Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Mulai curiga


__ADS_3

"Ehm … hubungan mereka baik-baik saja kok Bu."


"Karmila itu keras kepala dan sering membangkang suaminya. Kalau boleh jujur, ibu lebih suka Fabian memiliki istri sepertimu. Selain penyabar, kamu juga tulus."


Alhamdulillah, meskipun belum bisa banyak bergerak, namun ibu sudah lancar kembali berbicara.


Aku tersenyum tipis.


"Jodohku dengan mas Fabian sudah usai. Menikahi Mila adalah keputusannya. Aku yakin setiap orang memiliki sisi baik," ujarku.


"Oh ya. Sekarang Rayyan sama siapa? Apa dia menitipkannya pada baby sitter?" Tiba-tiba ibu mengalihkan pembicaraan.


Pertanyaan itu sontak membuatku kebingungan. Aku tidak mungkin mengatakan jika Rayyan kini berada dalam pengasuhan orang lain. Aku sendiri pun tak paham. Fabian pernah mengatakan jika bayi laki-lakinya dititipkan pada seorang pengemudi taksi. Namun beberapa waktu yang lalu aku melihat bayi itu bersama seorang pemilik mobil mewah.


Hmmm… entahlah.


"Rayyan dititipkan pada baby sitter, Bu."


Ya Rabb, maafkan aku kembali berbohong pada ibu.


"Syukurlah. Ibu pikir Fabian mengirimnya ke panti asuhan."


"Ibu mau makan kue nya sekarang?"


Sengaja kualihkan pembicaraan.


Wanita yang begitu kukasihi itu menganggukan kepalanya.


"Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama menemani Ibu di sini. Tapi ada beberapa jahitan dari pelanggan yang harus secepatnya kuselesaikan," ucapku.


"Kamu punya usaha menjahit sekarang?"


"Ya, Bu. Hanya keahlian itulah yang kumiliki untuk bisa terus melanjutkan hidup," ujarku.


"Maafkan putra ibu, Nduk. Jika bukan karena dia menikah lagi, kamu tidak akan bersusah payah seperti sekarang."


"Ibu tidak perlu meminta maaf. Semua ini sudah jalan takdirku, insyaallah aku sudah ikhlas menerimanya."


"Kamu memang perempuan yang baik, Nduk," ucap ibu seraya menyentuh puncak kepalaku.


"Terima kasih telah merawat ibu saya dengan baik," ucapku pada petugas sembari memberikan amplop berisi sejumlah uang padanya.


"Sama-sama, Bu."


Kuraih tangan ibu lalu kucium punggung tangannya penuh takdzim. Kuajarkan juga pada Lyra untuk bersalaman dengan neneknya. Istilah mantan suami atau mantan istri memang ada. Namun tidak ada sebutan mantan nenek 'bukan?


"Kami pulang dulu, Bu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati, Nduk."


"Da-dah ne-nek," celoteh Lyra sembari melambaikan tangannya ke arah ibu. Kami pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ke mana kita, Bu?" tanya pengemudi taksi sesaat setelah aku duduk di bangku penumpang.


"Ehm, ke supermarket, Pak."


Aku baru ingat sabun dan pasta gigiku sudah habis.


Setelah membeli barang-barang yang kubutuhkan, aku pun lantas meninggalkan supermarket tersebut. Tujuanku selanjutnya adalah pulang ke tempat kost ku. Ketika aku menunggu taksi itulah tiba-tiba Lyra merengek meminta balon yang dijual pedagang mainan di seberang jalan. Kurasa warna dan bentuk nya lah yang menarik perhatiannya.


"Lyra mau balon?" tanyaku.


Putri kecilku itu meringis memperlihatkan giginya yang kini sudah tumbuh empat biji.


Aku memastikan lampu lalu lintas telah berganti warna merah sebelum aku menyeberangi jalan raya yang cukup sibuk siang menjelang sore itu.


Dari sekian banyak warna dan bentuk balon yang dijajakan pedagang itu, pilihan Lyra jatuh pada balon berbentuk kucing berwarna merah muda.


"Berapa, Kek?" tanyaku pada sang penjual mainan.


"Sepuluh ribu, Nak."


"Ambil saja kembaliannya," ucapku sembari menyodorkan uang pecahan dua puluh ribu padanya.


"Tidak, Nak. Saya bekerja, bukan peminta -minta."


"Bukan begitu maksud saya. Anggap saja itu rezeki dari Allah melalui tangan saya," ujarku.


