Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Jalan takdir


__ADS_3

Aku menepis kasar tangan pria berbadan kekar itu hingga membuatnya hilang keseimbangan. Yang terjadi berikutnya adalah Joni terjatuh dari atas atap hingga ke lantai dasar.


"Ben! Tangkap gadis itu!" Jangan biarkan dia kabur!" seru mama Lucy yang sedari menonton adegan menegangkan ini di bawah sana.


Giliran Ben berjalan mendekat ke arahku. 


Tidak! Aku tidak boleh tertangkap!


Aku pun lantas memandang ke arah sungai. Dari pantulan rembulan yang  bersinar separuh, tampak arus sungai malam itu tidak terlalu deras. Mungkin ini lantaran sudah cukup lama tidak pernah turun hujan.


Sedikit lagi pria bertato itu berhasil menjangkau lenganku. Di saat itulah aku memutuskan nekad melompat ke sungai.


"Byur!" Aku yang mengenakan gaun malam berwarna hitam selutut kini telah basah kuyup. Beruntung kepalaku tak membentur batu berukuran cukup besar itu. Hanya kakiku saja yang sedikit terluka lantaran menginjak batu kerikil. Aku merasa begitu lega. Setelah sekian lama terjebak di tempat hiburan malam, akhirnya aku bisa pergi meninggalkannya.


Kuedarkan pandanganku di sekitar sungai. Begitu gelap, sepasang netraku nyaris tak bisa melihat apapun. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berusaha pergi dari tempat itu. 


"Aw!" Aku sontak berjingkat lantaran merasa kakiku menginjak sesuatu di bawah sana. Kupikir itu benda yang sedikit lunak itu hanyalah seekor kadal ataupun katak. Namun, aku salah. Tidak berselang lama setelah aku menginjak benda itu, aku mendapati sesuatu yang muncul dari dalam air. Rupanya yang kuinjak tadi adalah ekor buaya.


Aku berusaha setenang mungkin agar makhluk amfibi berukuran cukup besar itu tak menyerangku. 


"Maaf, saya tidak sengaja," ucapku. Terdengar konyol memang, berbicara dengan binatang. Aku memang bukan Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan binatang. Tapi yang kulakukan kali ini tidak lain agar membuat diriku sedikit lebih tenang.


"Jangan sakiti saya ya, Pak Buaya," ucapku. Padahal aku tak tahu buaya itu jantan atau betina.


Kuangkat kaki ini perlahan dari dalam air agar buaya itu tidak terusik. Awalnya buaya itu memang tak membuat gerakan. Sepasang matanya yang besar itu hanya memandangku saja. Aku pun mempercepat gerakanku agar lekas terlepas jadi 'tawanan' buaya tersebut. Namun, hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba buaya itu membuka mulutnya begitu lebar dan hap! Kaki kananku berhasil digigitnya.


"Tuhan, apakah ini akhir dari hidupku?"


ucapku dengan suara bergetar. Keringat dingin pun kini telah mengalir begitu deras membasahi tubuhku.


Aku mendongakkan wajahku atas, lantas ku berujar "Siapa pun yang menolongku terlepas dari buaya ini. Jika dia perempuan akan kujadikan saudaraku. Dan jika dia laki-laki, aku bersedia mengabdikan sisa hidupku untuknya."


"Tolong! Tolong!" teriakku sembari berusaha melepaskan kakiku dari cengkraman rahang buaya itu. Sepertinya buaya ini tidak benar-benar lapar. Dia hanya ingin mengajakku bermain. Tapi, kalau main nya begini, siapa juga yang mau? Bagaimana jika binatang buas itu tiba-tiba merobek kakiku dengan gigi taringnya? Lalu dia akan memakan bagian tubuhku yang lain. Bisa kupastikan besok pagi fotoku akan menghiasi beranda surat kabar dengan judul "Sesosok mayat perempuan ditemukan di dekat sungai X dengan kondisi tubuh tidak utuh lagi"


Amit-amit…membayangkannya saja aku tidak sanggup.


"Tolong! Siapapun tolong saya!" jeritku lagi.


Perlahan kudengar suara sepeda motor mendekat ke arah sungai ini. Semoga sepeda motor itu memang lewat sini.


"Tolong! Pak! Bu! Mas! Mbak!"


