Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Jumawa


__ADS_3

Di rumah Fabian.


"Mila kemana, Mbak?" tanya Fabian pada perawat sang ibu.


"Tadi Bu Mila bilang mau ke mall, Pak," jawab gadis bernama Andini itu.


"Mall lagi. Belanja lagi. Apa tidak ada pekerjaan lain selain menghambur-hamburkan uang?" gerutu Fabian kesal. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kotak berukuran besar yang berada di sudut ruang tamu.


"Itu apa?" tanyanya.


"Saya tidak tahu isinya, Pak. Barusan kurir yang mengantarnya ke sini. Sepertinya bu Mila membelinya melalui olshop.


Fabian yang penasaran itu pun lantas membuka kotak berukuran 1×1 meter itu. Dia semakin dibuat geram saat melihat isi di dalamnya.


"Mesin cuci yang kemarin saja masih bagus. Kenapa harus beli yang baru?"


"Brak!" Fabian menendang kardus dengan salah satu kakinya. 


"Bapak mau saya buatkan minum?" tanya Andini yang kerap disapa Dini itu. Dia lah perawat yang ditugaskan dari yayasan untuk bekerja di rumahnya. Tugasnya tentu saja merawat bu Kinanti dari menyuapi makan, memandikan, bahkan membersihkan kotoran dan air seninya.


"Boleh. Buatkan saya kopi pahit."


"Tidak pakai gula, Pak?"


"Yang namanya pahit ya tidak pakai gula!" seru Fabian ketus.


"Bapak 'kan biasanya minum kopi pakai gula."


"Kalau kerja itu tidak usah kebanyakan bicara."


"Ba-ba-baik, Pak."


Dini beranjak dari ruang tamu kemudian melangkah menuju dapur.


"Masih muda galak banget! Aku sumpahi kena stroke!" umpatnya.


"Bilang apa kamu barusan?"


"Ehm, ti-ti-tidak, Pak. Saya hanya bilang saya tidak suka kopi pahit."


Beberapa saat kemudian Dini keluar dengan membawa nampan berisi secangkir kopi hangat.


"Sepertinya Bapak capek sekali. Bapak mau saya pijit?" tanya Dini sesaat setelah meletakkan cangkir itu di atas meja.


Fabian terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Semenjak menikahi Mila, tak pernah sekalipun dia memijitku. Justru dia yang setiap malam menyuruhku memijat punggungnya," gumamnya.


"Maaf ya, Pak. Saya tidak bermaksud tidak sopan. Semoga pijitan saya membuat pegal-pegal di badan Bapak sedikit berkurang."


"Boleh. Tapi jangan keras-keras. Saya tidak terbiasa dipijit."


Dini yang berasal dari desa itu terlihat lincah memainkan jari-jarinya dimulai dari bagian kepala, pundak hingga kedua lengan sang tuan. Saking nyamannya, tanpa disadari Fabian tertidur di atas sofa.


"Bapak itu tampan, tapi sayang, galak," bisik Dini sembari memandang wajah Fabian dari jarak yang begitu dekat.


Dini lekas menggeser tubuhnya dari Fabian saat tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah teras. 

__ADS_1


"Dini buatkan aku minuman dingin. AC di taksi tadi mati. Aku jadi kepanasan," ucapnya sembari meletakkan beberapa buah paper bag berukuran besar itu di atas meja. Rupanya suara itu membuat Fabian terbangun dari tidur singkatnya.


"Dari mana kamu?" tanyanya.


"Di mall sedang ada diskon besar-besaran untuk produk fashion. Sayang kalau nggak beli," ucap Mila sembari mengeluarkan barang-barang belanjaanya. Dari baju, sepatu, tas, bahkan alat kosmetik.


Fabian meradang saat mendapati struk belanja yang terjatuh dari salah satu paper bag  itu.


"Lima juta? Kamu membuang uang sebanyak ini hanya untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan ini?"


"Itu sudah diskon loh, Mas. Harga normal nya mungkin lebih dari lima belas juta."


Fabian mendekatkan wajahnya ke telinga Mila dan sedikit berbisik.


"Kamu ingat ya. Jabatanku sebagai direktur hanya sementara, jadi kamu jangan terlena. Setelah Silvia bangun dari koma, jabatan dan gajiku akan kembali seperti dulu," ucapnya.


"Itu dia. Selagi Mas berada di posisi ini, kita harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya."


Karmila celingukan memastikan Dini tidak mendengar obrolan mereka.


"Mas mau tahu nggak caranya agar jabatan ini tidak digeser lagi?"


