
POV Author.
"Siapa yang barusan meneleponmu, Nak? Sepertinya kamu gugup begitu?" tanya Anita pada Gibran sesaat setelah mengakhiri percakapannya dengan calon ibu mertuanya, Sabrina.
"Bu Sabrina, Bu."
"Memangnya ada apa dia menelponmu?"
"Sabrina memberitahuku jika Zura mengalami kecelakaan. Dia sekarang berada di rumah sakit dan membutuhkan transfusi darah golongan B," jelas Gibran.
"Innalillahi wa inna ilaihiroji'un."
"Masalahnya golongan darahku A, Bu. Di mana aku bisa mendapatkan golongan darah B?"
"Keenan. Golongan darah adikmu B."
"Sungguh?" Tiba-tiba saja sorot mata Gibran berbinar.
"Ya. Ibu tahu semua golongan darah keluarga kita."
"Keenan! Keenan! Ayo kita ke rumah sakit!" teriak Gibran seraya menaiki tangga menuju kamar Keenan yang berada di lantai 2.
"Kamu ini gimana sih, adikmu itu 'kan belum pulang dari kantornya," ucap sang ibu.
"Aku terlalu panik jadi lupa."
Tiba-tiba terdengar suara deru mobil dari arah halaman rumah.
"Keenan, itu pasti dia!" Gibran beranjak dari ruang tamu dan lekas menuju halaman rumahnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" serunya sembari memasuki mobil adik laki-lakinya itu.
"Tunggu dulu, mau ngapain ke rumah sakit?"
"Zura butuh pertolonganmu sekarang!"
"Zura? Memangnya kenapa dia?"
"Dia mengalami kecelakaan dan membutuhkan transfusi darah dengan golongan darah B. Golongan darahmu B 'bukan?"
Keenan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ya sudah sini biar aku yang menyetir."
__ADS_1
Gibran dan Keenan pun lalu bertukar posisi.
"Aku tahu kamu buru-buru, tapi jangan ngebut begini menyetirnya," protes Keenan lantaran sang kakak mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kita tidak punya waktu lama, nyawa Zura sekarang tergantung padamu."
Sepuluh menit kemudian keduanya tiba di rumah sakit.
"Paman Giblan … Ibu … hu … hu …hu …"
Tangis Lyra kembali pecah saat Gibran muncul di hadapannya.
"Iya, Sayang, paman tahu. Lyra banyak-banyak berdoa untuk ibu, ya," ucap Gibran seraya mengusap lembut rambut calon putri sambungnya itu.
"Bagaimana, Pak … Bu. Apa sudah ada pendonor darah untuk pasien?" tanya perawat.
"Saya, Sus. Kebetulan golongan darah saya B," jelas Keenan.
"Baiklah, mari ikut saya."
Perawat itupun lantas mengajak Keenan menuju ruang operasi.
"Lyla takut, Paman," ucapin Lyra yang kini berada di pangkuan Gibran.
"Kak Darren," panggilnya.
"Ya."
"Apa yang sebenarnya terjadi kenapa Zura bisa berada di rumah sakit ini?"
"Semua ini karena ulah Luna!"
"Luna?"
"Sampai kapan mantan kekasihmu itu akan terus mengusik kehidupan putriku?" Bu Sabrina menimpali.
"Tunggu, apa maksud ucapan kalian?"
"Sepertinya selama Luna selalu mengawasi Zura dan Lyra. Buktinya dia tahu saat mereka mengunjungi rumahku. Luna berusaha menculik Lyra yang sedang bermain di teras rumah bersama putriku. Aku dan Zura pun berusaha mengejarnya. Luna dan Zura sempat berdebat sengit sebelum akhirnya dia menusuk punggung Zura dengan pisau lipat. Zura harus mendapatkan tindakan operasi karena luka di bagian punggungnya cukup parah," ungkap Darren.
"Kurang ajar! Di mana gadis itu sekarang?"
"Luna sudah ditahan di kantor polisi."
__ADS_1
"Awas saja kalau aku bertemu dengannya. Aku akan membuat perhitungan dengannya!" seru Gibran.
Sudah lebih dari satu jam Zura berada di dalam ruang operasi, namun belum juga ada tanda-tanda operasi selesai.
"Bagaimana ini, Nak? Ibu takut terjadi sesuatu pada adikmu," ucap bu Sabrina.
"Kita pasrahkan semuanya pada Allah, Bu," lirih Darren.
Tiba-tiba adzan Maghrib berkumandang.
"Lyra Sayang, ikut paman Gibran yuk."
"Kemana, Paman?"
"Ke Mushola. Kita sholat Maghrib."
Gadis kecil itu mengangguk setuju.
"Tunggu! Ibu ikut!" seru bu Sabrina.
Ketiganya pun lantas beranjak dari tempat itu lalu melangkahkan kaki menuju mushola yang berada di bagian belakang rumah sakit.
"Ya Rabb … sang pemilik jiwa. Hamba begitu menyayangi Azzura. Izinkan hamba untuk membahagiakannya. Namun, engkau ingin mengambilnya dari kami, tempatkanlah ia di sisimu yang terindah. Sesungguhnya semua makhluk bernyawa yang berada di muka bumi ini akan kembali padamu."
Sebait doa itu terucap dari mulut Gibran. Ia sadar, tak ada seorangpun yang dapat melawan kehendak Rabb nya. Meskipun berat, dia akan berusaha untuk pasrah dan ikhlas menerima apapun yang akan terjadi, termasuk jika Allah memang mengambil Zura kembali ke pangkuan Nya.
Gibran, Sabrina dan Lyra baru saja kembali dari mushola. Mereka heran mendapati Fatimah tengah terisak di pelukan Darren.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu menangis?" tanya sang ibu.
"Zura … Bu. Zura …"
"Kenapa dengan Zura?" tanya Gibran.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1