Sepertinya Tuhan mendengar doaku. Sepeda motor itu benar-benar tengah melaju mendekati tempat ini. Aku memicingkan mataku saat lampu depan kendaraan itu menyorot ke arahku.

__ADS_1


"Tolong saya!" teriakku.


"Kenapa, Mbak?" tanyanya.


Jika kudengar dari suaranya, pengemudi sepeda motor itu seorang laki-laki. Semoga dia ganteng dan masih lajang. He he he.


"Kaki saya!"


"Kenapa kakinya?"


"Astaga. Lihat tuh ke bawah sana. Ada buaya sedang menggigit kaki kananku."


"Astaghfirullah!" 


Pengemudi sepeda motor itu terperanjat saat mendapati seekor buaya tengah menggigit salah satu kakiku. Sementara aku duduk di bantaran sungai. 


"Mbak jangan bergerak! Biar saya mencari sesuatu untuk mengganjal mulutnya."


"Dari tadi aku memang gak bisa gerak," gerutuku.


Pengemudi sepeda motor itu pun lalu mengambil ponsel dari dalam tas miliknya. Dia lantas menghidupkan lampu senter dan untuk mencari batang kayu di sekitar sungai. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya dia menemukan batang kayu berukuran cukup besar yang hanyut di tepi sungai. Mungkin seukuran paha kakiku.


"Pada hitungan ke tiga, tarik kaki Mbak," ucap pria yang belum kuketahui namanya itu. Aku mengangguk paham.


"Mbak nggak apa-apa 'kan?" tanyanya sembari mengarahkan cahaya senter ponselnya ke arahku. Sejenak netra kami bersitatap. Sumpah demi apapun, wajah laki-laki ini begitu tampan. Sepertinya dia adalah pria paling tampan yang pernah kutemui seumur hidupku.


"Mbak nggak apa-apa 'kan?" 


Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya.


"Ehm… nggak apa-apa kok. Hanya lecet sedikit."


Laki-laki yang belum kuketahui namanya itu pun lantas mengarahkan cahaya senter ponselnya ke arah kakiku.


"Lecet sedikit gimana, Mba? Lukanya cukup parah. Jika tidak segera diobati, nanti bisa infeksi."


"Nggak apa-apa, Pak. Nanti saya obati sendiri. Terima kasih." 


Aku pura-pura terlihat kuat di hadapan laki-laki itu dan hendak beranjak dari hadapannya. Ternyata aku salah, luka di bagian yang kuanggap sepele ini benar-benar terasa menyakitkan. Jangankan berjalan, mengangkatnya saja aku kesulitan. Terpaksa kuminta bantuannya untuk berdiri.


"Rumah Mbak di mana? Mari saya antar pulang."


"Rumah?"

__ADS_1


"Iya, rumah. Gigitan buaya itu tidak membuat Mbak amnesia dan lupa jalan pulang 'kan?" ledeknya.


Kemana aku harus pulang? Tidak mungkin aku kembali ke tempat hiburan malam itu.


"Kenapa Mbak diam saja?" tanyanya lagi.


"Saya-saya tidak punya tempat tinggal," jawabku.


"Jadi, selama ini Mbak tinggal di mana?"


"Saya-saya, ehm, …"


Bagaimana ini? Kalau aku mengaku tempat tinggalku dulu di klub malam, bisa-bisa dia ilfil denganku.


"Rumah saya terbakar, Pak."


Jawaban yang tepat 'bukan? Rumahku memang terbakar beberapa tahun yang lalu. Hehehe.


"Astaghfirullah. Jadi Mbak tidak punya tempat tinggal?" tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.


Laki-laki itu tampak berpikir sejenak.


"Ini sudah hampir jam sebelas malam. Bagaimana kalau Mbak ikut saya pulang ke rumah saja? Biar lukanya diobati ibu saya."


"Ehm, saya-saya…"


"Saya tidak bermaksud buruk, saya justru ingin menolong Mbak."


Meskipun awalnya ragu, akhirnya aku mengangguk setuju dan mengiyakan tawarannya untuk pulang ke rumahnya.


"Oh ya, nama Mbak siapa?" tanyanya.


"Zura…Azzura."


"Kenalkan, nama saya Fabian," ucap laki-laki itu sembari mengulurkan tangan kanannya.


Bagaimana ceritanya Azzura dan Fabian akhirnya bisa menikah? Simak terus ya…


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2