Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Bukan lelucon


__ADS_3

Pak Prayoga harus berpikir cepat agar Widya berhenti meminta ikut dengannya.


"Ayah mau ke rumah sakit menjenguk kawan ayah yang terjangkit virus langka. Ayo, kalau kamu mau ikut."


Ucapan itu tentu saja membuat Widya bergidik ngeri.


"Yaudah deh aku gak jadi ikut. Bagaimana kalau aku ikut terjangkit virus juga. Aku tidak mau meninggal sebelum menikah," ucapnya yang sontak membuat pak Prayoga bernafas lega.


"Ya sudah, ayah berangkat dulu. Jangan kemana-mana. Anak gadis tidak baik berkeliaran saat gelap."


"Ayah! Tunggu!"


"Apalagi, Nak?"


"Aku titip beliin martabak manis rasa blueberry dan kacang almond."


"Kenapa tidak rasa cokelat kacang saja yang gampang bapak ingat?" protes pak Prayoga.


"Ah Ayah. Aku kan gak bisa makan kacang tanah. Wajahku langsung berjerawat," gerutu Widya.


"Almond itu kan kacang juga. Memangnya kacang itu gak buat wajahmu jerawatan?"


"Aku gak mau tahu. Pokoknya Ayah harus membelikanku martabak manis rasa blueberry dan kacang almond, titik!"


"Iya, Tuan Puteri," ucap sang ayah yang sontak membuat Widya terkekeh.


"Ya sudah, ayah pergi dulu."


"Hati-hati."


Pak Prayoga melangkah keluar dari ruang tamu, ia lantas menghampiri mobilnya yang berada di halaman rumah.


Di sepanjang perjalanan pria paruh baya itu tidak dapat berpikir tenang. Dia terus mencemaskan Sabrina. Perempuan yang beberapa tahun ini menjadi kekasihnya.


Sesampainya di rumah sakit.


"Selamat sore, Suster. Di mana ruang perawatan pasien korban kecelakaan siang tadi?" tanya pak Prayoga pada seorang perawat di bagian pendaftaran.


"Pasien sekarang berada di kamar perawatan nomor 113," jawab perawat.


"Terima kasih."


Pak Prayoga pun lantas berjalan menuju kamar perawatan tersebut.


"Selamat sore, Dok," sapanya pada perawat yang baru saja keluar dari kamar perawatan Sabrina.


"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"


"Apa benar di sini kamar perawatan pasien atas nama Sabrina?" 


"Benar, Pak."


"Kalau saya boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi pada teman wanita saya itu?" tanya pak Prayoga.


"Dari keterangan yang kami dapatkan dari pihak kepolisian, pasien dan kawan laki-lakinya mengalami kecelakaan karena mobil yang ditumpangi mereka kehilangan kendali akibat melaju dengan kecepatan tinggi."


"Tunggu. Siapa yang Suster maksud kawan pria Sabrina? Setahu saya dia selalu mengendarai mobilnya sendiri."


"Pihak kepolisian mengatakan saat kecelakaan itu terjadi, pasien tengah bersama seorang laki-laki di dalam mobilnya."


"Lantas, bagaimana keadaan mereka?"

__ADS_1


"Korban laki-laki meninggal dunia di tempat kejadian sementara nyonya Sabrina selamat meskipun mengalami luka yang cukup parah."


"Siapa sebenarnya laki-laki yang dimaksud perawat ini?" gumam pak Prayoga.


"Oh ya. Di mana korban kecelakaan yang meninggal itu?" 


"Korban sekarang berada di ruang jenazah di sebelah sana," ucap perawat sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah ruang jenazah yang berada tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.


"Apa Suster bisa mengantar saya?"


"Mari, Pak."


Perawat itu berjalan menuju ruang jenazah diikuti pak Prayoga di belakangnya.


"Ini korban kecelakaan siang tadi," ucap perawat sembari berjalan mendekati ranjang pasien. Tampak sesosok jenazah terbujur kaku di atasnya.


Pak Prayoga menghela nafas panjang sebelum mempersilahkan perawat untuk menyingkap kain yang menutupi wajah jenazah itu. Alangkah terkejutnya saat memandang jenazah tersebut.


"Roni!" 


"Bapak mengenali jenazah ini?" tanya perawat.


"Ya, Suster. Namanya Roni, dia adalah keponakan saya."


"Mengapa Roni bisa berada di dalam satu mobil bersama Sabrina? Apa hubungan mereka?" gumam pak Prayoga.


"Apa keluarganya sudah tahu kabar kecelakaan ini, Sus?" tanya pak Prayoga.


