
"Assalamu'alaikum. Lho kamu …?"
Tak hanya aku, pria itu sepertinya juga terkejut saat kembali bertemu denganku.
"Waalaikumsalam. Kee-nan …?"
"Keenan? Siapa yang kamu maksud?"
"Ka-ka-mu Keenan 'kan?"
"Aku bukan Keenan, tapi kakaknya."
"Gib-Gib-Gibran?"
"Memangnya Keenan punya berapa kakak laki-laki?" gerutunya kesal.
Penampilan Gibran yang kini berdiri di hadapanku sungguh jauh berbeda dengan Gibran yang kukenal. Tak kulihat lagi jambang di wajahnya. Cara berpakaiannya pun lebih rapi dari sebelumnya. Itulah sebabnya aku mengira jika dia adalah Keenan.
"Kamu kok ehm, …"
"Kenapa? Sekarang aku makin tampan 'bukan? Kamu pasti terpesona dengan ketampananku," ucapnya penuh percaya diri.
"Ke ge-er an banget jadi orang. Wajah kamu memang 11-12 dengan Keenan. Apalagi sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan kalian. Jadi wajar 'kan, kalau aku salah mengenalimu?"
"Ngomong-ngomong kamu tambah cantik," ucap Gibran yang sontak membuatku tersipu. Tiba-tiba aku merasa wajahku memerah.
"A-a-pa? Kamu jangan macam-macam ya."
"Loh, memangnya kenapa? Aku berkata jujur kok. Kamu sekarang terlihat lebih terawat."
"Memangnya dulu aku kucel, begitu maksudmu?"
Aku merasa gregetan. Ingin sekali rasanya mencubitnya.
"Ya, begitulah. Apa ini karena kamu sudah menikah lagi dengan pria kaya?" Gibran lantas mengamati rumahku yang berlantai dua itu.
"Zura ini belum menikah lagi. Sebenarnya kamu ini siapa? Apa kalian sudah saling kenal?" Mantan ibu mertuaku menimpali.
"Oh, aku pikir kamu sudah menikah lagi dengan pria kaya. Jadi, usaha konveksi ini milik kamu? Ckckckck. Satu kata, hebat! Dulu kamu hanya seorang penjahit rumahan, aku tak menyangka usahamu akan berkembang sebesar ini."
"Tidak usah bertele-tele. Sebenarnya apa maksud kedatanganmu ke sini? Dan siapa yang memberitahu alamat rumahku?"
"Aku tahu alamatmu dari pak Willy. Aku pun tak tahu jika "LYRA KONVEKSI" ini adalah milikmu."
"Oh, kamu kenal pak Willy rupanya."
"Ya. Dia salah satu rekan bisnisku. Oh ya, maksud kedatanganku ke tempat ini adalah aku ingin menawarkan kerjasama denganmu."
"Kerjasama?"
"Aku berencana membuka toko baju muslim. Pak Willy merekomendasikan konveksi ini untuk menjadi pemasok baju-baju yang akan kujual di toko milikku nanti," ungkapnya.
"Bukannya kamu dulu anak band? Kenapa tiba-tiba sekarang tertarik untuk berbisnis?" tanyaku penasaran.
"Tidak usah mengungkit masa laluku. Kamu hanya perlu menjawab, menerima tawaranku atau tidak."
"Ehm … nanti aku bicarakan dulu dengan bagian produksi. Sanggup atau tidak, itu tergantung mereka," ucapku.
"Oh ya, ini kartu namaku. Kamu bisa menghubungi nomorku untuk kabar selanjutnya." Gibran mengambil selembar kartu nama lalu menyodorkannya padaku.
"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi besok."
"Kenapa harus besok? Bisa kan nanti malam?"
__ADS_1
"Maksud kamu bagaimana?"
"Maaf, aku hanya bercanda. Jadi orang jangan terlalu serius. Nanti cepat tua, kena stroke, lalu mati," ucap Gibran yang sontak membuatku terkekeh.
"Kamu bisa tertawa juga rupanya."
"Hah?"
"Aku pikir perempuan sepertimu hanya bisa marah dan menangis."
Aku hanya nyengir kuda menanggapi ucapannya. Jujur, pria ini sedikit menyebalkan. Tapi entah mengapa aku justru merasa nyaman. Tunggu! Nyaman? Apa ini berarti aku mulai tertarik padanya?
Tidak! Zura … fokus. Ini tentang bisnis, bukan soal perasaan.
"Ibu, temani aku makan," ucap Lyra yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Melihat Gibran yang tengah mengobrol denganku, putri kecilku itu pun menyapanya.
