Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
POV Author (Kecewa)


__ADS_3

(POV Author)


Suara tangis bayi terdengar dari ruang bersalin bersamaan dengan adzan subuh yang berkumandang. Darren yang sempat ketiduran di depan ruangan itu sontak terbangun dan membuka matanya.


"Selamat, Pak. Bayi Bapak sudah lahir. Perempuan, sehat dan sempurna," ucap dokter.


"Perempuan, Dok? Istri saya sudah beberapa kali melakukan USG dan bayi kami laki-laki. Kenapa yang lahir bayi perempuan?" protes Darren.


"Hal itu sering terjadi pada beberapa kasus kehamilan. Hasil USG perempuan, namun bayi yang lahir laki-laki ataupun sebaliknya," jelas dokter.


Darren terdiam. Kekecewaan terlihat jelas di raut wajahnya.


"Saya permisi, Pak," ucap dokter sembari berlalu dari hadapannya. Meskipun sedikit malas, ia memaksakan diri masuk ke dalam ruang bersalin itu.


"Silahkan Bapak adzani dulu putri Bapak," ucap perawat sembari memberikan bayi yang masih merah itu padanya. 


Setelah mengadzani bayinya, Darren pun kembali memberikannya pada perawat untuk dipindahkan ke ruang khusus bayi baru lahir.


"Mas kenapa? Sepertinya tidak begitu senang dengan kelahiran putri kita," ucap Fatimah.


"Kamu kan tahu. Dari dulu aku sangat menginginkan anak laki-laki. Tapi yang kamu lahirkan anak perempuan."


"Istighfar, Mas. Laki-laki ataupun perempuan sama-sama titipan Allah. Kita harus menerimanya dengan ikhlas," ujar Fatimah.


Suasana hening sejenak.


"Mas mau beri nama siapa pada anak kita?" tanya Fatimah.


"Terserah kamu saja," jawab Darren datar.


"Bagaimana dengan nama Anisa?"


"Sudah kubilang terserah!"


"Kenapa Mas jadi kufur nikmat begini? Bukankah Mas sendiri yang mengatakan kita harus pandai bersyukur agar nikmat kita bertambah?"


"Aku hanya menyiapkan nama anak laki-laki. Apa kamu mau pakai nama itu untuknya?" gerutu Darren kesal.


"Ya sudah, nama anak kita Anisa. Artinya juga bagus."


"Terserah kamu saja!" Darren beranjak dari tempat duduknya, ia lantas meninggalkan ruangan itu."


Fatimah mengambil ponselnya. Dia hendak menghubungi sahabat lamanya, Azzura.


[Assalamu'alaikum, Fatimah.]


[Waalaikumsalam, Ra.]


[Apa kamu sudah melahirkan?]


[Sudah, Alhamdulillah]


[Alhamdulillah. Tunggu. Dari nada suaramu sepertinya kamu kurang bersemangat. Bayi kamu lahir secara normal kan? Laki-laki atau perempuan?]


[Alhamdulillah aku melahirkan secara normal. Bayiku perempuan]


[Alhamdulillah. Nanti bisa jadi teman Lyra]


[Mas Darren, Ra. Mas Darren]

__ADS_1


[Kenapa dengan kak Darren? Dia pasti senang kini telah menjadi seorang ayah]


[Sepertinya tidak begitu]


[Maksud kamu apa?]


[Dari dulu mas Darren sangat menginginkan anak laki-laki. Kelihatannya dia kecewa saat tahu bayi yang kulahirkan perempuan. Dia bahkan tidak peduli nama bayi kami]


[Sekarang di mana kak Darren? Aku ingin berbicara dengannya]


[Entahlah, Ra. Dia pergi begitu saja meninggalkan ruangan ini tanpa memberitahu mau kemana]


[Kamu yang sabar. Kata dokter, ibu yang baru melahirkan tidak boleh tertekan apalagi stress karena akan berpengaruh pada ASI nya. Aku hanya bisa membantu berdo'a agar kak Darren terbuka hatinya dan mau menerima putri kalian. Oh ya, siapa nama anak kalian?]


[Aku memberinya nama Annisa]


[Masyaallah, nama yang bagus]


Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi.


[Lyra bangun ya, Ra? Maaf, menelponmu sepagi ini. Selain kamu, aku tidak tahu lagi dengan siapa harus berbagi]


[Gak usah ngomong gitu. Kamu kan istri kak Darren yang artinya saudaraku juga. Lagipula Lyra terbiasa bangun sebelum jam enam pagi]


[Ya sudah. Mungkin kamu harus menyiapkan keperluan untuk suamimu]


[Aku tidak tinggal lagi bersama suamiku]


[Apa?! Jadi kamu sekarang tinggal di mana?]