"Pihak kepolisian sedang menjemput istri korban di rumahnya. Mungkin tidak lama lagi mereka tiba."


Benar saja, hanya selang beberapa saat dua orang muncul dan menghampiri mereka. Seorang polisi dan seorang wanita yang wajahnya tidak asing bagi pak Prayoga.


"Ehm, paman menjenguk kawan paman di ruangan sana."


"Suster, antar ibu ini untuk melihat jenazah korban kecelakaan siang tadi," ucap polisi.


"Mari, Bu."


Dengan langkah ragu Salma memasuki ruang jenazah. Tidak berselang lama terdengar tangis histeris dari dalam sana yang membuat pak Prayoga iba. Dia pun memutuskan kembali memasuki ruangan itu.


"Yang sabar, Nak," ucap pak Prayoga sembari mengusap lembut pundak keponakannya itu.


"Kenapa mas Roni meninggalkanku secepat ini? Bagaimana nasib bayi yang kini berada di dalam kandunganku? Hu…hu…hu…"


"Sabar, Nak. Kamu pasti bisa melewati ujian ini. Tuhan tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan," hibur pak Prayoga.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Roni?" tanya Salma.


"Mobil yang dikendarai suamimu mengalami kecelakaan setelah bertabrakan dengan truk."


"Mobil siapa yang Paman maksud? Pagi tadi mas Roni mengatakan tidak masuk bekerja di rumah bu Fatma karena mereka sedang keluar kota. Mas Roni hanya pamit untuk memperbaiki sepeda motornya di bengkel," ucap Salma.


"Mobil yang dikendarai suami Ibu adalah mobil sedan berwarna silver. Suami ibu tengah bersama kawan perempuannya." Perawat menimpali.


"Suami saya tidak memiliki kawan perempuan. Jangan-jangan dia…. 


Paman, apa Paman tahu siapa kawan perempuan mas Roni?"


"Ehm…ehm…tidak, Nak. Paman tidak tahu siapa perempuan itu. Dia dirawat di rumah sakit lain."


Pak Prayoga memilih merahasiakan identitas Sabrina dari Salma. Hanya satu tujuannya. Tidak ingin membuat masalah ini semakin rumit. Sudah pasti Salma akan murka jika tahu Sabrina selamat dan dirawat di rumah sakit ini juga.

__ADS_1


"Paman pergi dulu. Kamu jangan terlalu banyak pikiran apalagi stress. Kasihan bayi kamu yang ada di dalam perut kamu."


Pak Prayoga beranjak meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju kamar perawatan Sabrina.


"Siapa?" tanya Sabrina saat mendengar suara derit pintu.


"Ini aku, Prayoga."


"Prayoga siapa? Aku tidak mengenalmu."


"Bercanda mu tidak lucu."


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?"


Pak Prayoga meraih tangan Sabrina namun perempuan itu menepisnya.


"Kamu ini kenapa?" tanya pak Prayoga.


"Pergi kamu! Jangan dekat-dekat denganku!" seru Sabrina.


"Ini aku, Prayoga, kekasihmu."


Pak Prayoga mendekap tubuh Sabrina. Kali ini Sabrina mendorong tubuh pria itu dengan cukup kuat hingga membuatnya terjatuh di atas lantai.


"Cukup! Sabrina! Hentikan kekonyolan ini!" seru pak Prayoga.


"Pergi kamu! Ah! Sakit. Dokter!" jerit Sabrina sembari memegangi kepalanya.


Pak Prayoga mulai sadar jika Sabrina tidak sedang baik-baik saja. Dia pun bergegas memanggil dokter yang berada di ruangan yang tidak begitu jauh dari ruangan itu.


"Dokter! Tolong! Sabrina kesakitan," ucap pak Prayoga.


Dokter itu pun bergegas mendatangi kamar perawatan Sabrina.


"Dari tadi Sabrina berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya," ucap pak Prayoga.


"Maaf, untuk sementara biarkan pasien tenang."


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Sabrina? Mengapa dia tidak mengenali saya?" tanya pak Prayoga.


"Kecelakaan yang dialami pasien itu menyebabkan pasien kehilangan indera penglihatan sekaligus ingatannya," jelas dokter.


"Ja-ja-di Sabrina buta dan amnesia, Dok?" tanya pak Prayoga.


"Benar, Pak."


Pak Prayoga terduduk lemas di atas bangku. 


"Apa ini balasan dari Tuhan atas dosa-dosamu di masa lalu?" ucap pak Prayoga parau.



Ini visual nya Fabian…🥰🥰


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2