Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hampa


__ADS_3

Sedari tadi siang aku hanya mengurung diri di dalam kamar. Untuk ibadah sholatku saja aku memilih melaksanakannya secara sendirian, tidak dengan berjamaah seperti yang sehari-hari kulakukan bersama keluargaku. Aku tahu ini tidak benar, tapi yang kuinginkan saat ini aku sedang ingin menyendiri tanpa bertemu siapapun.


"Ibu … " Suara Fina terdengar dari depan pintu kamarku.


"Masuklah."


Fina pun lalu masuk ke dalam kamarku. Di tangannya tampak sebuah nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat.


"Ibu makan dulu," ucapnya.


"Aku tidak lapar."


"Kalaupun Ibu puasa, Ibu sudah harus membatalkan puasa sedari Maghrib tadi 'bukan?"


"Di mana Lyra? Apa dia sudah makan?" tanyaku.


"Bu Sabrina sedang menemaninya di dalam kamarnya. Dari tadi dia terus menanyakan kenapa mas Gibran tidak datang ke rumah ini."


Entah mengapa ucapan Fina membuat air mataku kembali tumpah.


"Ma-ma-af, Bu. Aku tidak bermaksud mengingatkan Ibu pada, …"


"Tidak apa," ucapku seraya menyeka buliran bening itu dari pipiku.


"Aku paham, mungkin saat ini Ibu sedang ingin sendiri. Aku keluar dulu, jangan lupa makanannya dihabiskan. Aku memasaknya dengan bumbu cinta dan kasih sayang."


Fina berusaha membuatku tersenyum, namun untuk saat ini sungguh berat bagiku untuk melakukannya.


Kuraih ponselku, lantas kubuka album foto dari galeri. Aku tak menyangka, panggilan video kemarin siang menjadi saat terakhirku melihat senyum sumringah di wajahnya. Dada ini pun kembali sesak. Sesakit inikah rasanya kehilangan orang yang kita cintai?


"Kamu sudah tidur, Nak?" Kali ini suara ibu terdengar dari depan pintu kamarku.


"Belum, Bu."


Ibu masuk ke dalam kamarku lalu duduk di tepi ranjang.


"Kenapa nasi gorengnya tidak dimakan? Fina sudah susah payah membuatnya."


"Aku tidak lapar."


"Seharian ini perutmu kosong. Ingat, belum lama ini kamu baru menjalani operasi usus buntu. Dokter berpesan untuk menjaga pola makanmu 'bukan? Memangnya kamu mau penyakit itu kambuh lagi?"


Aku tidak menanggapi ucapan ibu. Pandanganku tak beralih sedetik pun dari layar ponselku.


"Ibu paham betul bagaimana rasanya kehilangan, tapi ibu tidak setuju jika kamu menyiksa diri begini. Makanlah walaupun sedikit." Ibu meraih piring berisi nasi goreng yang sudah mulai dingin itu lalu mencoba menyuapiku. Aku menggelengkan kepalaku, sama sekali tak ada selera makan.


"Apa perlu ibu panggil pak Amin untuk menyuapimu?" Kali ini ucapan ibu berhasil membuatku tersenyum tipis.


"Buka mulutmu, aaaaa," titah ibu layaknya menyuapiku saat aku masih kecil dulu.


Aku membuka mulutku perlahan.


Suapan pertama pun mendarat di dalam mulutku.


"Huah! Huah! Minum! Minum!"

__ADS_1


"Kamu kenapa, Nak?"


"Pedas! Pedas!"


Ibu lantas meraih gelas berisi teh hangat lalu memberikannya padaku. Aku yang tengah kepedasan pun bergegas mengosongkan isi gelas itu.


Entah berapa banyak cabe yang dimasukkan Fina ke dalam nasi goreng ini hingga membuat lidahku terasa terbakar.


"Apa pedas sekali makanannya?" tanya ibu. Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban.


"Fina … Fin," panggil ibu.


Tidak lama kemudian Fina masuk kembali ke dalam kamarku.


"Ada apa, Bu?" tanyanya.


"Kenapa kamu membuat nasi goreng sepedas ini untuk Zura?" cecarnya.


"Ma-ma-af, Bu. Aku hanya ingin membuat mood Ibu membaik. Setahuku makanan pedas bisa memperbaiki mood," papar Fina.