[Aku tinggal di rumah kost]


[Rencananya begitu]


[Kenapa, Ra? Lyra baru berumur dua bulan. Kenapa kalian setega ini?]


[Nanti saja saat kita bertemu, aku akan menceritakan semuanya]


[Baiklah. Nanti kita sambung lagi. Assalamu'alaikum]


[Waalaikumsalam]


Panggilan terputus.


*****


Sementara itu Darren tengah berada di taman yang cukup jauh dari rumah sakit. Kelahiran yang seharusnya menjadi sesuatu yang membahagiakan, baginya justru sebuah kekecewaan.


Darren mengedarkan pandangannya di taman itu. Di jam enam pagi taman tidak begitu ramai. Hanya terlihat beberapa orang yang yang sedang berjogging mengelilingi taman dan beberapa penjual makanan yang sudah sehari-harinya berjualan di sekitar taman tersebut. Tiba-tiba netranya menangkap sosok Widya. Gadis berusia sembilan belas tahun yang pernah menjadi mahasiswanya, sekaligus pengagumnya.


Darren berniat cepat-cepat meninggalkan tempat itu sebelum Widya melihatnya. Namun terlambat. Widya rupanya lebih dulu menyadari keberadaannya di taman itu.


"Pak Darren!" 


Gadis berambut panjang hitam mengkilat itu berlari kecil menghampiri Darren. Dia terlihat mengenakan baju olahraga dan sepatu sneaker. Di belakangnya seorang pria paruh baya mengikutinya.


"Selamat pagi, Pak," sapanya


"Selamat pagi."

__ADS_1


"Bapak sedang jogging juga? Tapi kok nggak pakai baju olahraga."


"Tidak. Saya hanya mencari udara segar."


"Tunggu! Kalau saya lihat dari wajah Bapak, Bapak sepertinya sedang kesal dan kecewa. Bapak sedang bertengkar dengan istri ya?"


"Tidak, Widya. Saya hanya ingin mencari udara segar."


"Ini masih pagi loh Pak. Udara di dalam rumah pun pasti masih segar. Bapak jujur aja deh. Pasti habis ribut dengan istri Bapak, terus Bapak pergi ke taman ini."


"Selamat pagi. Kalian saling kenal rupanya," sapa pria paruh baya yang wajahnya sekilas mirip dengan Widya. Mungkin pria itu adalah ayahnya.


"Selamat pagi, Pak."


"Bapak ini kawan kuliah Widya ya?" tanya pria berbadan tinggi itu.


"Bukan, Yah. Pak Darren adalah dosen di kampus Widya." Tiba-tiba Widya membisikkan sesuatu di telinga pria itu. Entah apa yang ia katakan hingga membuat pria ya g dipanggil ayah memanggut-manggutkan kepalanya.


"Oh, begitu. Pak Darren ini hebat. Masih muda sudah menjadi dosen. Pantas putri saya begitu mengagumi Bapak," ujarnya.


"Kenalkan saya ayahnya Widya. Panggil saja Om Prayoga," ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Darren.


"Darren." Darren pun menjabat tangan pak Prayoga.


"Ehm, Pak Darren pasti belum sarapan. Bagaimana kalau kita sarapan bersama? Biar saya yang traktir. Di dekat taman ini ada kedai bubur ayam langganan saya. Setelah jogging saya selalu mampir di sana."


"Ti-ti-tidak usah, Pak. Nanti saja. Saya belum lapar."


Tiba-tiba terdengar suara khas dari perut Darren yang menandakan jika dirinya tengah diserang rasa lapar. Darren baru ingat terakhir dia makan adalah siang kemarin sebelum ke rumah sakit menemani Fatimah melahirkan.


"Bapak nggak usah nolak. Tuh, cacing dinm perut Bapak saja sudah protes." Widya terkekeh.


"Mari, Pak."


Pak Prayoga berjalan menuju kedai bubur ayam. Darren pun tak punya pilihan selain mengikuti ajakannya.


"Pak Darren sudah berapa tahun menjadi dosen?" tanya pak Prayoga di sela sarapannya.


"Sudah cukup lama, Pak."


Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari saku celana pak Prayoga. Dengan sigap Widya mengambil ponsel tersebut, ia lantas mengamati layar ponsel itu.


"Perempuan ini lagi! Hufht!" gerutunya kesal. Dia lalu menekan tombol berwarna merah yang berarti menolak panggilan itu.


"Kenapa ditolak?" protes pak Prayoga.


"Aku tidak suka Ayah berhubungan dengan perempuan bernama Sabrina ini!" serunya.


Entah mengapa Darren tiba-tiba tersedak oleh makanannya.


"Sabrina?" gumamnya.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


🙏🙏


__ADS_2