
*Flash back on*
Di ruangan remang itu terdengar suara musik yang begitu memekakan telinga. Beberapa pasangan terlihat tengah asyik berjoget mengikuti irama. Tidak jarang gerakan wanita yang sebagian besar adalah rekan se profesiku itu mengundang syah*t bagi para lelaki. Ya, inilah aku dan masa lalu kelamku. Tempatku bekerja adalah sebuah tempat hiburan malam atau nama modern nya diskotik.
Bagi sebagian orang, tempat itu adalah sarang dosa dan maks*at. Namun, bagiku tempat itu adalah sumberku untuk bertahan hidup.
Mama Lucy, begitu lah nama perempuan yang memperkenalkanku pada dunia hitam ini. Lebih tepatnya aku "terjebak" dengan rayuan manisnya. Pada awalnya perempuan berdarah Jawa-Sunda itu menawarkan pekerjaan untuk bekerja di sebuah restoran. Tugasku di sana hanyalah mengantarkan pesanan ke meja pembeli. Tentu saja aku yang saat itu baru saja lulus SMA dan kehilangan tempat tinggal sekaligus keluargaku, menganggap tawaran itu adalah sebuah pertolongan. Aku pun mengiyakan tawaran tersebut. Namun, semuanya hanyalah omong kosong. Mama Lucy tidak benar-benar mempekerjakanku sebagai pelayan restoran, melainkan sebagai pelayan di tempat hiburan malam. Aku sempat beberapa kali berusaha melarikan diri dari tempat terkutuk itu, namun selalu gagal lantaran anak buah mama Lucy selalu berhasil menangkapku.
"Kamu lihat laki-laki yang di sebelah sana itu. Namanya Simon. Uangnya banyak. Bahkan dia bisa membeli tempat ini beserta isinya," ucap mama Lucy padaku di sela dentuman suara musik yang begitu nyaring.
"Dari semua "anakku", dia hanya tertarik denganmu. Saya ingin kamu menemaninya malam ini di kamar khusus VIP."
"Tapi, Ma. Dari awal 'kan aku sudah bilang, aku tidak akan pernah melayani pengunjung hingga ke kamar, apalagi, …"
"Kamu ini suka sekali membantah. Sudah lah, anggap saja ini penghargaan dari Simon. Jarang-jarang dia memesan secara pribadi teman kencannya," potong mama Lucy.
"Tidak!" tegasku.
"Berani sekali kamu melawan. Ucapanku adalah perintah!"
"Aku masih punya harga diri. Laki-laki yang akan menyentuh tubuhku hanyalah suamiku."
Aku berlalu dari hadapan mama Lucy, namun dia menahanku.
"Joe! Ben!" serunya.
Nama-nama yang dipanggil itu adalah dua anak buah mama Lucy yang bertugas mengawasi tempat ini sekaligus menangkap jika ada "anak" nya yang berusaha kabur.
__ADS_1
"Bawa gadis pembangkang ini ke dalam kamar VIP!" serunya.
"Siap!"
Kedua pria bertubuh kekar itu pun lantas mencengkram kedua lenganku kemudian menyeretku paksa menuju kamar VIP yang berada di lantai dua. Usahaku melepaskan diri dari cengkeraman mereka sama sekali tak membuahkan hasil. Semakin aku meronta, mereka justru semakin kuat mencengkram lenganku.
"Masuk! Dan jangan coba-coba kabur!" seru pria bernama Joe sambil mendorong tubuhku dengan kasar hingga aku terjatuh tepat di atas ranjang.
"Jangan kurung saya di sini!" jeritku.
Tentu saja keduanya tak menghiraukanku. Mereka lekas menutup kembali pintu kamar itu. Bisa kudengar suara saat pintu itu dikunci dari luar.
"Buka! Tolong!" teriakku sembari menggedor pintu dengan kedua tanganku.
Tidak! Aku tidak akan akan membiarkan Sony menyentuhku! Aku harus kabur dari kamar ini bagaimana pun caranya.