"Mood membaik tidak, mulas iya. Sudah, kamu bawa makanan ini ke dapur," ucap ibu.


"Ibu mau kubelikan sesuatu?" tanya Fina.


"Tidak usah, lagipula ini sudah malam, tidur lah. Besok kamu sekolah 'bukan?"


"Sekali lagi aku minta maaf, Bu."


Aku mengulas senyum.


Fina mengambil piring berisi nasi goreng super pedas itu, ia lantas meninggalkan kamarku.


"Ada-ada saja. Orang lagi sedih malah mau dibikin mencreeet!" umpat ibu.


"Sudahlah, Bu. Tidak apa. Aku tahu maksud Fina baik."


Suasana hening sejenak.


"Bu, …"


"Ya. Ada apa?"


"Mungkin aku belum pernah bercerita pada Ibu tentang mimpi yang belakangan ini sering kualami."


"Memangnya kamu mimpi apa?"


"Beberapa waktu yang lalu aku bermimpi bertemu ayah. Di mimpi itu ayah mengajakku bertemu seorang pria."


"Siapa pria itu?" tanya ibu.


"Entahlah, wajahnya begitu samar, tapi seingatku ayah mengatakan jika pria itu lah yang akan menjadi penyembuh lukaku, dan semalam pria itu kembali muncul dalam mimpiku. Dia menggandeng tanganku saat aku dan Lyra kebingungan mencari jalan pulang sesaat setelah Gibran pergi meninggalkan kami di taman," ungkapku.


"Jangan terlalu dipikirkan, mimpi hanya bunga tidur," ujar ibu.


"Tapi, Bu. Kemarin aku bermimpi Gibran pergi meninggalkanku dan Lyra, ternyata itu sebuah firasat buruk jika dia benar-benar akan pergi untuk selama-lamanya."

__ADS_1


"Mungkin hanya kebetulan saja, tidak usah kamu pikirkan. Jadi, kamu mau makan apa? Biar ibu yang masak buat kamu."


"Ehm … pecel, Bu.


"Ternyata dari dulu makanan itu masih menjadi makanan kesukaanmu. Ya sudah, ibu buatkan dulu, tapi janji, kamu harus memakannya."


"Iya, Bu."


Ibu pun beranjak dari kamarku kemudian menuju dapur.


Cukup lama ku menunggu, namun ibu tak kunjung kembali. Rasa kantuk pun tiba-tiba saja menyerangku. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Perlahan kututup mata ini hingga suatu ketika aku berada di taman yang begitu luas. Di sana seorang pria yang begitu kukenal tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun berjalan menghampirinya. Ya, pria itu adalah Gibran yang nyaris menjadi imamku, namun Allah lebih sayang padanya.


"Assalamu'alaikum," sapanya.


"Waalaikumsalam. Kenapa kamu pergi? Mana janjimu untuk membahagiakanku dan Lyra?"


Gibran mengulas senyum.


"Kamu tidak perlu khawatir, Allah sudah menyiapkan penggantiku. Dia pasti bisa membuatmu dan Lyra bahagia."


"Apa maksudmu? Siapa pria yang menggantikanmu?" tanyaku.


"Pria itu tidak jauh darimu, bahkan cukup dekat denganmu."


"Siapa?"


"Kamu sudah tahu jawabannya."


Perlahan Gibran menjauhiku hingga akhirnya benar-benar menghilang."


"Gibran! Tunggu! Gibran!" teriakku.


Aku terperanjat saat tiba-tiba seseorang mengguncang tubuhku.


"Zura! Bangun, Nak," ucap ibu. "Kenapa kamu teriak-teriak begitu?"


"Tidak apa, Bu."


"Pecel yang kamu minta sudah ibu buatkan. Kamu makan dulu."


"Baik, Bu, terima kasih."


"Ya sudah, ibu mengantuk, mau ke kamar dulu."


Ibu pun lantas meninggalkan kamarku.


Apa sebenarnya makna mimpi itu? Siapa pria yang dimaksud Gibran? Bukankah selain dirinya, pria yang dekat denganku hanyalah adiknya, Keenan? Apa mungkin dia orangnya? Mimpi ini hanyalah bunga tidurku ataukah justru sebuah petunjuk?


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2