Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Semakin kagum


__ADS_3

"Ehm … itu … anu … ada kawan kuliahku yang menikah. Jadi aku memberinya bucket bunga," jawab Rizal.


"Memangnya kapan acara pernikahannya?"


"Maaf, Budhe, perutku mulas. Sepertinya aku terlalu banyak makan sambal." Rizal berlalu dari hadapan sang bibi, dia lantas menuju kamarnya.


"Kenapa dengan Rizal?" tanya pak Hasan, suami bu Murni ketika dia baru keluar dari dalam kamarnya.


"Apa masuk akal memberi buket bunga pada teman atau sahabat yang menikah?"


"Memangnya siapa yang memberi buket bunga, Bu?"


"Itu tadi keponakanmu si Rizal. Aku menemukan nota pembelian buket bunga. Saat kutanya untuk siapa buket bunga itu, dia bilang untuk kawan kuliahnya yang menikah."


Pak Hasan mengulas senyum.


"Mungkin Rizal malu jika harus mengaku buket bunga itu untuk pacarnya. Biarkan saja, Bu, dia sudah cukup dewasa untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya."


"Pak, sebentar lagi kandunganku memasuki empat bulan. Bagaimana kalau selamatan nya kita bagi-bagi kue saja ke tetangga?"


"Bapak rasa itu ide yang bagus. Selain praktis, bapak rasa semua orang menyukai kue. Biar nanti bapak mendatangi toko kue Nak Zura untuk memesannya," ucap pak Hasan.


"Biar aku saja yang memesannya." Rizal yang baru saja keluar dari dalam kamarnya itu menimpali.


"Bukannya tadi kamu bilang perutmu mulas?"


"Ehm … sudah sembuh. Tiba-tiba mulas nya hilang saat aku masuk ke kamar. Oh ya Budhe, berapa box kue yang mau Budhe pesan untuk acara selamatan empat bulanan nanti, dan kapan acaranya?"


"Ini acara selamatan calon anaknya pakdhe dan budhe, kenapa kamu antusias begitu?"


"Bukan apa-apa. Aku senang sekali karena akhirya Pakdhe dan Budhe mau jadi orangtua. Itulah sebabnya aku ni begitu bersemangat."


"Ehm … kira-kira kue nya 50 box, dan acaranya malam Jum'at.


"OK. Besok aku datang ke toko kue nya bu Zura."


"Memangnya kamu tahu di mana toko kue Zura?"


"Tahu dong. Toko nya tidak jauh dari kampusku."

__ADS_1


"Ya sudah, kamu saja yang pesan. 50 box bolu panggang dan harus sudah siap hari Kamis sore."


"Ya, Budhe, besok aku ke toko nya."


"Kamu sudah makan siang, Bu?" tanya pak Hasan pada bu Murni.


"Belum, Pak. Daritadi perutku mual. Aku sedang ingin mangga muda."


"Ya Allah, Bu. Kita 'kan tidak punya pohon mangga. Lagipula nggak ada pedagang yang menjual mangga mentah. Itu cuma bikin sakit perut."


"Bukan aku yang pingin, Pak. Tapi anak kita. Iya 'kan, Sayang?" Bu Murni mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit itu.


"Tapi, di sekitar sini tidak ada yang punya pohon mangga, Bu. Buah yang lain saja."


"Mana bisa begitu? Anak kita pingin mangga muda, ya harus mangga muda."


"Biar aku saja yang cari, Budhe. Sepertinya di jalan tidak jauh dari kampus ada warga yang punya pohonnya," ucap Rizal.


"Kamu yakin?" tanya pak


Hasan.


"Ya sudah, pakdhe minta tolong sama kamu. Semoga buah mangga nya benar-benar ada."


"Aku pakai sepeda motor Pakdhe saja ya."


"Sebentar, pakdhe ambil kuncinya."


Pak Hasan masuk ke dalam kamarnya, lalu mengambil kunci sepeda motornya.


Setelah berpamitan pada sang paman dan sang bibi, Rizal pun meninggalkan rumah tersebut.


Rizal belum lama mengendarai sepeda motor milik sang paman. Entah karena kurang perawatan atau lantaran jarang dipakai. Sepeda motor itu tiba-tiba mogok.


"Sial! Tahu begini tadi aku pakai mobil saja!" umpatnya.


Rizal mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu hingga netranya menangkap sebuah papan yang menunjukkan jika 1 KM dari tempat itu ada bengkel. Tidak ada jalan lain selain menuntun sepeda motor yang memang sudah terbilang tua itu.


Di saat itulah sebuah mobil berhenti di hadapannya. Rizal pun salah tingkah saat penumpang mobil itu menurunkan kaca jendelanya.

__ADS_1


"Rizal? Sepeda motor kamu kenapa?" tanyanya.


"Bu Zu-Zu-ra? Ehm … ini, Bu. Sepedaku motor saya tiba-tiba macet. Sepertinya karena kelamaan tidak dipakai."


"Memangnya kamu mau kemana?"


"Saya-saya ingin mencari mangga muda untuk budhe. Katanya dia lagi ingin makan itu."


"Begitu lah yang namanya orang ngidam. Kadang yang diminta sedikit aneh dan juga memaksa. Tapi kita harap maklum, itu semua bukan keinginan yang hamil semata, tapi calon anak yang ada di dalam kandungan."


"Ya, Bu. Biar saya tuntun sepeda motor saya ke bengkel di depan sana."


"1 kilo meter itu cukup jauh loh. Begini saja, kamu naiki saja sepeda motor kamu, nanti kami tarik dengan tambang."


"Iya, Mas. Biar Mas nggak kecapaian dorong juga." Pak Amin yang berada di dalam mobil berwarna putih itu menimpali.


"Maaf ya, Bu, kalau merepotkan."


"Sama sekali tidak merepotkan. Kebetulan saya mau mengantar kue di jalan Anyelir."


Pak Amin pun lantas mengambil tali tambang yang disimpan di bagasi, kemudian diikatkannya pada sepeda motor Rizal.


"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak … Bu," ucap Rizal sesampainya di bengkel.


"Sama-sama. Ya sudah, kami permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Rizal memandang punggung mobil yang semakin menjauh dari hadapannya.


"Bagaimana aku tidak kagum dengan perempuan sebaik dirinya?" gumamnya dalam hati.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2