"Dengan membeli balon ini saja kamu sudah memberi rezeki untuk saya." Kakek itu mengambil selembar uang pecahan sepuluh ribu dari dalam tas pinggangnya lalu menyodorkannya padaku.


"Sudah berapa lama Kakek berjualan mainan?" tanyaku.


Kakek yang mungkin usianya lebih dari enam puluh tahun itu tersenyum.


"Sejak muda hingga sekarang punya lima orang cucu," jawabnya. Aku bisa menangkap keikhlasan di sorot matanya.


"Maaf, Kakek memiliki anak 'bukan? Kakek bisa ikut anak Kakek daripada harus susah payah berjualan begini."


"Anak saya semuanya sudah berkeluarga. Saya tidak ingin merepotkan mereka," ujarnya.


"Masyaallah, Kakek luar biasa. Saya salut dengan semangat Kakek. Semoga Kakek sehat terus."


"Aamiin. Doa yang sama untukmu dan keluargamu."


Kuanggukkan kepalaku seraya tersenyum.


Kebetulan tempat kakek berjualan mainan berada di dekat taman. Aku mengedarkan pandanganku di sekitar tempat itu. Ah! Itu dia. Ada seorang perempuan yang tengah mendorong kereta bayi. Aku berpikir memberikan salah satu balon yang kubeli untuk anaknya. Aku pun lantas berjalan menghampiri keduanya yang berteduh di bawah pohon beringin besar itu.


"Assalamu'alaikum," sapaku.


"Waalaikumsalam," sahut perempuan berhijab itu.


"Sedang jalan-jalan ya Bu?" 

__ADS_1


"Iya, Bu. Mencari udara segar."


"Berapa bulan usia adik bayi ini?" tanyaku.


"Hampir enam bulan."


"Saya tadi membeli dua balon. Balon yang satu ini buat Adik saja," ucapku sembari mengikat tali balon itu pada kereta bayi tersebut.


"Terima kasih, Auntie," ucap perempuan itu.


Tiba-tiba bayi laki-laki itu menangis. 


"Kamu haus ya, Nak?"


Dengan sigap perempuan itu mengangkat tubuh si bayi lalu duduk di salah satu bangku untuk menyusuinya. Aku cukup kaget saat memandang fisik bayi itu yang ternyata tidak sempurna. Jari-jari tangan kanannya kurang lengkap, sementara jari-jari tangan kirinya berlebih. Tapi, bukan itu yang kupermasalahkan. Kenapa wajah bayi ini begitu mirip dengan Fabian? Ah! Mana mungkin Fabian memiliki istri lain selain Mila. Lekas kutepis pikiran buruk yang sempat melintas. Mungkin kebetulan saja wajah bayi ini mirip dengan Fabian.


"Saya sering malu karena orang-orang sering menghina kekurangan fisik pada Saddam. Tak jarang dari mereka juga mengatakan jika wajah Saddam tidak mirip dengan ayah ataupun ibunya," ungkap perempuan itu. Aku bisa menangkap kesedihan di sorot matanya.


"Kita semua sama di hadapan Allah. Yang membedakan adalah tingkat keimanan kita. Ibu tidak perlu berkecil hati. Mungkin fisik Saddam tidak sempurna, tapi insyaallah dia memiliki kelebihan lain."


"Ya. Meskipun begitu saya dan suami saya tetap menerima dan menyayanginya sepenuh hati karena kami sudah begitu lama merindukan kehadirannya."


Kutanggapi ucapan perempuan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Putri Ibu cantik sekali. Siapa namanya?"


"Namanya Lyra."


"Nama yang bagus. Berapa usianya?"


"Satu tahun, Bu."


"Kenapa saya merasa wajah anak kita mirip ya, Bu?" Perempuan yang belum kuketahui namanya itu terkekeh.


"Mungkin hanya kebetulan saja," tukasku.


Tidak berselang lama seorang laki-laki menghampiri kami.


"Mobilnya sudah selesai diperbaiki. Mari kita pulang," ucapnya.


Kuamati wajah laki-laki yang posturnya tidak begitu tinggi itu. Benar juga, wajahnya sama sekali tidak mirip dengan Saddam. Jangan-jangan bayi ini adalah bayi Mila dan Fabian. Lantas, siapa sebenarnya Rayyan? Apakah ini alasannya mengapa Fabian begitu mudah percaya pada orang lain untuk merawatnya? Karena anak kandung mereka terlahir cacat dan sengaja menukarnya dengan bayi lain?


Astaghfirullahaldzim. Mengapa tiba-tiba prasangka buruk itu muncul?


Bersambung … 


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


🙏🙏


__ADS_2