
Pagi itu aku baru saja keluar dari toko alat menjahit. Ada beberapa barang yang harus kubeli karena stock nya mulai menipis. Tiba-tiba aku teringat jika shampo dan sabun Lyra juga hampir habis. Akhirnya aku mampir ke supermarket yang hanya berjarak beberapa meter dari toko alat menjahit tersebut.
Setelah memilih barang yang kubutuhkan, aku pun mengantre di bagian kasir. Beberapa saat kemudian kudengar suara tangisan bayi dari depan supermarket. Pria yang menggendongnya terlihat kewalahan memenangkan bayi yang berada di gendongannya. Beberapa pengunjung toko yang iba mencoba menenangkan bayi itu dengan menggendongnya namun, usaha mereka tak membuahkan hasil. Tangisannya justru terdengar semakin nyaring hingga akhirnya memaksa security yang berjaga di pintu masuk supermarket itu untuk mengusirnya.
"Maaf, Pak. Tangisan bayi Bapak cukup mengganggu kenyamanan pengunjung di supermarket ini. Bisa-bisa mereka batal memasuki supermarket ini gara-gara mendengar tangisan bayi Bapak."
"Bapak pikir saya datang ke sini untuk main-main? Saya berniat membeli popok dan susu bayi untuk bayi ini," ucap pria itu.
"Ya sudah, berikan saja bayi itu kepada bayinya, nanti Bapak baru kembali ke sini."
"Ibunya tidak ada."
"Loh, memangnya ibunya ke mana?"
"Ibunya pergi."
Tangisan bayi itu terdengar semakin nyaring saja hingga memaksaku untuk lekas keluar dari supermarket itu.
"Maaf, apa bayi Bapak sakit?" tanyaku.
Pria itu pun sontak menoleh ke arahku. Alangkah terkejutnya aku saat memandang wajah pria itu.
"Fabian?"
"Zura?"
"Kenapa dengan Rayyan?" tanyaku.
"Entahlah. Dari tadi dia menangis. Aku tidak paham apa maunya."
Aku mengedarkan pandanganku di sekitar tempat itu. Aneh, di mana mobil Fabian? Dan di mana Mila? Kenapa Fabian sendirian saja?
"Mungkin dia haus."
__ADS_1
"Dia baru saja minum susu formula satu botol penuh."
"Apa?! Susu formula? Kenapa Mila tidak memberinya ASI?"
"Mila tidak di rumah."
Aku mengerutkan keningku.
"Maksud kamu apa?" tanyaku.
Tangis Rayyan kembali pecah.
"Biar aku coba menggendongnya. Lyra sama ayah dulu ya, Sayang."
Aku memberikan Lyra pada Fabian lalu mengambil alih Rayyan dari gendongan mantan suamiku itu. Hanya dalam hitungan menit bayi laki-laki itu terlelap dalam dekapanku.
"Rayyan hanya mengantuk," ucapku. Oh ya, apa maksud kamu tadi bilang Mila tidak di rumah? Memangnya dia kemana?" tanyaku kemudian.
"Mungkin kita bisa bicara di sana."
"Pagi tadi Mila ditangkap polisi." Fabian memulai obrolan.
"Astaghfirullahaldzim!" Aku membungkam mulutku dengan salah satu tanganku. Mila yang kukenal memang memiliki perangai yang yang kurang baik. Namun, aku sulit mempercayai apa yang baru saja kudengar. Apalagi sampai ditangkap polisi.
"Kenapa Mila bisa ditangkap polisi? Apa yang sudah ia perbuat?" tanyaku.
Fabian menghela nafas berat. Aku yakin apa yang akan disampaikannya bukanlah suatu kabar yang menyenangkan.
"Semua berawal kemarin malam saat tiba-tiba seorang pria yang mengakui sebagai kawan lamaku bertamu ke rumah kami. Kami belum lama mengobrol hingga aku tidak mengingat apapun setelahnya. Aku dan Mila baru tersadar kembali setelah Dini yang pulang dari apotek menepuk punggung kami. Rupanya pria itu perampok yang menggunakan modus gendam. Dia mengambil kartu ATM, isi brangkas, serta mobilku," ungkapnya.
"Tunggu. Kalian yang menjadi korban perampokan 'bukan? Kenapa Mila yang ditangkap polisi?"
"Ceritanya tak berhenti sampai di situ. Mila yang mudah marah dan tersinggung itu menganggap security ceroboh karena membiarkan orang asing masuk ke dalam komplek perumahan kami. Dia pun menghampiri pos security. Di tempat itu dia berdebat dengan salah satu warga hingga terjadi pertengkaran. Security bernama Freddy itu pun berusaha melerai pertengkaran mereka. Namun Mila justru mendorongnya hingga terjatuh setelah sebelumnya kepalanya membentur dinding pos security. Setelah mengalami koma semalam, Freddy dinyatakan meninggal."
__ADS_1
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un. Freddy. Aku masih ingat betul nama security yang ramah dan dan jenaka itu. Dia lah yang menunjukkan rumah Fabian saat pertama kali aku mendatangi rumah itu. Dia bahkan sempat memanggilku dengan nama ibu Solehah sebelum aku meninggalkan perumahan itu. Tak ada seorang pun yang tahu sampai di mana batas usianya. Freddy, security perumahan itu meninggal saat mencari nafkah. Semoga Allah menempatkannya di sisi terindah Nya. Amiin.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada tas pakaian bayi yang dibawanya.
"Kamu mau bawa Rayyan kemana?" tanyaku.
"Entahlah. Aku sudah kehilangan segalanya. Rasanya tak sanggup jika harus membayar gaji pengasuh bayi. Mungkin aku akan mengirim Rayyan ke panti asuhan."
"Gil* kamu! Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir ingin mengirim anak kandungmu ke panti asuhan?"
"Pikiranku benar-benar sudah buntu. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kamu tahu 'kan? Bagaimana keadaan ibu. Mustahil aku memintanya untuk mengurus Rayyan. Sementara Dini juga keberatan jika harus mengurus keduanya."
Sungguh, ini sangat membingungkan. Di satu sisi aku tidak sampai hati jika Fabian benar-benar mengirim Rayyan ke panti asuhan. Pun aku sendiri juga masih harus mengurus Lyra. Belum lagi dengan pekerjaan menjahitku. Apa aku sanggup mengurus dua bayi sekaligus?
Entah mengapa tiba-tiba aku teringat nama seseorang.
"Maaf, saat ini aku belum bisa membantumu. Tapi sepertinya aku punya jalan keluar untuk masalah ini."
"Siapa yang bisa membantuku?" tanya Fabian.
"Aku akan mengajakmu bertemu seseorang. Semoga beliau bisa membantu."
Meskipun terlihat kebingungan, Fabian mengangguk setuju. Kami pun lantas menumpangi taksi yang akan mengantar kami menuju alamat itu.
"Kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanya Fabian sesaat setelah kami turun dari taksi. Kutanggapi pertanyaan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Assalamu'alaikum," sapaku pada penghuni rumah itu dari depan pintu.
Tidak berselang lama tampak seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah tersebut. Tentu saja beliau kaget melihat kedatangan kami.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…