Kuedarkan pandanganku di kamar yang telah ditata menyerupai kamar tidur bangsawan itu hingga pandanganku tertuju pada sebuah kaca jendela yang berada di sudut ruangan. Kurasa hanya itulah satu-satunya jalan keluar dari kamar ini. Aku menyibak tirai berwarna maroon itu. Sial! Kaca jendela ini tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Jika hanya kaca saja, aku bisa dengan mudah memecahkannya dengan kursi rias. Namun, kaca jendela itu sudah diteralis besi.
Tubuh ini tiba-tiba gemetar diserang ketakutan yang luar biasa melebihi rasa takut saat rumahku terbakar dulu.
Sekali lagi kuedarkan pandanganku di kamar itu hingga akhirnya aku berpikir untuk menjebol plafon di dalam kamar ini. Terdengar nekat memang, tapi hancya itulah harapan terbesarku untuk bisa keluar dari kamar yang menakutkan ini.
Aku berpikir keras, bagaimana caranya menjangkau plafon yang cukup tinggi itu. Lekas kucari sesuatu di dalam laci meja rias. Barangkali ada senjata tajam yang diletakkan di dalam sana. Kali ini keberuntungan berpihak padaku. Di dalam salah satu laci meja rias itu aku menemukan sebuah pisau lipat berukuran cukup besar. Kurasa benda ini bisa menembus plafon yang ukurannya tidak terlalu tebal itu. Tapi, bagaimana caraku menjangkaunya?
Sepertinya teori yang menyebutkan jika otak bisa berpikir lebih cepat saat keadaan terdesak itu benar. Meja rias dan kursi ini pasti cukup untuk menjangkau plafon tersebut.
Entah darimana kekuatan itu datang. Aku yang nyaris tidak pernah mengangkat barang berat tiba-tiba sanggup memindahkan meja rias berukuran cukup besar itu ke atas ranjang. Meja itu pun lalu kutimpa dengan kursi di bagian atasnya. Perhitunganku tepat. Dengan meja dan kursi rias itu aku berhasil menjangkau plafon.
__ADS_1
Lekas kutancapkan pisau lipat itu ke atas sana lalu membuat lubang yang sekiranya muat untuk kumasuki. Aku tak peduli lagi pada keringat dingin yang mengalir deras di sekujur tubuhku. Perjuanganku kali ini adalah perjuangan demi menyelamatkan harga diri dan kehormatanku.
Setelah berusaha keras berjuang menjebol atap plafon itu, akhirnya aku berhasil keluar dari kamar itu. Namun, perjuanganku belum berakhir di sana saja. Kini aku tengah berada di atas atap rumah dengan ketinggian lebih dari lima meter. Kupejamkan mataku melawan rasa takut pada ketinggian yang kualami sedari kecil.
Kulangkahkan kakiku perlahan menyusuri atap rumah itu. Di saat itulah hal tak terduga terjadi. Entah bagaimana, salah satu kakiku terpeleset hingga membuat tubuhku terjatuh dan menimpa atap di lantai dasar. Tentu saja kegaduhan yang kubuat menimbulkan kepanikan bagi para pengunjung di tempat hiburan ini. Mereka sontak berhamburan keluar dan melayangkan pandangan ke arahku.
"Joe! Ben! Tangkap gadis itu! Jangan sampai dia kabur!" teriak mama Lucy.
Kedua pria itu pun lantas mengambil tangga besi dan berusaha naik ke atap rumah tempatku kini berdiri.
"Jangan mendekat! Atau aku akan melompat!" ancamku.
"Kamu jangan nekat! Kamu bisa mati kalau melompat ke dalam sungai itu!" seru mama Lucy.
Ya, di bagian belakang tempat ini memang ada sungai yang aliran sungainya cukup deras. Tak jarang kudengar cerita orang meninggal karena hanyut terbawa arus sungai tersebut.
"Kalaupun harus mati, aku bangga mati karena berjuang mempertahankan kehormatanku!" seruku.
Joni dan Ben kini telah berhasil naik ke atap rumah. Tentu saja mereka ingin menangkapku dan menyerahkanku sebagai tumbal keserakahan mama Lucy.
"Jika kalian mendekat, aku akan melompat!" seruku.
Joni bergeming. Dia bahkan telah meraih salah satu lenganku.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
__ADS_1
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