"Paman Nan-Nan …"
"Astaga. Kenapa anak ini juga memanggilku Keenan?!" gerutunya kesal.
"Dia bukan paman Keenan, Sayang. Tapi paman Gibran. Saudaranya paman Keenan," ralatku.
"Paman Nanan dan paman ini kembal ya? (Lyra belum bisa menyebut huruf "R")
"Sebenarnya tidak. Tapi wajah mereka memang begitu mirip. Ibu saja tadi salah mengenalinya," ucapku.
"Oh, begitu ya."
"Assalamu'alaikum, Paman Gibran. Namaku Lyra." Putri kecilku itu mengulurkan tangan kanannya.
Meskipun terlihat sedikit ragu, Gibran menjabat telapak tangan mungil itu.
"Paman Giblan ini temannya ibu ya?" tanya Lyra. Pria itu menganggukkan kepalanya.
"Ayo, Bu. Temani aku makan siang," rengek Lyra.
"Ehm … maaf. Aku harus masuk ke dalam menemani putriku. Nanti aku akan menghubungimu."
"Baiklah, aku tunggu secepatnya. Aku pamit dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Hati-hati, Paman Giblan," ucap Lyra seraya melambaikan tangannya.
Pria itu melemparkan senyumnya pada kami. Senyum itu tak berubah, begitu manis.
"Ibu … ayo kita masuk."
Aku tersentak kaget saat Lyra menarik tanganku.
"I-i-iya, Sayang. Mari, Bu."
Aku merangkul pundak mantan ibu mertuaku lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk kemudian mengajaknya makan siang bersamaku, Lyra, dan ibu kandungku.
"Bi, tolong ajak Lyra ke kamar untuk tidur siang," ucapku pada Bi Ami, asisten rumah tanggaku usai kami makan siang.
"Baik, Bu."
"Lyra bobok siang dulu ya, Sayang," ucapku sembari mengecup keningnya.
"Ya, Bu." Bi Ami menggandeng tangan Lyra kemudian mengajaknya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
__ADS_1
"Ibu ke belakang dulu, mengawasi karyawan," ucap ibu.
"Tunggu, Bu. Ada hal yang ingin kubicarakan."
"Soal konveksi?"
"Bukan."
"Lantas?"
"Ini tentang kak Maureen."
"Maureen? Kenapa kamu tiba-tiba menyebut namanya?" Ibu mengerutkan keningnya.
"Kak Maureen masih hidup, Bu. Dia selamat dari peristiwa kebakaran itu."
"Apa?! Kamu tahu sendiri 'bukan? Malam itu hanya kita berempat yang berhasil keluar dari rumah saat kebakaran terjadi. Maureen terkunci di dalam kamarnya."
"Ternyata Kak Maureen berhasil keluar dari kamarnya," ucapku.
"Memangnya di mana kamu bertemu dengannya?" tanya ibu.
"Di Lembaga pemasyarakatan siang tadi."
"Kenapa Maureen dipenjara? Memangnya apa yang sudah ia perbuat sampai berurusan dengan hukum?"
"Sebenarnya … ehm, …"
"Sebenarnya apa?"
"Kak Maureen adalah Karmila."
"Hah?!" Ibu yang tengah mengupas buah apel itu nyaris menjatuhkan pisaunya.
"Kamu pasti bercanda."
"Aku serius, Bu. Karmila ternyata kak Maureen. Aku yakin setelah ia memperlihatkan tanda lahir di bagian tengkuk lehernya. Kak Maureen sempat mengambil buku tabungan milik ayah dan sebagian perhiasan milik ibu untuk melakukan operasi pada bagian wajahnya yang terluka parah karena peristiwa kebakaran itu," ungkapku.
"Kurang ajar! Jadi, Maureen orangnya yang sudah mengobrak-abrik rumah tanggamu? Dia yang sudah menggoda Fabian hingga akhirnya kalian bercerai?"
Tiba-tiba ibu beranjak dari tempat duduknya.
"Ibu mau kemana?" tanyaku.
"Ibu akan membuat perhitungan dengan anak kurang ajar itu!" serunya.
"Jangan, Bu!" pekikku sembari menarik lengannya namun ibu tak menghiraukanku.
"Bu Sabrina, jangan bertindak gegabah. Semua bisa kita bicarakan baik-baik." Mantan ibu mertuaku menimpali.
"Dia sudah membuat hidupmu hancur! Ibu tidak akan tinggal diam!" Ibu menepis tanganku lalu beranjak meninggalkan meja makan.
"Ibu! Tunggu!" teriakku.
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
__ADS_1
Happy reading…