"Nggak mungkin jabatan ini nggak digeser. Setelah Silvia sadar, pak Anthony pasti akan menyerahkan kembali posisi ini pada putrinya."


"Hanya satu caranya."


"Cara apa?"


"Agar Silvia tidak pernah bangun lagi."


"Maksud kamu apa?"


"Gil* kamu! Itu salah satu tindakan melawan hukum. Kalau polisi tahu, bisa-bisa aku dipenjara. Memangnya kamu mau punya suami narapidana?"


"Kita main cantik dong, Sayang."


"Pasti kamu kebanyakan nonton drama televisi yang judulnya Mafia itu."


"Kalau Mas ingin selamanya hidup enak, hanya itu caranya. Lagipula pak Anthony sudah tua, sakit-sakitan lagi. Mungkin tidak lama lagi dia mati," ujar Mila.


"Siapa yang mati, Bu?"


Karmila nyaris berjingkat saat tiba-tiba Dini berdiri di hadapannya.


"Ikut-ikutan saja!" gerutunya.


"Tadi saya sempat mendengar ibu ngucapin kata mati. Saya pikir ada teman atau saudara yang meninggal."


"Bukan urusan kamu juga. Sini minumnya." Karmila meraih gelas berisi sirup melon dingin itu lalu meneguknya hingga habis tak bersisa.


"Maaf, Bu. Saya dengar perempuan yang tengah hamil tua tidak baik terlalu sering minum minuman dingin."


"Tahu apa kamu soal itu kehamilan? Menikah saja belum."


"Mungkin saya memang belum menikah. Tapi tahu pantangan-pantangan itu dari almarhumah ibu saya yang pernah menjadi dukun melahirkan di kampung."


"Halah! Itu hanya mitos orang kuno. Aku tidak percaya. Dulu ada yang bilang tidak boleh membeli perlengkapan bayi saat usia kehamilan masih muda karena bisa terjadi sesuatu yang buruk pada bayi. Tapi, ucapan itu tidak benar. Buktinya sampai usia kandunganku tujuh bulan, aku dan kandunganku baik-baik saja 'bukan?"

__ADS_1


"Alangkah baiknya jika kita tidak menyepelekan kata orang tua kita dulu," ujar Dini.


"Aku lapar. Kamu sudah masak belum?" 


"Dari awal kita sudah sepakat jika tugas saya hanya mengurus ibu Kinanti saja 'kan? Kenapa saya harus memasak juga?" protes Dini.


"Jadi, kamu mau membantah? Kalau begitu, saya telepon yayasan sekarang juga agar kamu ditarik!" ancam Mila.


"Jangan, Bu. Saya membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya sekolah kedua adik saya," ucap Dini setengah memohon.


"Makanya nurut, jangan suka membantah." Fabian menimpali.


"Ibu mau makan apa? Biar saya buatkan."


"Mie instan."


"Mie instan juga kurang baik untuk wanita hamil. Sebaiknya Ibu memperbanyak makan sayuran dan buah."


"Astaga. Kamu ini sebenarnya perawat orang sakit atau praktisi kesehatan sih? Daritadi sok pintar!"


"Bukan begitu, Bu. Saya hanya, …"


"Cepat kerjakan perintah saya!" seru Mila.


"Dasar nenek lampir!" umpat Dini sembari berlalu dari ruang tamu.


"Kita jadi adain acara tujuh bulanan untuk bayi kita kan, Mas?"


"Hmmm." Fabian menanggapinya dengan bergumam.


"Aku mau kita mengundang Zura."


"Tidak perlu."


"Tentu saja perlu. Kita harus tunjukkan pada dia kalau kita sekarang kaya. Kita bisa mengadakan selamatan tujuh bulanan dengan mewah dan meriah," bantah Mila.


"Benar juga. Kita buktikan jika ucapannya tidak benar. Setelah aku berpisah dengannya, nasibku justru semakin mujur."


"Ya sudah, besok kita datang ke rumah nya," ucap Mila. Fabian mengangguk setuju.


"Aku mandi dulu, rasanya seperti dipanggang saja," ucap Mila sembari beranjak dari tempat duduknya. Ia lantas berjalan menuju kamarnya.


"Bu Mila mana, Pak? Ini mi instan nya sudah jadi." Dini meletakkan semangkuk mie instan yang masih mengepulkan asap itu di atas meja.


"Lagi mandi."


"Bruk!"


Fabian dan Dini tersentak kaget saat mendengar suara benda jatuh dari arah kamar mandi.


"Astaghfirullah! Mila!"


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2