. Aku mau mandi dulu. Fabian beranjak dari ruang tamu, ia lantas masuk ke dalam kamarnya.


Tiba-tiba seseorang muncul dari arah teras. 

__ADS_1


"Permisi, Bu."


"Kamu siapa, dan ada perlu apa?" tanya Mila.


"Saya minta sedekah, Bu. Dari pagi saya belum makan," ucap perempuan tua itu seraya memegangi perutnya.


"Kalau mau makan ya kerja, jangan minta-minta."


"Siapa yang mau menerima perempuan tua seperti saya bekerja? Anak-anak saya sudah berkeluarga, dan mereka tidak peduli lagi pada saya."


"Anak-anakmu saja tidak peduli. Apalagi orang lain."


"Saya sudah berkeliling komplek ini. Namun tak ada satupun yang berbaik hati memberi sedekah pada saya."


"Sudah, pergi sana! Saya tidak punya uang kecil."


"Kalau bukan uang, makanan pun saya terima."


"Sayangnya saya tidak memiliki makanan sisa."


"Kasihan pengemis ini, Bu. Bagaimana kalau saya beri roti tawar dan susu saja?" ucap Dini.


"Roti tawar juga belinya pakai uang."


"Ya sudah, saya bungkus kan nasi dan lauk saja."


"Tidak ada uang atau makanan!" tegas Mila.


"Kita memiliki makanan berlebih, Bu. Tidak ada salahnya berbagi pada orang lain. Apalagi nenek ini sedang kelaparan," ujar Dini.


"Aku heran. Bagaimana pengemis bisa masuk ke dalam perumahan elite ini."


"Saya mohon belas kasihan Ibu," ucap perempuan tua itu.


"Nggak! Saya nggak punya uang dan makanan! Cepat pergi dari rumahku! Mengotori lantai saja."


"Ingat loh, Bu. Do'a nya orang teraniaya itu mustajab. Apa Ibu tidak takut kalau Ibu benar-benar tidak punya uang dan makanan?"


"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat siapkan makanan untuk mas Fabian."


"Lama-lama aku seperti pembantu di rumah ini. Disuruh ini lah, disuruh itu lah," gerutu Dini sebal.


"Ngomong apa kamu barusan?"


"Ti-ti-tidak, Bu." 


"Cepat suruh pengemis itu pergi sebelum aku memanggil security!" seru Mila.


"Ini sedikit uang untuk membeli makanan," ucap Dini setengah berbisik. Tanpa sepengetahuan Mila ia menyelipkan uang pecahan dua puluh ribu di tangan perempuan tua itu.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Nak. Semoga Allah melancarkan rejekimu dan selalu menjagamu," ucapnya.


"Aamiin. Nenek pergi sekarang sebelum nenek sihir itu mengeluarkan tanduknya," bisik Mila.


"Astaga. Disuruh ngusir kok malah ngobrol!" seru Mila.


"Tuh, bener kan?"


"Nenek pergi dulu, Nak. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Perempuan tua itu pun lantas meninggalkan rumah tersebut.


"Jadi orang jangan sombong-sombong, Bu. Sebagian harta kita ada hak orang lain," ujar Dini.

__ADS_1


"Orang pemalas begitu tidak patut dikasihani. Kalau mau makan ya kerja, cari duit. Bukannya meminta-minta. Aku punya uang banyak juga karena mas Fabian yang bekerja keras 'bukan?"


"Percuma ngomong sama orang keras kepala," gerutu Dini.


"Saya ke kamar ibu dulu. Sudah waktunya mandi sore." Dini berlalu dari hadapan Mila, ia lantas melangkah masuk ke dalam kamar tamu.


"Sepertinya tadi ada tamu. Siapa yang datang?" tanya Fabian yang baru selesai mandi.


"Nggak ada siapa-siapa kok Mas. Tadi aku hanya ngobrol sama Dini."


"Dari nada suaranya kamu membentak. Apa kamu marahin dia?"


"Nggak, Mas. Aku nggak marahin dia."


"Kamu jangan terlalu keras sama Dini. Kalau dia kabur, kita juga yang repot harus cari perawat baru. Meskipun kadang menjengkelkan, Dini selalu bekerja dengan baik untuk kita," ungkap Fabian.


Malam harinya.


"Obat untuk bu Kinanti habis, Pak. Saya izin keluar untuk membelinya di apotek," ucap Dini di sela makan malam Fabian dan Karmila. Fabian pun mengambil dua lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada perawat tersebut.


"Sampai kapan sih, Mas? Kita keluar duit banyak untuk membeli obat yang belum tentu membuat ibu sembuh?" protes Mila.


"Sudah kewajibanku merawat ibu saat beliau sakit."


"Mas lihat sendiri 'kan? Sudah berbulan-bulan ibu sakit dan rutin minum obat, tapi tidak ada perubahan apapun. Ibu masih begitu-begitu saja. Mana gaji perawat tidak kecil lagi."


"Bukankah kamu sendiri yang bilang kerepotan merawat ibu dan tidak masalah keluar uang untuk membayar perawat? Kenapa sekarang kamu mempermasalahkannya?"


"Berantem lagi," gumam Dini.


"Maaf, Pak, Bu. Saya pergi dulu."


"Kalau sudah dapat obatnya cepat pulang, jangan keluyuran."


"Mana mungkin saya keluyuran, Bu. Saya pergi dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Fabian.


Tidak berselang lama terdengar suara seseorang mengetuk pintu.


"Kenapa Dini cepat sekali," gumam Fabian. Dia pun lantas membuka pintu depan rumahnya. Ternyata bukan Dini, tamunya malam itu adalah seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal.


"Maaf, anda siapa dan ada perlu apa?" tanya Fabian.


"Kamu lupa sama saya? Saya teman lamamu." Pria itu menepuk pundak Fabian. 


"Oh, iya. Mari masuk."


"Siapa, Mas?" tanya Mila.


"Saya teman lama suami Ibu. Tujuan saya datang ke sini untuk bersilaturahmi." Pria itu juga menepuk pundak Mila.


"Saya ingin minta tolong. Istri saya sakit dan harus secepatnya dioperasi. Saya membutuhkan uang sebesar lima puluh juta rupiah. Kamu punya uang nya 'kan?"


Dengan mudahnya Fabian mengeluarkan kartu ATM dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada pria tersebut.


"Apa saya boleh tahu nomor pin nya?"


"654321."


"Kamu juga pasti punya brankas 'kan?" tanya pria itu. Fabian dengan tatapan kosong itu menganggukkan kepalanya.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2